
Yang ditungguin pun keluar juga.
"Lama bener mandinya, Cami sampai rambutnya layu dan menguning nih nungguin Canis mandi" kata Fariel.
"Duh kacian Camiku ini, maafin Canis ya, kan Canis dandan dulu yang cantik biar Cami gak lirik kanan kiri" kata Tia.
"Iya my heart, Cami mana bisa lirik kanan kiri, kalau didepan ada bidadari yang turun ntah darimana" kata Fariel.
"Hahaha, Cami bisa aja" kata Tia.
"Mungkin bidadari jatuh dari kamar mandi ya Mi."
"Dandannya gak usah terlalu cantik, nanti kalau ada yang naksir dan Canis tertarik kan Cami jadi merana" kata Fariel.
"Merana apa merene" kata Tia.
"Duanya kali ya" kata Fariel.
"Yuk cabut, dah siang ini mi" kata Tia, sambil melihat jam di tangannya.
"Gak ah, males" kata Fariel.
"Iih, Cami mah, katanya mau nemenin jalan" kata Tia.
"Ganti dulu pakaiannya, Cami gak suka Canis pake pakean kek gitu, itu terlalu terbuka, celananya apalagi tuh, mau bikin lalat nemplok apa" kata Fariel.
"Ganti baju yang agak tertutup atau pake jilbab baru berangkat, cocok."
Tia malah memajukkan mulutnya kedepan.
"Tu mulut biasa aja napa" kata Fariel.
"Dengerin Cami ya."
"Cami gak mau orang lain melihat tubuhmu itu, karena yang kamu kenakan pakaian nya itu terlalu pendek, lihat tuk kakimu keliatan kaya ketela putihnya, pake pakean yang lebih tertutup dan celanya harus bisa dibawah lutut dan betisnya kalau bisa jangan keliatan begitu, Cami gak suka lihatnya."
"Iya, Canis ganti sekarang, tapi Cami janji bakal bawa Canis jalan-jalan" kata Tia.
"Iya bidadari Cami yang cantik" kata Fariel.
"Sana ganti sama yang lain, atau pakean yang Cami kasih kemarin itu kan gak terlalu terbuka."
"Iya, tunggu ya Cami ku" kata Tia.
"Iya aku tungguin disini" kata Fariel.
Tia pun langsung masuk lagi kedalam buat ganti lagi.
"Make up nya jangan tebal-tebal, yang natural aja" kata Fariel, teriakku.
"Iya camiku yang bawel" kata Tia, teriaknya dari dalam.
"Duh canis-canis, bikin gemes aja, untung aja gak buat aku goyah, sempat goyah bisa gawat" kata Fariel, ucapku dalam hati.
Yang di tunggu muncul juga.
"Kalau ini gimana mi" kata Tia, yang memperlihatkan pakaiannya.
"Nah kalau gini kan lebih keliatan cewek bidadari asli, keliatan ceweknya bukan cabe-cabean kaya tadi" kata Fariel.
"Makasih Camiku sayang, makasih juga pakaiannya pas buat Canis" kata Tia.
"Cami kok bisa tau ukuran nya bisa pas gini, tau dari mana."
"Cami hanya ngira-ngira aja, itu juga Cami cobain kemaren, kan tubuh Canis beda tipis sama Cami, jadi mudah bagi Cami nyarinya" kata Fariel.
"Hah Cami cobain, berarti bekas Cami dong ini" kata Tia.
"Pasti Cami cantik kalau pake ini."
"Ada aja Canis ini" kata Fariel.
"Cami hanya nyobain bajunya aja, masa iya Cami cobain semuanya, emang Cami cowok apaan, bisa dibilang cowok cucak dong, kan sebel tau yeee" sambil dengan gaya melambaikan tangannya.
"Ih, Cami lucu, tapi mirip tuh Mi, dah kaya aslinya malah, sini Canis dandanin biar makin cucok" kata Tia, dengan senyumnya.
"Gak mau, nanti Canis kalah cantik mebahana dari eyke dong, eiyke kan dah cantik" kata Fariel, dengan gaya gemulai nya.
Tia malah makin ketawa dengan melihat tingkahku.
"Aakit perutku lihat Cami gitu, beneran mirip" kata Tia, lalu kembali ketawa sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Udah Mi, aku gak kuat lihat Cami berdiri kaya gitu."
"Kan tadi canis yang bilang Cami kaya cowok kw" kata Fariel.
"Sini Canis dandanin dikit, biar keliatan cowok abis" kata Tia, sambil menarik tanganku.
"Abis cowoknya, berati cucok lagi dong ses" kata Fariel.
"Udah ya Mi ya, gak kuat aku, Canis angkat tangan deh" kata Tia, yang melihat aku jalan dengan gaya cowok kw.
"Kalau gak kuat lambaikan ke kamera, disana disana dan disana juga" kata Fariel.
"Ihh apaan sih, emang lagi uji nyali apa" kata Tia.
"Canis gak kuat lihat gaya Cami sama ngomongnya."
"Cami belajar dari mana sih begituan."
"Bikin aku sakit perut tau ketawa mulu, bisa-bisa bocor nih nanti, jadi gagal jalan kalau dah bocor, jadi harus mandi lagi terus dandan lagi, kalau lihat Cami begitu."
"Cami pernah digodain waktu potong rambut sama si tulang lunak, bahkan sampai dia tiba-tiba duduk dipangkuanku pula, hih ngeri" kata Fariel.
"Hahahaha, berarti cami ketularan dong sekarang sama dia" kata Tia.
"Amit-amit, jangan sampai" kata Fariel, sambil mengetuk-ngetuk tangannya dimeja.
"Sini ah biar Canis dandanin sedikit" kata Tia.
"Iya, tapi jangan tebal-tebal, kalau mau tebal pake cap tiga roda aja" kata Fariel.
"Hah, kaya adonan dong" kata Tia.
"Nah tu tau, mending yang biasa aja" kata Fariel.
"Iya, ini yang biasa kok, Cami kaya habis cuci muka doang terus langsung kemari" kata Tia.
"Emang iya, Cami hanya cuci muka doang, habis tadi ada sedikit kendala jadi buru-buru" kata Fariel.
"Tapi Cami dah mandi ya, wanginya pun masih nih."
"Iya Canis tau, Cami mau wangi apa gak, Canis tetap sayang, kan dihati hanya ada Cami seorang yang selalu bikin aku kangen" kata Tia, sambil memoles wajahku.
"Dah cukup, Cami mah tetap ganteng, dipoles sedikit aja dah keren kaya oppa oppa korea."
"Rambutnya pun dah oke, gak berantakkan macam baru bangun tidur, hanya tinggal dipotong lagi aja biar gak kepanjangan mi."
Akupun langsung melihat kearahnya.
"Mana ada oppa korea matanya belo kaya gini, mata Cami kan besar" kata Fariel, yang melihat hasil fotonya.
"Dah panjang rupanya ya rambut Cami, perasaan belum lama aku potong ini rambut. "
"Mana ada belum lama, dah lebih dari sebulanan, bahkan kayaknya dua bulan pun dah lebih" kata Tia.
"Kenapa baju Cami kaya gitu sih, kaya gak ada baju lain aja."
"Maaf, cami lepas bajunya tadi dimobil, habis panas sih, jadi pake kaos doang deh, hehehe" kata Fariel.
"Tapi bajunya itu loh Mi, dah kedodoran kerah dileher" kata Tia.
"Emang Cami suka yang beginian, biar angin masuk, alnya kalo pake kaos yang agak kekecilan dibagian leher cami gak betah" kata Fariel.
"Kalau kaya gini kan macam dipantai, santai gitu."
"Iya deh iya" kata Tia.
"Yuk kita pergi, dah siang nih, dah lapar juga tau."
"Ya udah ayok, ini gelas sama piringnya dimasukkan dulu dong" kata Fariel.
"Dah biarin aja, lagian juga dah kosong juga, gak papa disitu aja" kata Tia.
"Ya udah ayok kita berangkat" kata Fariel.
Tia langsung menggandeng tanganya ke lenganku dan berjalan menuju mobil, sampai didalam mobil.
"Ini pake mobil sapa Mi" kata Tia.
"Nyuri tadi di garasi" kata Fariel, sambil menyalakan.
"Ihh, Cami nyuri punya sapa, balikin, Canis gak mau ya masuk penjara gara-gara bawa mobil curian" kata Tia.
__ADS_1
"Tenang aja, yang Cami curi dah Cami telpon kok tadi, hanya minta dijemput aja nanti siang" kata Fariel.
"Emang punya siapa Mi" kata Tia.
"Punya Mami, tadi aku curi bawa pergi, setalah Cami bawa baru ngomong sama Mami kalau mobilnya aku curi buat jalan-jalan keluar ketemu seseorang yang spesial" kqta Fariel.
"Terus kata Mami gimana" kata Tia.
"Tinggal dipake aja, asalkan Mami pulang harus kamu jemput" kata Fariel.
"Ohhh, berarti Mami Cami dukung kita dong buat jalan-jalan" kata Tia.
"Iya dong, kan Canis itu sebagian dari kebahagiaan ku, jadi pasti mereka izinin lah" kata Fariel.
"Duhh, jadi gak sabar akunya" kata Tia.
"Apanya hayooooo" kata Fariel.
"Gak ada, hanya pangen ketemu mereka aja, pengen ngobrol biar lebih akrab aja gitu" kata Tia.
"Ohh kirain apa" kata Fariel.
"Pikiran Cami kali yang mikir entah kemana" kata Tia.
"Hehe tau aja" kata Fariel.
"Ini mau makan dimana nih kita."
"Emmmmm, kalau di sana di ayam geprek gimana Mi, yang dekat laut" kata Tia.
"Cami mah ngikut aja, kemana Canis mau aku ikutin, selagi bisa kan, nanti kalau gak bisa ngikutin kemauan Canis bisa-bisa Cami di diemin, Cami kan gak bisa di diemin, rasanya itu lebih sakit dari sakit gigi" kata Fariel.
"Ahh gombal" kata Tia.
"Tapi beneran, ini gak gombal, Canis aja yang suka digombalin" kata Fariel.
"Duh canis makin sayang aja nih" kata Tia.
"Harus dong, kan Cami juga makin sayang sama Canis, apa lagi kalau Canis mau pake hijab, pasti Cami makiinnnnnn sayang sama Astria" kata Fariel.
"Duuuh Canis jadi gak mau jauh-jauh dari Cami, Canis rela deh dibawa pulang sekarang" kata Tia.
"Nanti kalau udah sah baru Cami bawa pulang, terus Cami kurung dikamar selama seminggu dikamar" kata Fariel.
"Iihh kok gitu, Canis kan pengen juga masakin Cami, masa dikurung dikamar, emang Canis mau diapain dikurung" kata Tia.
"Diapain aja, macem-macem pokoknya" kata Fariel.
"Hayo pasti mikirnya dah kemana-mana nih si Cami" kata Tia.
"Gak juga, biasa aja" kata Fariel.
"Canis kapan mau pake jilbab terus selain di kamar."
"Hmmmm, nanti aja kalau udah Cami lamar Canis dan dah ngenalin Canis sama keluarga Cami, dan Cami juga dah dapat lampu hijau dari orang tua clCanis" kata Tia.
"Lama dong, kan Cami maunya mulai besok Canis dah gak pake pakean terbuka kaya tadi, apaan baju kurang bahan dibeli, mana celana bocah SD di pake lagi, itu celana khusus dalam kamar dan hanya anak laki-laki yang boleh pake celana pendek kaya tadi" kata Fariel.
"Iya iya, besok canis usahain gak lagi pake pakean kaya itu lagi kalau keluar rumah" kata Tia.
"nlNah gitu dong, awal mula yang baik, sapa tau nanti bakal jadi terbisa pake pakean yang tertutup kalau keluar rumah, walaupun hanya selangkah keluar dari pintu" kata Fariel.
"Iya Camiku sayang, duhhhh gemes Canis sama Cami, jadi pengen nyium" kata Tia.
"Tahan ya sampai nanti, katanya suruh nunggu dua tahun lagi sampai lulus kuliah, jadi ditahan ya" kata Fariel.
"Oke, tapi kalau Canis gak kuat gimana, abis Canis kan suka galau kalau gak ada kabar dari Cami sehari aja" kata Tia.
"Iya deh iya, nanti kalau dah gak tahan biar Cami yang bilang sama orang tua Cami buat lamarin Canis" kata Fariel.
"Makasih Cami" kata Tia, sambil memeluk dari samping.
"Ini Cami lagi nyetir loh, peluknya ditahan ya" kata Fariel.
"Dah gak bisa nahan, abis Cami bikin gak kuat Canis nahannya" kata Tia.
"Ya udah, sekarang kan dah sampai nih, peluknya lepasin dulu, Cami mau markirkan dulu ini, nanti bisa nabrak atau nyerempet orang atau motor lain yang diparkiran" kata Fariel.
"Oke, dah lepas" kata Tia, yang melepaskan pelukannya.
"Makasih kakak gemes" kata Fariel.
"Oke, adek tampan" kata Tia.
Akupun langsung memarkirkan mobilnya ditempat yang tersedia.
__ADS_1
"Yuk turun, apa mau Cami gendong" kata Fariel.