
"Assalamualaikum, tok tok tok" kata Mami.
"Waalaikumsalam, masuk aja Mi" kata Fariel, yang baru selesai Shalat.
"Habis Shalat ya" kata Mami.
"Iya Mi, baru aja selesai" kata Fariel, yang sedang merapikan dan melipat sajadah dan sarung.
"Ada apa Mi."
"Gak ada apa-apa, kirain Mami kamu malah tidur" kat Mami.
"Makanya Mami kesini mau bangunin kamu biar Shalat terus makan siang bareng dibawah."
"Kalian aja deh Mi, aku gak lapar" kata Fariel.
"Loh kok gitu" kata Mami.
"Apa kamu marah sama adek dan kakak karena bertanya seperti itu dan menuduh mu yang tidak-tidak."
"Dikit Mi" kata Fariel.
"Wajar kalau mereka bertanya seperti itu, mereka kan perempuan, jadi gak mau kamu menodai perempuan terus gak tanggung jawab" kata Mami.
"Mereka hanya takut kamu melakukan hal itu saja."
"Apalagi mereka juga seorang perempuan."
"Maafkan mereka, mereka takut kehilangan kamu, kan kamu tau seperti apa Ervi kepadamu, jadi kamu maklumi saja ya."
"Kalau Fida mungkin hanya terbawa suasana saja, karena orang hamil suka ikut terbawa suasana."
"Mami harap kamu jangan marah sama mereka, kasian mereka juga kalau kamu marah dan diemin mereka."
"Iya Mi, tapi bukan sekarang, aku lagi butuh waktu" kata Fariel.
"Mau menenangkan pikiranku."
"Iya Mami ngerti kok, Mami kan juga pernah muda, pernah merasakan apa itu kecewa" kata Mami.
"Mami cuman mau bilang sama kamu, ini penting."
"Apa Mi" kata Fariel.
__ADS_1
"Ngomong aja, sapa tau aku bisa bantu."
"Ya memang Mami mengaharapkan bantuanmu, karena hanya kamu yang Mami percaya" kata Mami.
"Emang apaan Mi" kata Fariel.
"Papi sama Mami kan mau pergi, Ervi juga" kata Mami.
"Jadi Mami nitip kak Fida sama kamun dirumah."
"Emang mau kemana Mi" kata Fariel.
"Kami ada urusan diluar kota, ini juga untuk adek" kata Mami.
"Kemungkinan besok kami berangkat siang."
"Sebenarnya Mami gak tega meninggalkan kalian berdua dirumah, takut nanti jadi fitnah, tapi mau bagaimana lagi, Mami butuh bantuanmu, gak mungkin Mami tinggalkan Fida sendirian walaupun ada bibi dirumah, kalau dibawa juga kasian kan dah mau sembilan bulan, Mami perginya sekitar dua mingguan disana."
"Mami harap kamu jangan pindah dulu sebelum kami pulang ya."
"Iya Mi, nanti kujagain kakak" kata Fariel.
"Bagaimanapun dia juga keluaragaku, kakakku, jadi tanggung jawabku juga."
"Gak kok Mi, Mami gak ngerepotin, malah saya yang salu bikin repot kalian" kata Fariel.
"Mami hanya nitip itu saja" kata Mami.
"Biar nanti kalau ada apa-apa kamu bisa langsung menghubungi Mami."
"Kalau masalah yang lain ada bibi yang bakal nemenin kak Fida kalau butuh sesuatu atau nemenin tidur dan ngobrol saat kamu kerja."
"Kamu kerjanya gak usah sampai sore, cukup sampai siang aja, biar kamu bisa jagain kak Fida saat bibi sedang belanja atau masak."
"Iya Mi, nanti kuusahakan pulang cepet terus Mi" kata Fariel.
"Emang urusan apaan sih Mi kalau boleh tau."
"Ini hanya masalah perusahaan milik Ervi, dan beberapa tempat usaha dan rumah" kata Mami.
"Jadi harus kami serahkan sama Ervi karena memang ini miliknya bukan milik Mami ataupun Papi, kami hanya membantunya saja."
"Oohh, emang Ervi punya usaha sendiri ya Mi, kok aku gak tau kalau dia punya perusahaan" kata Fariel.
__ADS_1
"Nanti kamu bakalan tau kalau sudah waktunya, sekarang yang penting kamu jaga diri baik-baik dan jagain kakak juga dirumah ya" kata Mami.
"Iya Mi, akan aku usahakan semampu ku" kata Fariel.
"Makasih ya anak Mami yang ganteng ini, makin ganteng kalau rambutnya pendek gini, keliatan tampannya, gak berantakan" kata Mami.
"Iya Mi makasih" kata Fariel.
"Ya udah kalau gitu Mami mau turun buat makan, kalau kamu gak mau makan ya gak papa, tapi nanti kalau lapar jangan lupa langsung makan ya, jangan dibiarin, ntar sakit" kata Mami.
"Iya Mi, nanti kalau lapar langsung makan kebawah, aku mau tidur siang aja" kata Fariel.
"Ya sudah kalau gitu Mami keluar ya Assalamu'alaikum" kata Mami.
"Waalaikumsalam" kata Fariel.
Setelah Mami keluar, aku langsung merebahkan badanku dengan tengkurap, sambil memikirkan sesuatu.
"Kenapa hidupku seperti ini, berantakan."
"Kenapa tadi membentak mereka dan marah, seharusnya aku sadar diri kalau yang mereka takutkan itu beneran terjadi dan aku melakukan hal yang mereka takutkan."
"Kenapa aku marah ya."
"Benar yang dikatakan Mami, mereka perempuan jadi wajar kalau bertanya semacam itu padaku, apalagi aku sering ke kosannya dan masuk kedalam, dan bahkan pernah memeluknya juga menggendongnya juga."
"Maafkan aku yang gak bisa mengontrol emosiku tadi."
"Apa ini semua ada hubungannya dengan rasa kecewa yang kualami hingga membutaku tak mampu menahan emosi."
"Gimana kabarnya ya, apa sudah sadar dari pingsannya dan baik-baik saja."
"Mudah-mudahan mau membuka senyummu."
"Jangan kau buat luka padanya, bahagialah dengannya."
"Aku pasti akan datang nanti tapi bukan untuk mu bukan untuk memintamu kembali padaku."
"Mungkin aku datang dengan memberikan kado buat anak pertama mu dengannya atau selembar kertas undangan."
"Selamat bahagia mantan terindah yang pernah kumiliki namun belum sempat kujadikan pendamping hidup sudah pergi dengan yang lain."
Aku langsung memejamkan mata dan tidur.
__ADS_1