Belenggu Suami Kejam

Belenggu Suami Kejam
Ayang suami


__ADS_3

...💖💖💖...


Dega menepuk keningnya, "Gawat!"


"Ada apa? Apa dokter Samuel akan mengirim sendiri obatnya?" Tanya Haikal.


Naira dan Novi saling tatap, dengan Novi yang bertanya tanpa suara dengan gerakan bibirnya.


'Ada apa dengan mereka?'


Naira mengerdikkan bahunya, menjawab tanpa suara dengan gerakan bibirnya, 'Entah lah.'


Haikal menghembuskan nafasnya, menyesel karena sudah menyuruh Dega untuk meminta krim obat pada dokter Samuel, tapi jika tidak di lakukan, luka memar di pergelangan tangan Naira pasti akan sulit untuk di pulihkan, secara Pram pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk istri kecilnya itu.


"Terima nasib saja lah kalo begitu." Ujar Haikal.


"Ada apa?" Tanya Naira dari pada penasaran akhirnya memilih bertanya.


Belum ke duanya membuka mulut untuk menjawab. Hape Dega berdering dari orang yang paling kejammm.


Dega menoleh pada Haikal.


"Gw udah tau, jawab apa adanya aja, gak usah panik gitu!" Terang Haikal dengan melirik sepintas pada Dega.


"Tapi bang ---"


"Makin lama lo jawab, makin naek darahhh itu bos!" Sungut Haikal.


Naira yang tidak ingin ke duanya mendapat masalah, akhirnya merebut hape yang ada di tangan Dega dan menjawab panggilan dari si penelpon yang tidak lain adalah Pram.


Haikal menggeleng gelengkan kepalanya, cemen sekali kita ini, hanya menjawab telpon dari bos, sampai harus Nona Muda yang menjawabnya.


Naira tidak langsung bicara, tapi mendengarkan Pram yang terus mengomel dengan suara yang penuh penekanan, terdengar seperti orang yang sedang menahan emosinya.


Novi yang penasaran, memilih mencondongkan kepalanya, ikut mendengarkan ocehan Pram pada hape yang kini menempel pada daun telinga Naira.


[ "Bodohhhh kalian, bagai mana bisa istri ku sampai terluka hah! Hanya menjaga satu orang saja tidak becussss! Kalian mau mati hah! Ini sudah yang ke dua kalinya Haikal! Sekarang kalian di mana? Lihat apa yang akan aku lakukan pada kalian! Beraninya membuat Naira ku terluka! Dasarrr bodyguard tidak becussss!" ]


Novi terkikik geli mendengar ocehan Pram yang sedang marah, gimana jadinya ya pak Pram kalo tau yang lagi di omelin ini ternyata istrinya dewek, si Nai. Pasti malu banget ini orang mukanya.


[ "Dega, kenapa kau tidak menjawab? Ayo katakan di mana kalian sekarang?" ]


Haikal memarkirkan mobilnya di depan parkiran kedei, karena mereka akhirnya sampai pada tempat yang menjadi tujuannya.


Naira meminta ke tiganya untuk turun dari mobil lebih dulu, dengan gerakan tangan dan kepalanya.


Dega dan Haikal pun menuruti perkataan Nona Muda-nya. Tapi tidak untuk Novi, hatinya masih di landa penasan, ingin mendengar apa yang akan di katakan Naira.


Ceklek.


Haikal membuka pintu mobil bagian Novi, menarik pergelangan tangan kekasihnya itu dengan tangan kiri, dengan jari telunjuk kanannya menyentuh bibir Novi memintanya untuk menurut.


Novi mendengus kesal dan ke luar dari dalam mobil, menyisakan Naira seorang diri.


"Udah ngomelnya ka?"

__ADS_1


[ "Ka- kau? Ja- jadi dari tadi aku --" ]


"Iya lah aku, emang siapa lagi? Ka Pram berharap lagi ngomelin bang Dega? Apa bang Haikal?"


[ "Di mana mereka berdua? Enak saja sudah membuat mu terluka, lihat saja nanti. Jika aku sudah bertemu dengan mereka, mereka harus menerima hukuman dari ku!" ]


"Apa sih ka? Orang gak apa apa ko, cuma memar dikit. Di olesin obat juga nanti sembuh, gak usah lebay ka! Bang Dega noh lukanya lebih parah."


[ "Apa yang terjadi dengan kalian? Apa pengawalan yang aku kerahkan masih kurang untuk melindungi mu?" ]


"Kaka sekarang lagi apa sih?"


[ "Break meeting, setelah aku mendapat telepon dari dokter Samuel." ]


"Ya udah, lanjut meeting lagi ya ayang suami, my hubby, istri mu ini baik baik aja! Aku lagi di kedei dulu ka, lanjutkan meeting nya ya! Lope lope muach."


Naira mengakhiri sambungan telepon nya tanpa menunggu persetujuan dari Pram dengan senyum yang mengembang.


Bego lo Nai, genit amat lo! Hahaha gak apa lah, gak ada yang tau ini.


Naira turun dari mobil, melihat mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari mobil yang di tumpanginya.


Naira melihat Dega yang tengah di obati lukanya oleh Mega di meja yang ada di sudut ruangan. Di sana juga ada Haikal.


Novi sudah mengganti pakaiannya dengan seragam kedei, membawa kan dua cangkir kopi panas ke meja di mana ada Haikal.


"Nih bang, hapenya!" Naira menyodorkan hapenya pada Dega.


"Bos Pram bilang apa Nona?" Tanya Dega.


Naira mengerutkan keningnya, "Gak lah, orang ka Pram lagi meeting ko. Gak mungkin ke sini." Kilah Naira, yang yakin jika Pram tidak akan menyusulnya.


"Berani taruhan, Nona?" Haikal memberikan tantangan pada Nona Muda-nya.


Biar bagai mana pun. Haikal tau betul dengan sifat bosnya yang satu ini, Pram bisa melakukan apa saja untuk Naira.


"Oke, kalo tebakan aku yang betul. Kalian harus bayar apa yang kalian makan, tapi kalo tebakan bang Haikal betul, aku yang akan traktir kalian." Ucap Naira dengan percaya diri nya.


"Oke diel ya!" Dega yang menjawab, "Awwwhhhhh pelan pelan dong, jangan di tekannn, kan sakit!" Keluh Dega karena Mega mengolesi obat merah dengan katenbat lumayan di tekan pada sudut bibir Dega yang berdarahhh.


"Makanya gak usah banyak omong! Udah tau lagi di obatin, ngoceh mulu!" Dumel Mega dengan matanya yang melotot tajam pada Dega.


Dega membatin, nih cewek kalo di perhatiin boleh juga, udah galak, cantik, pengertian pula, astaga Dega jangan mimpi lo, ini pasti cewe udah ada yang punya. Tapi kenapa ini cewe mulai narik perhatian gw ya!


Naira masuk ke dalam kitchen, "Bang, buatin minum buat 4 orang ya!" Seru Naira saat melihat Angga tengah duduk dengan memperhati kan Rion yang sedang menggoreng.


"Siap bos!" Ledek Angga dengan memperhatikan Naira, "Lo bener gak apa apa Nai?" Tanyanya karena tadi Novi sempet bercerita sedikit jika Naira berani melawan penjahat yang hampir menculiknya.


"Gak apa ko! Nai ke atas dulu bang!" Naira menutup kembali pintu kitchen dan melangkah menaiki anak tangga.


Mega kembali ke meja kasir dengan membawa kotak P3K.


Tak.


"Awh." Rintih Dega saat kepalanya di hadiahi jitakan oleh Haikal.

__ADS_1


"Jaga mata lo, begooo!" Sungut Haikal.


"Itu anak boleh juga bang, kalo gw perhatiin." Ucap Dega pelan dengan matanya yang masih mengekor pada Mega.


"Berhadapan lo sama Nona, apa lagi itu anak cuma buat lo maenin! Abis lo di buat daging giling ama Nona!" Ucap Haikal yang tau sepak terjang Dega pada wanita.


Dega bergidik ngeri mendengar ocehan Haikal.


Pram turun dari mobil tanpa menunggu Dev yang membukakan pintu mobil untuk nya.


Dengan langkah kakinya yang lebar, Pram masuk ke dalam kedei, menyapu ruang mencari ke beradaan Naira.


Haikal dan Dega langsung berdiri menghampiri bosnya.


Dega membatin, ternyata yang di bilang bang Haikal bener, bos Pram langsung ninggalin meeting nya buat Nona.


Haikal membatin setelah memberi hormat pada Pram, jangan beri kami hukuman di tempat umum bos, ini tidak akan baik untuk nama baik mu!


Pram berdecih, "Di mana Nai?"


"Ada di lantai atas, bos." Ucap Haikal.


Pram bergegas menuju lantai atas dengan pikiran yang kacau, membayangkan luka memar pada tubuh Naira membuatnya tidak bisa berfikir. Pram mengakhiri meeting lebih awal, padahal mereka belum mencapai pada kesepakatan.


Mega menggeleng gelengkan kepalanya nelihat Pram yang menaiki anak tangga, baru juga di omongin itu orang, udah ada bae di sini.


Novi membatin, abis lo Nai di hujani perhatian, pertanyaan pak Pram hihihi.


Pram meraih hendle pintu dan ingin membukanya, namun sayangnya di kunci dari dalam.


Ceklek ceklek.


"Sabar, masih ada orang di dalam." Ujar Naira dari dalam ruangan yang mengira jika Novi atau Mega yang berada di luar.


Pram mengetukkan pintu dengan tidak sabaran.


Tok tok tok.


"Ihs jadi orang gak sabaran banget sih!" Sungut Naira dengan suaranya yang terdengar kesal.


Ceklek.


Bugh.


"Akkkhh."


...💮💮💮💮💮...


......................


...💖 Bersambung 💖...


Terima kasih sebelumnya, yuk komen yuk, tambah tambah masukan buat author.


Jangan lupa tinggalin jejak like oke! 😊

__ADS_1


__ADS_2