
...💖💖💖...
"Astaga, ka! Kau bisa turunkan aku sebentar!" Seru Naira dengan memukul mukul punggung Pram dengan tangannya.
"Sssst, jangan banyak bicara!" Sungut Pram dengan tangannya yang menggenggam gagang telpon dan menempelkannya pada telinganya.
"Dasarrr ka Pram egois, aku kan malu, gak lihat apa itu ada apa di atas kain sprei." Dumel Naira dengan bibir yang mengerucut.
Pram membuang nafasnya dengan kasar dan mengurungkan niatnya untuk menghubungi maid.
Pram membawa Naira mendekati arah tempat tidur dan menurunkan tubuh Naira di sana.
"Tunggu di sini, biar ku ambilkan kain spreinya." Oceh Pram dengan melangkah menuju walk in closed.
Dengan cepat Naira melepassskan kain sprei dari tempat tidur dan menarunya di lantai dengan bentuk gulungan.
Pram kembali dengan tangan yang membawa kain sprei yang baru, "Kau melakukannya?" Tanya Pram dengan heran.
Naira tersenyum, "Iya, lagi emang ada orang lain lagi selain aku dan ka Pram di sini?" Naira merebut kain sprei dari tangan Pram dan mulai memasangkain kain sprei itu pada tempatnya dengan di bantu Pram.
"Akhirnya aku bisa istirahat." Oceh Pram dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Siapa suruh baru pulang udah ngajak perangg!" Gerutu Naira dengan ikut merebahkan tubuhnya di samping Pram dengan lengan Pram yang menjadi bantalan untuk kepalanya, tangan Naira bermain di dada bidang Pram yang ada di balik piyama yang tengah ia kenakan.
"Kau tidak salah, Nai? Bukannya kau duluan yang mengibarkan bendera perangg pada ku?" Pram mulai memejamkan ke dua matanya.
"Kapan aku memulai perang sama kaka? Enak saja kalo nuduh!" Seru Naira, tapi tidak mendengar jawaban dari Pram.
Naira mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Pram yang terlelap dengan dengkuran halus yang ke luar dai bibir Pram.
"Kacian bener laki aku, pasti cape banget." Naira pun menduselkan kepalanya pada dada bidang Pram dan ikut menyusul Pram ke alam mimpi.
Beberapa jam kemudian.
🍂Di kamar yang berbeda.🍂
"Waaaaaaa! Naira ilang!" Seru Novi dengan wajah panik berteriak ke arah kasur yang terdapat Serli dan Elsa yang masih terlelap.
Serli bangkit dari tidurnya dan duduk dengan mata yang terpejam, "Apa sih Nov, pagi pagi udah bikin gaduh aja lo!" Seru Serli.
Bugh.
__ADS_1
Tubuh Serli jatuh ke belakang mendarat lagi di atas kasur yang empuk, memanjakan siapa saja yang ada di atasnya untuk tetap terlelap tidur.
Elsa hanya mengulet merengganggkan uratnya yang kaku.
"Gays, gw udah cari tapi Nai gak ada." Oceh Novi dengan hebohnya.
Novi naik ke atas tempat tidur, mengguncang tubuh Serli, "Ayo dong Ser... buka mata lo, masa lo tega sih Nai ilang, ayo kita cari Naira!" Seru Novi dengan suara bergetar, dia pikir Naira hilang di culik karena kejadian kemaren ternyata masih membekas di hati Novi.
"Mungkin Nai lagi solat subuh kali." Oceh Seli dengan mata yang mengerjap.
"Gak ada Ser, ayo bangun... kita bilang sama pak Dedi, biar nanti pak Dedi cariin Naira." Novi kini beralih mengguncang Elsa.
"Ada, masa Nai hilang gitu aja, kemarenkan lo sendiri yang cerita kalo Nai bisa lolos dari penculikan." Gerutu Serli.
"Sa, bangun Sa... Nai hilang di culik Sa!" Seru Novi dan Elsa langsung membuka matanya.
"Gw gak salah denger nih? Lo bilang Nai hilang?" Elsa mengucek ke dua matanya.
Novi menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Serli mendudukkan dirinya dengan mata yang masih ngantuk, "Lo beneran, Nov? Lo gak lagi bercanda kan?" Tanya Serli.
Serli menyerukan Elsa, "Hayo Sa, kita ikutin Novi!" Ucap Serli.
Ke duanya pun beranjak dari tempat tidur menyusul novi yang sudah berdiri di depan pintu depan memegang hendle pintu.
Ceklek.
Waktu masih subuh, masih ada beberapa maid yang tengah beres beres rumah, maid di haruskan menyelesaikan pekerjaannya sebelum Nona dan Tuan mereka ke luar dari kamar mereka.
Novi menghampiri salah satu maid yang tengah mengelap porselin, Serli dan Elsa mengikuti Novi di belakang.
"Ka, saya mau ketemu sama pak Dedi, pak Dedi-nya di mana ya?" Tanya Novi sopan.
"Pak Dedi ada di kitchen, Nona." Ujar maid wanita muda.
"Makasih ya, ka!" Seru Novi yang lantas mengajak ke duanyanya menuju kitchen.
Di sana Novi melihat pak Dedi yang berdiri memantau para chef tengah menyiapkan masakan dengan berbagai menu yang sudah tersaji di atas meja.
"Pak Dedi!" Novi menyerukan nama pak Dedi.
__ADS_1
Pak Dedi menoleh ke arah asal suara yang memanggilnya.
"Ada apa, Nona?" Tanya Dedi, "Apa ada yang Nona butuhkan?" Tanya pak Dedi lagi memperhatikan ke 3 gadis remaja ini ke luar dari kamar mereka dengan masih mengenakan piyama.
"Pak, Naira hilang pak! Naira di culik orang pak!" Seru Novi dengan berapi api mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan pada pak Dedi dengan suara bergetar.
Chef dan maid yang berada di sekitar mereka menoleh ke arah Novi.
"Apa benar Nona hilang?"
"Nona di culik orang?"
"Siapa yang berani menculik Nona?"
"Masa sih, cari mati itu orang!"
"Nona hilang!"
Maid dan chef mulai berbisik termakan ucapan Novi dan saling bertanya.
Dega yang baru saja tiba di kediaman Pramana di buat kaget dengan pintu kamar yang harusnya di jaga olehnya sudah terbuka dan tidak lagi ada penghuni di dalamnya.
"Dasarrrr para ciwi ciwi ceroboh, mandi ko pintu di biarkan terbuka!" Dega menutup kembali pintu kamar, Dega berfikir jika ke tiga teman Naira sedang mandi.
Karena masih mengantuk Dega memilih untuk meminta di buatkan kopi dengan berjalan ke arah kitchen, namun langkahnya terhenti saat telinganya mendengar ocehan Novi yang mengadukan pada pak Dedi jika Naira hilang karena tidak ada di kamar yang mereka tempati.
Dega melangkah semakin ke dalam kitchen dan matanya mendapati ke 3 ciwi ciwi remaja, teman temannya Naira tengah berdiri di depan pak dedi, mereka bertiga masih lengkap dengan piyama yang melekat di tubuh mereka.
Dega juga menangkap bisikan bisikan yang di celotehkan para maid dan chef yang berada tidak jauh dari mereka mulai gaduh, mbicarakan Nona Muda-nya.
Dega geleng geleng kepala, mereka ini, "benar benar biang onar, kalo kata bang Haikal, Novi itu plangton... sepertinya memang tidak salah jika bang Haikal berfikir Novi ini plangton."
"Ayo pak, kita harus mencari Naira, aku takut Naira di apa apakan oleh penculik itu!" Oceh Novi dengan menggenggam tangan pak Dedi.
"Ehem ehem!"
...💖💖💖💖💖...
Salam manis author gabut
Jangan lupa dukung author pake jempol sama komen 😁
__ADS_1