
...πππ...
Naira menarik lengan baju Pram, "Ka, ini prosesi pemakaman atau ajang konferensi pers? Kenapa banyak media?" Tanya Naira dengan melirik area pemakaman yang banyak di hadiri oleh pelayat berdasi, orang orang penting di perusahaan dan ada beberapa paparazi, pemburu berita.
"Itu namanya pemburu berita, ingat pesan ku kan! Jangan jauh jauh dari ku." Pram mengecup jemari Naira yang berada dalam genggamannya, mereka pasti akan mencari tahu tentang mu, Nai!
"Apa hubungannya dengan ku, ka?"
"Mereka pasti akan memburu mu sebagai bahan berita, kau tahu sekarang ini kau sedang bersama dengan siapa?" Tanya Pram dengan sorot mata yang teduh menatap Naira.
"Hehehe iya aku lupa."
Ratna yang sedari tadi memperhatikan tingkah Naira menaruh curiga pada sikap Naira dan juga lelaki dewasa berjas hitam yang berdiri di samping Naira, apa itu cowoknya Naira? Atau jangan jangan itu Naira simpenan om om itu? Waaah berita bagus nih buat di sekolah.
Diam diam Ratna mengambil foto Naira dengan Pram yang berada persis di depannya hanya terhalang dengan pusara Widia yang kini sudah dalam liang lahat.
Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar. Para pelayat satu persatu meninggalakan pemakaman begitu pun dengan Pram dan Naira yang akan meninggalkan pemakaman.
Grep.
Daren langsung memeluk Pram, "Terima kasih karena kau sudah mau menghadiri acara pemakaman ibu ku, ka!" Seru Daren.
Bukan hal aneh jika Daren tahu hubungan buruk yang ada di antara Pram dan Widia, Daren sepenuhnya menyadari kesalahan Widia, karena Widia menceritakan pada Daren di saat Widia dalam pengaruh minuman beralkohol alias mabuk, jika Widia lah yang telah menghabisi Prita, istri pertama Aji.
Namun Prita enggan memberitahu pada Daren sosok Pram, Pram yang memang sejak di taruh di pesantren dan di kuliahkan hingga ke luar negeri, tidak sekali pun pernah di jenguk oleh Widia, rasa iri yang sudah menjalar pada hati Widia akan bahagianya rumah tangga Prita membutakan mata hatinya untuk Pram, sosok bocah yang telah ia rebut harta dan ayahnya dan di habisi nyawa Prita ibu kandung Pram.
Pram membalas pelukan Daren dengan satu tangannya yang menepuk nepuk punggung Daren dengan lembut, "Sama sama, jika butuh sesuatu... katakan saja pada ku!" Seru Pram. Sedangkan tangan yang satunya Pram genggam erat jemari Naira.
"Pasti." Daren merenggangkan pelukannya pada Pram.
Daren menatap Naira dengan sedih, "Nai!" Daren berseru pada Naira, ingin rasanya gw dapat pelukan hangat lo Nai!
Pram yang dapat mendengar isi hati Daren langsung menjawabnya dengan ketus, "Jangan mimpi!" Tangan Pram mendorong dada Daren, Pram pergi meninggalkan pusara bersama dengan Naira.
Daren melongo di buatnya, perasaan dalam hati gw ngomong kenapa jadi ka Pram yang jawab seakan dia bisa mendengar isi hati gw.
"Gw duluan ya, Daren! Maafin ka Pram!" Seru Naira pada Daren dengan menoleh ke belakang menatap Daren dari balik kaca mata hitam yang menutupi sepasang mata cantiknya.
Beberapa pemburu berita langsung mengerubungi Pram dan Naira, mencegah jalan ke duanya yang akan kembali ke mobil sedan mewah berwarna putih.
"Maaf Tuan Pram! Boleh minta waktunya sebentar?"
"Iya, Tuan... kami minta waktunya sebentar saja!"
"Tuan, Nona ini apa wanita yang akan mendampingi anda?"
__ADS_1
"Apa wanita ini salah satu kekasih anda, Tuan?"
"Nona, Nona namanya siapa Nona?"
"Ada hubungan apa Nona dengan Tuan Pram?"
Haikal dan beberapa pengawal lainnya dengan gagah berani menerobos para pemburu berita yang memang sudah menunggu sejak tadi, memberi jalan untuk Nona Muda nya dan Pram untuk sampai ke dalam mobil.
"Tuan, apa benar itu adalah calon istri Tuan Pram?"
"Maaf ya, nanti tunggu konferensi pers dari Tuan Pram itu sendiri!" Seru Haikal yang menjawab sebuah pertanyaan para wartawan itu sendiri.
Naira dan Pram berhasil masuk ke dalam mobil, mobil melaju meninggalkan pemakaman dengan di ikuti 2 mobil yang berada di depan di belakang mobil yang di tumpangi Naira.
"Wiiih ka Pram keren, jadi artis. Di liput media nih pasti ka!" Terang Naira yang kini duduk bersandar pada lengan kekar Pram dan satu tangannya melingkar di perut Pram yang sispeck berselimutkan pakaian yang tengah Pram kenakan.
"Apa mau langsung kembali ke rumah, pak?" Tanya Haikal dengan melirik kaca spion mobil.
"Iya, kita kembali saja ke rumah." Ujar Pram dengan memainkan anak rambut Naira.
"Jadi ka Pram itu kaka beradik dengan Daren?" Naira mendongakkan wajahnya menatap Pram.
Dengan tangannya Pram membuka kaca mata hitam yang di kenakan Naira dan membuka masker mulut yang menutupi setengah wajah cantiknya.
"Ka, ih jawab... aku lagi nanya nih!" Naira mencubit gemas perut Pram.
"Maaf, pak! Akan saya tambah ke kecepatannya."
Haikal menekal tombol pada aerphon yang terpasang pada telinganya, "Beri mobil bos jalan!" Seru Haikal.
Mobil yang berada di depan langsung memberi jalan untuk mobil yang tengah di kemudian Haikal.
Haikal mengemudikan nya seceoat kilat, dengan lincahnya Haikal menyalip dan mendahului kendaraan yang ada di depan nya.
"Haiiii, gila kali ini bang Haikal! Inget bawa orang ini!" Seru Naira dengan suara berteriak dengan kedua tangan yang memeluk erat tubuh Pram dan menyembunyikan wajahnya di dada Pram yang bidang.
Pram menyeringai melihat tingkah Naira, dengan tatapan mata yang tajam, tangan besarnya memeluk tubuh mungil Naira.
"God job, Haikal! Akan ku beri kau bonus jika dalam waktu singkat bisa sampai di rumah." Ujar Pram dingin namun tegas.
"Tenang saja, pak!" Haikal semakin tertantang untuk memacu lebih kencang mobil sedan berwarna putih mewah.
"Kaka ih, jangan ikut gila! Aku gak mau loh mati konyol!" Naira semakin erat memeluk tubuh Pram, rasa gemas membuatnya ingin menggigit dada Pram yang harum memabukkan.
"Hahahaha, siapa suruh kau terus membahas bocah tengik itu, sayang." Satu tangan Pram membelai rambut panjang Naira.
__ADS_1
Greet.
πDi pemakamanπ
"Kita juga pamit ya, Daren!" Seru Serli.
"Yang tabah, bro!" Seru Juni.
"Lo kuat, bro!" Seru Novi.
Yang lain ikut menyalami dan menguatkan hati Daren.
Ratna ikut memberikan pelukan pada Daren, "Gw akan selalu menunggu lo, Daren!" Apa pun buat bisa dapetin lo, secara lo masih muda, umur lo dan gw gak jauh beda, pasti gw akan bahagia tanpa harus ke kurangan jika bisa berdampingan dengan lo.
πDi kediaman Pramanaπ
Haikal membukakan pintu mobil untuk Tuannya Pram.
Pram ke luar dari dalam mobil dengan memanggul tubuh Naira yang terus meronta ronata.
"Ka, lepas ka! Ka iiiih, aku mau turun aja, aku bisa jalan ka! Pak Dedi, tolongin dong! Kenapa kalian pada diem aja sih!" Naira memukul mukul punggung Pram dengan ke dua tangannya, meminta bantuan pada Dedi saat Naira melihatnya.
Dedi yang berdiri di depan pintu rumah di buat bingung melihat Naira dan Pram.
Dedi bertanya pada Haikal, "Ada apa dengan, Nona?"
"Biasa, Nona Muda lagi berulah minta di sayang sama bos!" Haikal beranjak ke paviliun.
Dedi geleng geleng kepala melihatnya, "Yah kalo begitu saya tidak bisa berbuat apa apa, Nona!" Sudah tau Tuan Pram pencemburu akut. Pasti Nona menyebut satu nama pria hingga Tuan meradang.
Pram tidak menghiraukan seruan, rengekan Naira, dengan langkah pasti Pram membawa Naira masuk ke dalam lift.
"Ka Pram, ih turun aku bisa jalan sendiri! Dasarrr rubahhh tua!!! Rubahhh mesummm! Turun ih!" Naira menggerak gerakkan kaki jenjangnya.
"Semakin kau bertingkah, hukuman mu akan bertambah!" Seru Pram dengan tegas dengan menyeringai.
Ting.
Pram melangkah ke luar dari lift dan menuju kamarnya.
"Astaga, kapan aku buat salah sih ka!"
...π Bersambung π...
...πππππ...
__ADS_1
Salam manis author gabut π
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen ππ