
...💖💖💖...
[ "Aku? Selalu ada di Indonesia, kau saja yang sudah lama tidak terbang ke Indonesia!" ] sungut Dega.
Cukup lama Toda dan Dega saling bicara di telpon.
Sementara Zang dan Mr. Takeshi masih setia menemani Pram, yang masih menunggu Naira di depan ruang operasi.
Dreeet dreeet dreeet.
Mr Takeshi langsung merogoh saku celananya, dan mengeluarkan hapenya yang bergetar. Ia langsung menyeringai saat mengetahui siapa yang menghubunginya.
Pram mengerutkan keningnya, menatap curiga pada Takeshi.
"Ada apa? Kenapa kau tidak menjawabnya?" tanya Pram.
"Ini.. aku juga akan menjawab, panggilan dari anak buah yang aku kerahkan untuk menangkap Hanami." terang Takeshi.
"Semoga saja anak buah mu, berhasil membawanya!" sungut Pram dengan tangan yang mengepal.
Pram sudah berhasil menghabisi pelaku penikamannn, dengan ke kuasaan yang Pram miliki, di tambah ada Takeshi yang berada di belakangnya, baginya tidak akan sulit hanya untuk membawa Hanami.
Takeshi tampak serius saat berbicara dengan anak buahnya di telpon, tanpa beranjak dari duduk nya, membiarkan Pram mendengar kan apa yang ia katakan pada anak buahnya. Tidak lama ia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Jadi, anak buah mu... berhasil menangkap Hanami?" tanya Pram dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Takeshi menepuk bahu Pram dengan tangannya, berkata dengan bangga, "Aku kan sudah bilang pada mu, ka... orang ku pasti bisa membawa wanita itu, sebanyak apa pun pengawal yang ia kerahkan untuk melindungi dirinya. Pada akhirnya sekarang ia sudah berada di tempat ku!"
"Bagus kalo begitu, aku ingin cepat menghabisiii nya!" ucap Pram dengan tatapan yang berapi api, dengan ke dua tangan yang saling bertautan.
"Lalu kaka mau membiarkan wanita mu seorang diri di sini? Tanpa mu?" tanya Takeshi, dengan menatap ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.
"Kau benar, aku harus bersama dengan Naira. Setidaknya sampai aku yakin dengan kondisinya yang baik baik saja!"
Toda yang duduk di samping Pram, langsung ikut menepuk bahu Pram.
"Benar apa yang di katakan Dega, kaka ipar memilliki pengaruh yang cukup besar untuk mu, ka Pram!" seru Toda.
Zang menatap sini Pram, "Cihh apa itu, takluk pada seorang wanita. Itu yang membuat musuh... mudah menemukan titik ke lemahan mu, ka!" cibir Zang.
Takeshi angkat suara, "Zang! Ka Pram tidak selemah itu! Ia punya caara tersendiri untuk melindungi wanitanya, bukan begitu ka Pram?" ucap Takeshi dengan menarikkk sudut bibirnya ke atas.
Bugh.
Takeshi menyikut lengan Pram, "Bukan begitu balasannya ka, aku sudah membela mu di depan Zang!" sungut Takeshi.
Hingga beberapa jam kemudian, Pram bisa bernafas dengan lega, setelah ada seorang dokter yang ke luar dari ruang operasi, setelah beberapa saat lampu yang ada di atas pintu ruang operasi menyala.
Pram dan Takeshi menghampiri sang dokter, dengan perasaan Pram yang di liputi tanda tanya, dan khawatir akan nasib Naira.
"Bagai mana istri saya, dok? Tidak terjadi apa apa kan pada istri saya? Saya sudah bisa menemuinya kan?" cecar Pram dengan tidak sabaran.
__ADS_1
"Operasi berjalan dengan lancar, tapi untuk mengetahui ke adaan Nona, kita harus menunggu beberapa jam ke depan, sampai Nona siuman, setidaknya sampai pengaruh obat bius itu menghilang" terang dokter dengan membuka masker di wajahnya.
"Apa kami sudah bisa masuk ke dalam, dok?" tanya Takeshi, yang di liputi penasaran, seperti apa wanita yang sudah membuat Pram meninggalkan ke biasaan buruknya pada wanita.
"Sabar ya! Kalian bisa menemui pasien, setelah pasien di pindah kan ke ruang rawat. Itu pun pasien belum bisa di ajak komunikasi, karena masih dalam pengaruh obat bius. Kalo begitu saya permisi! Masih ada pasien yang harus saya tangani!" ujar sang dokter, yang langsung meninggal kan ruang operasi.
Pram dan Takeshi pun menyingkir dari depan pintu ruang operasi, saat berangkar ke luar dari ruang operasi dengan tubuh Naira yang ada di atasnya, lengkap dengan cairan infus dan kantong darah yang menancap pada pergelangan tangan Naira.
Pram mengikuti berangkar itu dengan tangannya yang menggenggammm tangan Naira, "Aku yakin kau bisa melewati ini semua, sayang!" gumam Pram.
Takeshi berdiri mematung di depan pintu ruang operasi, dengan pandangan yang mengarah pada berangkar yang baru saja melewati nya, apa aku tidak salah lihat? Itu wanita yang menjadi istri ka Pram? Wanita yang sudah membuat ka Pram menjauh dari ke biasaan buruknya pada wanita? Astaga! Bocah itu! Apa ka Pram tidak salah memilih?
Pram mengabaikan jeritan batin Takeshi, ia tetap melangkah. Mengikuti ke mana Naira di pindah kan ke ruang perawatan, dengan di ikuti 3 perawat dan Toda.
Sementara Zang, menatap dengan penuh selidik pada Takeshi, ia menghampirinya dan mengguncang lengan Takeshi.
"Ada apa dengan mu, ka? Apa ada yang salah dengan wanitanya ka Pram?" tebak Zang.
Takeshi langsung menggelengkan kepalanya, dengan kening yang mengkerut, "Tidak ada, ayo kita susul mereka!" Takeshi langsung berjalan meninggalkan Zang, yang menatap punggung Takeshi.
Zang mengerdikkan bahunya, "Lebih baik aku dengarkan apa kata Takeshi." Zang mengayunkan ke dua kakinya, menyusul Takeshi dan yang lainnya, yang sudah berjalan lebih dulu.
......................
...💖 Bersambung 💖...
__ADS_1
Terima kasih sebelumnya, yuk komen apah biar tambah tambah masukan buat author nya ðŸ¤ðŸ¤