
...πππ...
"Kalo mau yang lebih hottt, tunggu aja di kamar... tapi pulang sekolah, aku izin ke rumah sakit jenguk Novi dan ka Ayu ya, my hubby!" Ucap Naira dengan kerlingan matanya menatap genit Pram.
Pram menyeringai, boleh juga caranya menggoda, dasarrr istri nakalll.
Dari luar kaca mobil di ketuk.
Tok tok tok.
Naira langsung menoleh ke arah asal suara.
"Daren!" Seru Naira.
Pram tampak acuh, mengabaikan ketukan di kaca mobilnya. Meski Pram sudah tahu, siapa yang mengetuk nya. Ke dua mata Pram hanya fokus pada Naira.
Tok tok tok.
Daren mengetuk kaca mobil lagi.
Pram ikut menoleh ke arah kaca mobil yang di ketuk Daren.
Pram berwajah datar, "Mau apa lagi bocah tengik itu?"
Naira mengerdikkan bahunya, "Mana aku tahu, ka!" Naira beranjak dari pangkuan Pram hendak ke luar dari dalam mobil setelah menyampirkan tasnya di punggung nya.
Tanpa di perintah Dev ke luar dari dalam mobil.
Daren bertanya pada Dev yang mengira jika Dev adalah supir yang mengantar Naira.
"Pak supir, Apa ka Pram ikut mengantar Naira?" Tanya Daren dengan sopan.
Dev menatap tajam Daren, adik angkat Tuan-nya, sialannn gw di kata supir, jabatan gw jauh lebih tinggi dari sekedar seorang supir, dasarrr bocah!
Dev menatap tajam Daren, "Apa ada yang ingin anda sampai kan, Tuan Muda? Biar saya yang akan sampai kan pada Tuan Pram." Ucap Dev datar.
Daren tampak bingung, dengan Dev yang memanggilnya Tuan Muda, pria ini memanggil ku Tuan Muda?
"Emmmm tidak aku harus mengatakan nya sendiri, ada yang ingin aku tanyakan pada ka Pram." Oceh Daren kekeh pada pendirian nya, kenapa Naira belum juga ke luar, apa yang sedang mereka lakukan?
Grap.
Pram menahan Naira dengan menggenggammm pergelangan tangannya, "Cium aku dulu!"
Naira memutar bola matanya dengan malas, "Pengen banget... di cium sama aku?" Ledek Naira dengan suaranya yang mendayu dayu.
"Ya sudah... kalo tidak mau aku izinkan ke rumah sakit, tidak apa! Tidak masalah bagi ku!" Seru Pram dengan acuh.
__ADS_1
"Ihs gitu aja ngambek!" Naira mendekatkan dirinya ke wajah Pram dan mengecup pipi Pram.
Cup.
Lalu mencium punggung tangan Pram.
Di saat yang bersamaan Dev membukakan pintu mobil untuk Nona Muda-nya.
Ceklek.
Naira ke luar dari dalam mobil dengan menatap heran pada Daren, apa Daren ingin bertemu dengan ka Pram? Atau dengan ku?
Daren menyapa Naira, "Hai, Nai!"
"Ah iya, hai. Sedang apa kau di sini Daren?" Tanya Naira dengan canggung.
Daren bergeming dan menatap ke arah pintu mobil di mana tadi Naira ke luar.
Naira berseru, "Ah baik lah, aku mengerti." Naira melangkah kan kakinya menuju gerbang sekolah menjauh dari mobil yang sudah mengantarkan nya.
Dev mencondongkan tubuhnya ke dalam mobil, tempat di mana Pram duduk.
"Tuan!" Seru Dev.
Pram mengibaskan satu tangannya.
Dev menggeser tubuhnya dan membiarkan Daren mencondong kan tubuhnya ke dalam mobil, bertanya pada, Pram.
Pram melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, "Masuk lah, waktu mu hanya 5 menit." Ucap Pram dengan dingin tanpa ekspresi.
Daren masuk ke dalam mobil bagian belakang, mendudukkan dirinya di sebelah Pram.
Sedangkan Dev langsung menutup pintunya, berdiri di depan pintu mobil. Sambil menunggu Tuannya berbicara dengan adik angkatnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Pram datar tanpa melihat ke arah Daren, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.
"Apa kau tidak bisa sedikit berbaik hati sedikit pada papah, ka? Bagai mana pun pria tua itu adalah papah kandung mu!" Seru Daren dengan menatap lekat wajah Pram.
Pram menoleh ke arah Daren, matanya tajam menatap Daren dengan tatapan kebencian.
"Apa kau pikir, selama ini aku kurang berbaik hati padanya?" Tanya Pram dengan tersenyum pahit, kau tidak tahu betapa sulitnya aku bertahan seorang diri, jika bukan bantuin dokter itu, mana mungkin aku bisa jadi seperti ini.
"Maaf ka, aku rasa di antara kalian harus ada yang mengalah. Berdamai dengan keadaan." Ucap Daren, aku tidak tahu harus bagai mana lagi membuat kalian berdamai, apa begitu sakitnya ayah dan ibu menyakiti mu ka? Sampai kau sulit untuk memaafkan ke duanya. Terlebih papa Aji adalah papa kandung mu.
Pram memalingkan pandangannya ke depan, "Waktu bicara mu sudah habis, Daren!" Pram mengusir secara halus Daren untuk segera ke luar dari dalam mobil.
Daren membuang nafasnya dengan kasar, "Baik lah, aku akan pergi. Aku harap kau pikirkan lagi perkataan ku, ka. Berdamai itu lebih indah dari pada harus hidup dengan dendam. Ibu mu pasti akan sedih, melihat kalian tidak akur." Ucap Daren yang mendapat tatapan tajam dari Pram.
__ADS_1
Daren ke luar dari dalam mobil dan menatap ke arah pintu mobil, berharap Pram akan memanggil nya dan memintanya untuk mengatakan kabar baik pada Aji.
Dav masuk ke dalam mobil di belakang stir kemudi, melajukan mobil sedan putih mewah meninggalkan sekolah Naira.
"Apa kita langsung ke kantor, Tuan?" Tanya Dev dengan melirik ke arah kaca spion.
"Hem."
πDi rumah sakitπ
Ayu dan Novi sudah berada di ruang perawatan yang sama, setelah Ayu ke luar dari masa kritisnya.
Di ranjang rawatnya, Ayu bertanya pada Novi dengan suaranya yang pelan.
"Heh bocah tengil, apa lo udah puas sekarang? Cuma buat nyelametin kotak kecil dari lantai atas, lo korbanin gw sampe kaya gini?" Omel Ayu.
"Sorry ka, gw gak minta lo buat selametin gw. Kalo aja lo gak dorong gw saat itu, pasti gw yang saat ini berada di posisi lo. Luka parah." Ucap Novi dengan tersenyum pada Ayu, bahagia gw ka, bisa ngeliet lo ke luar dari masa masa kritis. Jadi gw bisa balas pengorbanan lo.
Ibunya Novi yang berada di antara ranjang rawat ke duanya, bertanya tanya mendengarkan perkataan Ayu.
Sedangkan ayahnya Ayu yang berada di samping ranjang rawat putrinya mengelusss sayang kepala putrinya itu.
"Kamu itu baru aja melewati masa kritis, nak... jangan banyak bicara dulu!" Oceh Bowo.
"Pak, kalo bapak di sini. Chika sama siapa, pak?" Tanya Ayu yang baru ingat dengan putri kecilnya yang menggemaskan.
"Kamu tenang aja, gak usah mikirin Chika, Chika aman kok. Pak Pram dan neng Naira mempekerjakan seorang baby sister... untuk merawat Chika selama kamu masih sakit, nak!" Ucao pak Bowo.
"Bapak serius?" Tanya Ayu.
"Ah ka Ayu, masa iya apa yang di katakan bapak ini bohong, apa yang di katakan bapak itu benar ka." Timpal Novi.
"Gw lagi gak ngomong sama lo, bocah tengik!" Sungut Ayu.
"Ihs, bocah tengik tapi ka Ayu mau berkorban demi aku. Makasih ya ka, aku berhutang nyawa sama ka Ayu." Ucap Novi dengan tulus.
"Iya lah gw nyelametin lo, secara kalo lo mati, siapa lagi yang jadi temen debat gw! Siapa lagi yang bakal ngelawan perkataan gw di kedei kalo bukan lo?" Sungut Ayu dengan pedasnya.
"Bujuk dah ka, bibir lo tajem kaya piso, pedes kaya cabe berkilo kilo." Ejek Novi dengan tergelak.
"Sialannn lo!" Oceh Ayu.
"Ngomong ngomong, kotak itu ada di mana ya ka? Apa lo tau ka, itu kotak ada di mana?" Tanya Novi yang baru ingat jika kotak yang ia selamatkan dari lantai atas kedei tidak bersamanya.
"Bego lo, lo nanya sama gw. Gw kan tepar duluan dari pada lo!" Ejek Ayu.
"Aiiihhs kalian, bikin kepala ibu pening." Oceh ibunya Novi mendengar kan perdebatan Ayu dan putrinya Novi.
__ADS_1
......................
...π Bersambung π...