Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Solusi


__ADS_3

"Iya, maaf bos... Mulut ku ini memang suka lancang, udah kaya motor gak ada rem nya, asal nyeplos." Ujar Juni dengan memukul bibir nya yang asal bicara.


Setelah 3 hari Naira mempekerjakan Juni, Elisa dan Novi di kedei. Mereka tahu jika Naira bukan hanya anak orang biasa tapi seorang anak yang terlahir dari keluarga pengusaha kaya di Bandung, Naira sengaja mengasingkan diri di Tangerang dengan tanpa embel embel nama keluarga.


"Bagaimana dengan kedei, bang?" Tanya Naira dengan serius.


"Kedei baik, yang lain juga menanya kan kabar lu." Ujar Angga.


"Tunggu deh, ko bisa sih kalian ada di sini? Gimana ceritanya?" Tanya Naira.


"Pak Pram nyuruh orang buat jemput kita di kedei." Ucap Angga.


"Ooooh." Naira ber oh ria.


"Nai, kalo lu merid ... Sekolah lu gimana Nai?" Tanya Juni.


"Emmmm ... Gw juga pengen nya lanjut, jangan sampe pihak sekolah tau kalo gw udah merid, sayang kan tinggal 2 bulan lebih ujian sekolah." Ujar Naira dengan membuang nafas kasar.


"Kamu tetap bisa melanjutkan sekolah, sampai kuliah jika perlu." Ucap Pram dengan dingin dengan tangan menengger di bahu Naira.


Naira menatap tangan Pram yang menengger di bahunya, Apa coba ini tangan, di kata bahu gw jemuran baju apa? Dasarrr rubah tua. Gerutu Naira meski dalam hati, Tahan Naira jangan mancing rubah ngamuk. Batin nya lagi.


"Untuk pihak sekolah, gimana?" Naira mendongak kan wajah nya untuk melihat reaksi Pram yang kini menjadi suami nya.


Anak ini, tidak menggunakan akal nya untuk berfikir mencari jalan ke luar nya tapi justru balik bertanya seolah menanti kan pendapat ku. Batin Pram yang melihat wajah Naira yang penasaran.


Juni dan Angga kini ikut menatap wajah Pram, menantikan jawaban apa yang akan di ucap kan Pram.


"Kenapa bertanya, apa otak di kepala mu mendadak hilang? Hingga tidak bisa berfikir jernih? Hem!" Pram mengetuk dahi Naira dengan jari telunjuk kanannya.


"Ish, kalo gak bisa kasih solusi, mending gak usah ngoceh, dasar rubah tua!" Naira menatap malas Pram. "Pergi sanah!" Naira mengusir Pram dari hadapan nya.


"Hihihi, julukan apa itu... masa rubah tua." Juni terkekeh meski dengan suara pelan.


Angga menyenggol lengan Juni dengan siku nya, "Jaga bicara mu, jika masih ingin tetap hidup." Ujar Angga yang seketika membuat Juni melirik Pram dan langsung bungkam saat tangan Pram bergerak di bibir nya memperingati Juni untuk tidak bicara.


Gila laki nya Naira serem bener, gw cuma ketawa doang... bisa berapa lama Nai lu hidup ama orang model laki lu. Batin Juni.

__ADS_1


"Yang hadir di sini kan hanya keluarga inti dan dua orang ini." Pram menunjuk Angga dan Juni dengan mata nya.


Memang benar apa yang di kata kan Pram, mendadak Naira tidak bisa berfikir dengan jernih, "Terus?" cicit Naira.


"Status nikah mu tidak akan ada yang tahu jika ke dua orang ini tidak membocorkan nya!" Pram menatap Angga dan Juni bergantian.


"Aku bisa di percaya." Ucap Angga penuh keyakinan.


Angga, Pram dan Naira menatap Juni dengan tatapan tajam, "Ka- kalian lihat apa? Aku pasti akan berusaha menutup mulut, anggap saja aku tidak tahu apa apa." Ujar Juni dengan meragu.


"Jika sampai kau membocorkan nya, habis kau!" Ancam Pram dengan tatapan tajam pada Juni.


Ish gila anceman nya, udah kaya beneran. Batin Juni. "Iya iya saya janji akan berusaha sekuat jiwa raga saya gak akan bocorin kemana pun." Ujar Juni.


"Sudah tenang sekarang?" Tanya Pram mengelus punggung Naira.


"Bagaimana dengan pak penghulu?"


"Itu sudah saya bereskan, Nona." Ujar Dev yang kini berdiri di samping Pram.


Dev berbisik ke telinga Pram, "Maaf pak, ada yang perlu saya sampaikan."


"Ish, dasar rubah tua tidak punya malu." Sungut Naira.


Pram berjalan melangkah bersama Dev menuju ruang kerja nya.


Saat Pram melewati pintu yang berbatasan dengan taman, tempat acara berlangsung, Pram memberi kode mata pada orang nya untuk mengawasi Naira. Orang yang di beri tugas langsung mengangguk kan kepalanya mengerti.


Di saat Pram sudah benar benar menghilang dari pandangan, Atmaja, Heni dan Dito langsung menghampiri Naira.


"Naira."


Naira langsung menoleh saat namanya di panggil.


Naira memeluk Atmaja di saat pria paruh baya itu sudah berdiri di hadapan nya, "Papa baik baik aja kan?"


Heni mengelus pucuk kepala Naira.

__ADS_1


Atmaja melerai pelukan Naira, "Papa baik baik aja, nak... kaki kamu kenapa sayang?" Atmaja menanyakan hal yang dari tadi ingin di tanyakan nya pada Naira.


"Oh ini?" Naira mengngkat rok batik yang ia kenakan memperlihat kan kaki kiri nya yang di gips.


Apa ini orang tua Naira? Batin Angga memperhatikan intraksi antara Naira dan bapak tua yang tidak di kenal nya.


Naira manggil pria ini papa, mungkin ini papa nya yang pengusaha itu. Batin Juni.


"Pah, lebih baik kita cari tempat yang nyaman untuk bicara." Ucap Heni mengingatkan suami nya.


"Iya, papa lupa."


"Kalian temen nya ka Nai ya?" Tebak Dito pada kedua pria yang sedari tadi bersama dengan Naira, tatapan Dito begitu bersahabat berbeda dengan tatapan yang di berikan Pram.


"Saya Angga, teman sekaligus bawahan nya Naira di kedei." Angga memperkenal kan diri nya lebih dulu saat mata Dito menatap nya.


"Kalo saya Juni, teman sekolah Naira di kelas, saya juga anak buah nya Naira di kedei." Ujar Juni.


"Kita ngobrol di sana aja yuk!" Naira menunjuk meja yang ada di pojok taman dengan pohon besar tumbuh di dekatnya.


Kini Naira, Atmaja, Heni, Dito, Juni dan Angga berada dalam satu meja sambil mengisi perut yang lapar di selingi dengan candaan dan tanya, tidak ada ketegangan meski di hati Heni dan Atmaja ada banyak pertanyaan yang menggelayuti hati mereka.


Di tempat lain.


Pram dan Dev berada di ruang kerja Pram dengan saling berhadapan meski terhalang meja kerja yang di atas nya terdapat laptop yang sedang di tatap Pram, mata nya seolah enggan menjauh dari layar laptop nya.


"Ada apa lagi?" tanya Pram sambil memperhatikan wajah Naira dari cctv yang tersambung dengan laptop nya.


"Orang yang kita letakkan di kantor pak Aji, sudah bergerak pak... hanya tinggal menunggu perintah bapak untuk mengakuisisi nya." Ujar Dev.


"Bagus, untuk siluman itu?"


Bersambung....


...💖💖💖💖...


Salam manis, jangan lupa dukung author dengan jempol dan komen ya 😊

__ADS_1


No komen julid nyelekit


__ADS_2