Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Toko hape 2


__ADS_3

...💖💖💖...


Mata karyawan hape itu terkejut mendengar perkataan ku, gila pak Pram ini tega membiarkan istrinya di sentuh pria hidung belang? Suami macam apa pak Pram ini?


"Tentu saja, mana mungkin ku biarkan istri ku yang mungil, imut, manis seperti ini ku biarkan pria lain menjamah mu?" Pak Pram menowel hidung ku yang mancul dengan jari telunjuknya.


"Jadi tadi bapak mengerjai ku? Bapak membohongi ku?" Ku tatap tajam wajahnya yang sok imut itu dengan bibir ku yang mengerucut.


Pak Pram hanya menarik sudut bibirnya ke atas yang malah memancing ku esmosi.


Bugh.


Ku pukul dadanya yang bidang dengan tangan kanan ku yang mengepal, "Ngeselin banget sih, rubah tua!"


Pak Pram mengunci tangan ku dengan menggenggamnya erat, Dasar anak ini, jadi tadi dia benar benar berfikir aku akan membiarkannya di sentuh pria hidung belang? Dasar pemikiran yang bodoh, apa tadi dia bilang? Aku rubah tua? Besar juga nyalinya ya!


Deheman karyawan toko membuat aku dan pak Pram menoleh ke arahnya.


Maklum deh ya, lagi sengitnya berdebat sampe lupa kalo aku ini masih di dalam toko hape dan melupakan si embak karyawan yang sedari tadi memperhatikan tingkah kami.


"Ehem ehem, maaf Nona dan Tuan ... jadi mau pilih hape yang mana untuk anda pilih?"


Pak Pram memindahkan posisi tangannya yang kini jadi melingkar di pinggang ku, dengan seenak jidatnya ia mengeratkan tangannya.


"Kau mau pilih hape yang mana? Hem!" Tanya pak Pram yang berbicara di telinga ku.


Karyawan hape menatap iri, Haduuuh pak, kalo mau romantisan jangan di sini dong, auto iri diri ku pak, aku harus romantis sama siapa pak? Pacar aja saya belom punya!


Hembusan nafasnya begitu terasa menyegarkan, membuat ku bergidik, dasar rubah tua gak bisa apa liet tempat! Si embak karyawan yang bernama Leli itu kini menjelaskan kelebihan berbagai hape yang berjejer di atas etalase.


"Hapenya bagus bagus semua pak, bagaimana aku bisa memilihnya!" Seru ku.


Mata ku tertuju pada empat baris hape yang berjejer, aku tidak tahu jika harganya selangit.


Ku tatap hape yang berwarna hitam, yang hitam itu sepertinya aku pernah lihat, tapi di mana ya?

__ADS_1


"Apa kau sudah menentukan pilihan?" Tanya pak Pram yang tidak sabaran dengan suara yang selembut mungkin.


"Sebentar napa!" Seru ku acuh dengan tetap fokus pada berbagai hape yang menurut ku bagus bagus semua.


"Boleh aku lihat yang itu!" Seru ku dengan tangan terulur pada hape yang ada warna hijau dan gold.



Wajah Leli langsung sumringah senang, "Wah pilihan anda tepat sekali Nona." Aku bisa dapat bonus besar jika sampai hape ini di beli.


Ku perhatikan hape yang kini sudah ada di tangan ku, hanya karena warna dan tampilannya membuat ku tertarik.


Pak Pram tidak melepaskan pandangannya dari wajah ku, Selera gadis ini, bagus juga!


"Tepat dari mananya? Memang ada apa dengan hape ini?" Tanya ku polos.


"Harga hape itu 2M Nona, di toko kami hanya nyediakan 5 unit, yang satunya sudah di beli Tuan." Ujar Leli dengan tangan menunjuk pak Pram.


Aku membola dan terkejut, gila aja untuk sebuah hape pak Pram tidak sayang merogoh sakunya lebih dalam hanya untuk sebuah hape!


"Apa aku tidak salah dengar, 2M?" Tanya ku.


Pak Pram merebut hape yang ada dalam genggaman ku dan menyerahkannya pada karyawan toko.


"Kami ambil yang ini!" Seru pak Pram.


"Tunggu dulu, mbak... ada yang lain tidak! Yang harganya 2 jutaan gitu, mbak!" Aku menolak keras untuk di belikan hape yang harganya fantastis itu, gila aja kalo sampe anak anak di sekolah tau aku menggunakan hape dengan harga selangit, pasti mereka akan menilai ku jadi simpenan om om, cewek gak bener lah, secara teman sekolah tahunya kan aku hanya pelajar yang keja sambilan di kedei.


"Bukannya kau suka dengan hape itu, Nai?" Tanya pak Pram dengan kening mengkerut.


Pak Pram menatap ku dengan tatapan yang tidak aku mengerti, Bila saja gadis lain atau Karin yang saat ini bersama dengan ku, pasti mereka tidak akan ragu untuk memilih hape yang harganya jauh lebih mahal dari ini, kamu itu berbeda Nai.


"Aku suka bukan bearti pak Pram harus membelinya untuk ku, kan! Pokonya aku mau hape dengan harga 2 juta." Pinta ku.


Wajah bersemu seakan sirna dari karyawan hape yang bernama Leli, "Maaf Nona, untuk hape dengan harga 2 juta tidak tersedia di toko kami, untuk harga yang paling minim itu ada di angka 5 juta rupiah, apa Nona mau?" Terang Leli yang memberikan penjelasan pada ku.

__ADS_1


Aku pun berfikir, ambil gak ya? 5 juta masih terbilang mahal untuk ukuran ku yang hanya seorang pelajar.


Pak Pram melihat ku yang tengah berfikir, "Perlihatkan pada ku hape dengan harga 5 juta itu!" Ucap pak Pram dengan angkuh.


Karyawan toko hape itu langsung menunjukan beberapa hape dengan harga 5 juta.


"Bungkus yang silver, mbak!" Seru pak Pram dengan nada dingin dan tanpa bertanya lagi pada ku.


Ku tatap pak Pram yang berbicara dingin itu, wajahnya tidak menunjukan kan ekspresi senang yang ada malah marah, apa pak Pram marah pada ku ya?


Pak Pram mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan benda pipih pada karyawan toko hape.


Pak Pram berbicara dengan Leli dengan tatapan membunuh, "Untuk pembayaran kau bisa ambil 20 juta, anggap itu sebagai tanda uang tutup mulut dan jangan sampai bocor jika aku membawa istri ku ke toko ini!"


"Baik, pak." Istri secantik ini tidak boleh ada yang tau? Kenapa pak Pram tidak mempublikasikan pernikahannya pada khalayak umum?


Kini paper bag dengan isi hape sudah di tangan ku dan benda pipih itu juga sudah di kembalikan pada pemiliknya.


Pak Pram menggendong tubuh ku kembali meninggalkan toko hape.


Aduh tadi saking takutnya aku sampe bilang mau belajar jadi istrinya yang baik dan akan melayaninya, apa pak Pram akan menganggap omongan ku itu dengan serius ya? Aku gelengkan kepala ku, mudah mudahan saja pak Pram melupakan perkataan ku itu.


Sepanjang perjalanan pak Pram hanya diam saja tidak mengajak ku bicara, aku pun tidak berani untuk mengajaknya bicara, udah senewen duluan melihat wajahnya yang tamoak merah padam, entah apa yang ada dalam pikirannya itu, aku tidak tahu lah.


Sampai di rumah kami di sambut pak Dedi.


Pak Pram turun dari mobil setelah pintu di bukakan oleh pak Dedi.


Lantas pak Pram berjalan ke arah ku dan menggendong tubuh ku memasuki lift.


Ku kumpulkan semua keberanian ku untuk bertanya padanya, "Apa bapak marah pada ku?"


Bersambung....


...💖💖💖💖...

__ADS_1


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊


No komen julid nyelekit


__ADS_2