
Setelah selesai makan kami pun langsung meniggalkan meja makan masing-masing.
"Ayok dek biar mas antar, mau mas antar pake apa, mobil apa motor" kata Fariel.
"Adek mau berangkat sendiri aja" kata Ervi.
"Adek marah sama mas, marah karena apa, biar mas tau letak kesalahan mas" kata Fariel.
"Adek tetap mas antarkan, mas ambil tas dulu sama pake baju, kamu tungguin mas digarasi nanti ya."
Ervi langsung berjalan menuju kamarnya tanpa menjawab perkataan ku.
"Kenapa ya adek kaya marah sama aku, salah apa yang aku perbuat hingga dia marah sama aku seperti ini, tak seperti biasanya yang suka manja" kata Fariel, ucapku dalam hati sambil berjalan masuk kamar.
Langsung aku ganti baju dan celana dan pakai parfum terus memasukkan beberapa berkas kedalam tas, setelah itu turun kebawah menuju garasi.
"Eh Aden, mau berangkat pakai yang mana, ini kucinya Den" kata Udin, yang menunjukkan beberapa kunci kendaraan.
"Bentar Pak, nunggu Ervi dulu, dia belum kesini kan" kata Fariel.
"Belum Den, paling masih ganti, kan aden tau cewek kalau dandan lama, pupuran dulu yang tebal, terus pake itu apalah itu yang merah-merah di bibir kaya biduan lagi dapat orderan manggung" kata Udin.
"Pupur, bedak kali Pak, atau make up" kata Fariel.
"Mantap dong Pak kalau kaya biduan, gak lihat bentuk waran kulit yang penting muka putih walau setebal mungkin."
"Hahahaha iya Den, kaya ondel-ondel kalau goyang pas dimasukin koin" kata Udin.
"Pak Udin bisa aja" kata Fariel.
"Lah itu orangnya Den baru nongol, tapi kok kaya lagi cemberut gitu Den" kata Udin, bisiknya padaku.
"Lagi banyak tugas kali Pak" kata Fariel.
"Ooh" kata Udin.
"Mau berangkat pake apa" kata Fariel.
"Terserah" kata Ervi.
"Yaudah kalau gitu pake mobilmu aja ya, kan dah lama gak dipake, mas pun mau nyoba gimana sih rasanya pake mobil sport kaya gitu" kata Fariel.
"Pak mana kuncinya."
"Terserah mas" kata Ervi.
"Ini Den" kata Udin.
"akayaknya lagi pms juga Den."
"Bisa jadi kali Pak" kata Fariel.
"Yuk masuk, apa mau mas bukain pintunya."
"Gak perlu" kata Ervi, yang langsung membuka pintu mobilnya, dan akupun langsung membuka pintu lalu masuk dan menutupnya lagi.
"Pake sabuk pengaman dulu dek" kata Fariel, sambil memakaikan sabuk pengaman pada Ervi, kemudian baru aku sendiri.
Langsung kunyalakan mobilnya lalu klakson ke Pak Udin dan Pak Udin pun menganggukkan kepala terus jalan mengitari jalanan kota mengantarkan Ervi untuk kuliah. Sampai didepan pintu gerbang tempat kuliah aku menghentikan mobilnya.
"Kalau ada masalah sama mas ngomong, jangan dipendam dihati, gak baik" kata Fariel.
__ADS_1
"Mas mau kamu itu terbuka sama mas, apapun masalahnya, mas gak mau lihat kamu itu cemberut melulu kaya gitu, apa karena mas."
"Mas tunggu ceritamu nanti, apapun masalahmu pasti mas akan bantu, walaupun kebahagiaan mas akan jadi korbannya, asalkan adek mas bisa selalu tersenyum buat mas dan yang lainnya."
Ervi langsung membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya.
"Maksih" kata Ervi, lalu turun dan menutup pintu mobilnya.
"Yaallah apa salah dan dosaku ini hingga membuatnya jadi seperti itu terhadap ku dan yang lainnya" kata Fariel, sambil menutup muka dengan kedua telapak tanganku.
Lalu aku langsung cabut menuju minimarket buat mengantarkan beberapa berkas yang harus mereka kerjakan untuk mereka masukan kedalam minimarket sebagai varian makanan baru yang baru muncul.
Sampai ditempat langsung ku parkir kan mobilnya sesuai arahan tukang parkir yang ada dan kemudian turun sambil membawa tas ditangan kananku.
"Mobil baru ya bos."
"Minjem Pak, saya masuk dulu ya Pak, lanjutkan kerjaan Bapak" kata Fariel.
"Iya bos."
Akupun langsung masuk kedalam gedung.
"Pagi semua, semoga kalian semua sehat ya" kata Fariel, ucapku pada mereka semua.
"Sehat bang" ucap mereka serentak.
"Saya kedalam dulu, lanjutkan kerjaan kalian" kata Fariel.
Akupun langsung masuk kedalam ruangan menejer.
"Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam bang" kata f, l.
Akupun langsung duduk, lalu membuka tasku dan memberikan beberapa kertas berisi catatan nama produk.
"Ini catatan produk baru, yang kemungkinan akan kita masukkan kemari, jadi aku minta buat kalian sediakan tempatnya untuk ini, dan susun sesuai tempatnya, jika nanti ada yang kurang bisa hubungi aja langsung kesaya atau Mami juga boleh, jika saya sibuk" kata Fariel.
"Kalian cari info dulu tentang barang itu, mungkin sudah ada yang jual di sekitar sini."
"Baik bang, akan kami kerjakan" kata l.
"Nanti akan datang beberapa produk itu kemari sabagai contoh, jadi nanti saya harap kalian bisa mengeceknya dan mencoba beberapa dari itu, karena akan datang dengan orang nya langsung yang mungkin akan menjelaskan secara detail ke kalian" kata Fariel.
"Saya minta nanti kalian buat dokumentasi nya untukku, kalian tanyakan tentang produk-produk itu."
"Baik bang nanti akan kami lakukan permintaan abang" kata f.
"Kalau gitu saya permisi Assalamu'alaikum" kata Friel, sambil berdiri.
"Waalaikumsalam" jawab keduanya.
Setelah keluar aku mencoba keliling sebentar buat melihat-lihat saja sambil mengecek barang.
"Lanjutkan aja kerjaan kalian, aku hanya ingin melihat-lihat aja" kata Fariel.
Lalu lanjut keliling lagi.
"Ehhh abang tampan, dah lama gak datang, gak kangen apa lihat senyum ku yang manis ini" kata Baiti.
"Aduh mulai lagi nih kumat nya" d.
__ADS_1
"Senyumnya kamu terlalu manis, aku gak bisa dengan yang manis-manis, suka yang biasa aja" kata Fariel.
"Lanjutkan kerjanya ya, saya mau lanjut keliling lagi" lalu jalan sambil membawa tas.
"Iya bang" d.
"Oke mas tampan" kata Baiti.
Setelah keliling dan melihat-lihat akupun langsung keluar untuk pergi kekantor.
"Bang, gak mau nyapa dulu sama calonnya nih" kata f.
"Calon apaan" kata Fariel.
"Kalau ngomong yang lengkap dong, lagi pening ini."
"Nyapa calon istri maksudnya, iyakan" kata h.
"Kalian apa-apaan sih" kata Tania.
"Pa perlu obat bang" kata c.
"Obatnya kan sudah ada di depan mata, nih" h, sambil mendorong bahu Tania.
"Mana senyumnya" kata Fariel.
"Ehmmmm" f, h.
"Itu disuruh senyum sama calonnya, malah diem kaya patung pancoran" kata f.
"Udah-udah, kalian lanjutkan kerjanya, aku mau ke tempat lain lagi, tolong dijagain dianya ya, kalau ada yang sakit langsung kabarin aku ya, dan antarkan pulang langsung kalau bisa" kata Fariel.
"Siap bosss" kata f.
"Nomernya mana bang, bukan buat aku loh, buat calonnya, biar bisa kontekan gitu, gak galau mulu tiap malam mikirin si bos mulu kalau di kosan" kata h.
"Mana hpnya biar ku catatkan" kata Fariel.
"Ini bang" f, yang memberikan HP Tania.
"Kok HP gua sih" kata Tania.
"Masa sama calon sendiri kaya gitu" kata h.
aAkupun langsung menerima dan menuliskan nomernya.
"Nih, tinggal kamu save dan dinamain terserah kamu aja, bebas mau kasih nama apaan yang menurut kamu cocok" kata Fariel, sambil memberikan HP padanya.
"Aku duluan ya, kalian kerja yang benar, Assalamu'alaikum para wanita cantik bumi."
"Waalaikumsalam bang" ucap mereka serentak.
"Jawab salamnya tuh, jangan diem aja" kata h.
"Salam tu doa juga" kata h.
"Dengarin tuh kalau ustadzah ngomong" kata f.
"Waalaikumsalam" kata Tania.
"Dah kan."
__ADS_1
"Kalau bahagia biasa aja, salam juga harus dijawab, masa mentang-mentang dapat nomernya calon imam sampai bengong gitu" kata h.