Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Kelakuan Ervi


__ADS_3

Dan kita langsung menaiki motor, tapi bukan motor matic, katanya gak matic gak asik, gak beat gak so sweet, gak scoopy gak happy, tapi pake motor kesayangan ku si kalajengking, jadi gak kalajengking gak apa ya kira-kira, apa gak jengking kali ya joknya.


"Pake motor mas aja yang dah makin keren sekarang" kata Ervi.


"Ini kenapa kamu buat kaya gini sih, pake dirubah dan dibuat kaya gini" kata Fariel.


"Ini lagi ada tulisan apaan lagi ini."


"Kan makin keren sekarang, jadi makin keliatan garang dan makin keliatan romantis kalau tuk boncengan" kata Ervi.


"Kan gak pio gak nomer uno, gak kalajengking gak nungging."


"Keren kan mas, itu adek loh yang buat kata-kata nya."


"Kan mas janji sama adek boleh ngelakuin apa aja sama motor ini, ya adek buat kaya gini sekarang."


"Ini ketinggian adek" kata Fariel.


Sebenarnya hanya naik sekitar sepuluh centian aja.


"Emang gak susah apa yang bonceng dan yang boncengin, kan makin nahan kalau mereng begini."


"Gak kok, itu pas, adek aja biasa aja makenya, masa mas yang katanya berbadan oke malah loyo sih" kata Ervi.


"Ini tuh makin enak kalau buat lari dan nikung, apalagi boncengan."


"Mau dikatain mas ini modus apa gimana nih nanti kata orang-orang" kata Fariel.


"Ya dah kalau gitu ade yang bawa, dan mas yang bonceng, kalau gak mau" kata Ervi.


"Enak aja, apa mau dikata nanti" kata Fariel.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu mas yang bawa dan adek mau bonceng dengan pegangan yang romantis, kalau bisa kalahin tuh dilan" kata Ervi.


Aku hanya menggeleng kan kepala mendengarkan ucapan Ervi yang tah kemana-mana.


"Kita mau kemana nih sebenarnya nih" kata Fariel.


"Kemana aja bebas, yang penting bisa jalan-jalan sama mas" kata Ervi.


"Ngukur jalan pun boleh, asal adek bisa selalu sama mas."


"Ya udah ayok naik" kata Fariel.


Ervi langsung naik dan melingkar kan tangannya dipinggang ku.


Dan aku langsung menghidupkan motorku dan jalan.


Kukendarai motor ini dengan santai menikmati jalanan yang penuh kebisingan dan asap kendaraan.


"Oke, kita kesana, tapi mau yang mana nih, kan banyak pinggir laut" kata Fariel, dengan sedikit keras supaya Ervi dengar, karena dijalan banyak suara knalpot motor racing, termasuk knalpot motorku yang kini jadi suara racing akibat kelakuan Ervi yang suka pake, dan di ganti racing dan makin miring.


"Bebas, yang mana aja, kalau bisa jangan yang terlalu rame, tapi ada makanannya, biar mas gak kelaparan" kata Ervi.


"Kalau ke ramean nanti gak bisa romantisan sama mamas deh."


"Sakarepmu" kata Fariel.


Dan akupun langsung bejalan menuju tempat yang diminta Ervi, yaitu pinggir laut.


"Dah sampe nih" kata Fariel.


"Disini aja ya, rame gak papa, biar kamu gak aneh-aneh nanti."

__ADS_1


"Aneh apaan, paling hanya minta peluk aja sama makan disuapin" kata Ervi.


"Kan mas yang bilang harus membuat kenangan baru untuk disimpan dalam memori, biar yang lama hilang perlahan karena tertimpa kenangan baru."


"Hemmm itu mah kamunya aja yang ingin mas ajak romantisan" kata Fariel.


"Bisa dibilang iya, bisa dibilang juga he'em" kata Ervi.


"Ya udah ayok turun, jangan bilang minta digendong sama mas" kata Fariel.


"Maunya sih iya" kata Ervi.


"Ya udah ayok, biar mas gendong terus mas lempar kelaut" kata Fariel.


"Dilempar kelaut" kata Ervi.


"Maunya kan dilempar pake cinta dari hati mas."


"Aduh aduh mulai kumat nih kayaknya" kata Fariel.


"Gak papa kumat dan gila" kata Ervi.


"Kan gilanya juga karena cinta mas, makanya kumat deh."


"Terserah deh, yang jelas sekarang turun, mas dah lapar nih mau makan dah keroncongan nih habis lomba tadi tenaga mas dikuras abis" kata Fariel.


"Iya deh iya, tapi gendong" kata Ervi.


"Gendong dibelakang aja gak papa kok, Ervi ikhlas."


"Mas yang gak ikhlas, adek yang digendong dan mas yang gendong, kok yang digendong yang bilang ikhlas" kata Fariel.

__ADS_1


Dan kitapun langsung turun dari motor, dan aku langsung berjalan duluan, kalau nungguin Ervi kelamaan, banyak dramanya.


__ADS_2