Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Tidak kalah sengit


__ADS_3

...💖💖💖...


Sementara Pram kini terbuai dengan tidur nyenyaknya. Menyelami alam mimpi yang indah, membuatnya tampak tersenyum. Entah apa yang sedang ia mimpikan.


Di meja makan, Pram dengan bawel menyuruh Naira untuk banyak makan, memberinya banyak asupan gizi, makanan mewah nan lezat terhidang di atas meja.


Naira menatap tajam makanan yang banyak terhidang di atas meja. Ia menggeleng gelengkan kepalanya.


"Siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini, ka?" tanya Naira.


"Tentu saja kau dan aku! Kita harus sama sama banyak makan makanan yang bergizi, asupan yang bagus untuk tubuh. Biar kau cepat mengandung." oceh Pram dengan menyuapi Naira makanan dari piringnya.


Dengan sulit Naira bicara, karena mulutnya banyak di masuki makanan, "Tapi ka, ini terlalu banyak! Di kata mulut ku apa? Huh!" Naira mendengus dengan kesal.


"Sudah jangan banyak membantah, kau cukup ikuti apa yang aku katakan. Toh ini juga akan baik untuk kita semua." ucap Pram dengan entengnya.


"Dasar rubahhh mesummm tidak berperasaan, emang hamil itu di kata mudah! Di saat menginginkan, maka akan langsung ada! Di saat berucap, maka akan langsung ada begitu saja! Iiihhss yang benar saja!" gumam Naira.


"Apa kau sedang menggerutu?" tanya Pram yang sepintas mendengar gerutuan Naira.


Naira melanjutkan makannya, "Tidak ada!" sungut Naira dengan memalingkan wajahnya dari Pram, sedangkan ia tetap melanjutkan makannya meski tidak berselera.


Usai sarapan, Naira memilih duduk bersantai di dekat kolam renang, dengan mencoba menghubungi Mega. Sedangkan Pram, sedang di sibukkan dengan rencananya untuk membuat ke jutan spesial yang akan ia berikan untuk Naira.

__ADS_1


Naira menghubungi Mega lewat hapenya, terdengar suara Mega dari sambungan telponnya dengan heboh sendiri.


[ "Nairaaa? Apa ini benar kau yang sedang menghubungi ku? Astaga seseorang! Coba cubit aku, apa aku sedang bermimpi!" ]


Mau tidak mau, Naira menjauhkan hapenya dari daun telinganya, bisa sakit gendang telinganya, jika ia bertahan untuk tetap menempel kan hapenya di daun telinganya.


[ "Auuhhhh... ternyata aku tidak sedang bermimpi!" ] suara Mega terdengar mengaduh ke sakitan.


Naira menggelengkan kepalanya, "Dasar Mega! Sudah pasti sakit lah... anak ini kalo lagi ngaur, suka sebelas dua belas sama ka Ayu!" sungut Naira.


[ "Nai! Apa kau bisa mendengar suara ku? Ini aku Mega... bagai mana kabar mu di sana? Apa udaranya cocok dengan mu? Apa kau sudah baikan setelah melewati masa operasi?" ] cecar Mega dengan sederet senyum yang merekah di bibirnya.


"Aku bisa mendengar suara mu dengan baik, jika kau tidak rusuh Mega! Suara mu tidak bisa apa di kecil kan sedikit volumenya? Telinga ku pengeng mendengar teriakan mu yang mengalahkan biduan dangdut yang sedang konser!"


Bukan lagi suara Mega yang terdengar, melainkan suara Rion yang terdengar dari sambungan telpon.


"Hei kau ini! Kerja sana yang benar! Awas ya jika sampai pelanggan Kedai Pelangi pada kabur, gara gara kau mengabaikan pesenan mereka!" sungut Naira.


Roin tergelak di buatnya, [ "Ahahaha jangan seperti itu pada ku, Naira! Aku selalu mengutamakan pelanggan kedai Pelangi, kau tenang saja. Jumlah pelanggan bahkan semakin bertambah setiap harinya." ]


"Bagus lah kalo begitu, jika omset semakin bagus, maka akan aku pastikan jika kalian semua, akan mendapatkan bonus akhir bulan ini!" ucap Naira.


Salah satu bos yang paling pengertian, ya itu harus kasih bonus jika omset meningkat pesat 🤣🤣 biar karyawan makin betah dan makin semangat kerjanya.

__ADS_1


Kini gantian Angga yang mencecar Naira dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir Angga.


[ "Nai, ini aku. Bang Angga, apa pak Pram memperlakukan mu dengan baik selama kalian di Jepang? Kalian baik baik saja kan? Apa yang terjadi sebenar, Nai? Kenapa bisa orang itu menyerang mu? Pasti orang itu ingin mengincar pak Pram kan?" ]


Naira menggelengkan kepalanya kembali, "Aku baik baik saja, bang! Kalian tenang saja. Soal yang lainnya... nanti saja aku ceritakan jika kita sudah ketemu ya! Ngomong ngomong, bang. Apa ka Ayu sudah mengabari kalian?"


[ "Baik, besok rencananya dia sudah bisa bergabung kembali... bekerja di kedai Pelangi, Nai." ] ucap Angga.


"Ya sudah, nanti aku kabari kalian kembali ya! Ada yang harus aku kerjakan di sini." Naira mengakhiri panggilan teleponnya, saat melihat Pram yang kini menghampirinya di tepian kolam renang.


Naira menaruh hapenya di lantai, tidak jauh dari dirinya duduk. Ke dua kakinya sengaja ia juntai kan ke dalam koram renang, Memain kan ke dua kakinya dengan mengayun ayunkannya di bawa air.


Pram menatap curiga pada Naira, saat mengetahui Naira lebih memilih mengakhiri panggilan teleponnya, dari pada melanjutkan pembicaraannya di telpon, namun di dengar oleh Pram.


"Kenapa langsung di akhir? Apa kau takut aku mendengar obrolan kalian?" tuduh Pram dengan ucapannya yang ketus.


"Gak usah ngaco deh kalo ngomong tuh! Bibir asal ngejeplak aja kalo ngomong! Di ayak dulu woy!" sungut Naira dengan suara nya yang tidak kalah sengit dari Pram.


"Hah? Aku ngaco? Jawab saja, tadi apa yang kau bicarakan di telpon? Apa kalian membicarakan ku? Kau katakan pada mereka, betapa hebat dan kerennya aku kan hem? Betapa aku memanjakan mu di sini? Kau pasti sangat bangga kan, bisa menceritakan pengalaman mu selama di Jepang pada mereka?" ucap Pram dengan bangga.


......................


...💖 Bersambung 💖...

__ADS_1


Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya 🤭🤭


Makasih yang sudah dengan setia membaca sampe sekarang 😊😊


__ADS_2