
Selesai makan tak lupa ngobrol sebentar seperti biasa sambil menurunkan makanan kedalam perut.
"Papi langsung cabut berangkat aja ya Mi, Nak, dan cucu Papi yang cantik" kata Papi.
"Iya Pi" kata Fida dan Ervi.
"Kok buru-buru sih Pi" kata Mami.
"Aku libur ya Pi" kata Fariel.
"Ada pertemuan pagi ini" kata Papi.
"Kelamaan ngobrol tadi sama nunguin anak kita yang lagi happy, jadi telat sarapan, jadi Papi enggak bisa ikutan ngobrol dulu, langsung berangkat aja."
"Papi paham, urusin dulu, dan manjakan aja dulu apa yang dimau."
"Liburmu juga dah termasuk kerja juga, karena harus menemani anak Papi yang suka banyak maunya."
"Ih Papi" kata Ervi.
"Iya Pi iya" kata Fida.
"Memang kami banyak maunya."
"Ya dah ya Papi pamit, Assalamu'alaikum" kata Papi, tak lupa mencium kening Mami dan memberikan salam untuk Mami dan barulah kekami semuanya.
"Dada cucu Papi."
"Waalaikumsalam" kata semuanya.
"Dada Papi" kata Fida, karena Aya asik dengan cemilannya ditangan dan dimulut.
"Mami enggak masuk kebutik" kata Ervi.
"Apa libur" kata Fida.
"Masuk dong" kata Mami.
"Bos kan bisa masuk kapan aja, enggak harus pagi."
"Iya deh iya, yang bos mah bebas" kata Fida.
"Engak keminimarket Mi" kata Fariel.
__ADS_1
"Enggak juga, lagi males kesana" kata Mami.
"Dah ada yang bantuin kok kesana, tinggal santai sama lihat hasilnya aja."
"Iya deh tau" kata Ervi.
"Adekmu enggak pernah main kesini lagi" kata Fida.
"Apa sibuk banget ya hanya ngurus itu sampai enggak ada waktu buat kesini."
"Lagi sibuk godain mantan Sami tuh Ma" kata Ervi.
"Hah mantan" kata Fida.
"Iya, si itu loh , yang sering digodain sama bos dulu, yang sampai diajak kepelaminan minggu depan" kata Ervi.
"Oh si Tania" kata Fida.
"Mami enggak ikutan deh soal itu, mending Mami berangkat kerja aja lah" kata Mami.
"Daripada disini dengarin orang lagi pada bahas yang enggak masuk akal."
"Itu si Sami Mi" kata Ervi.
"Kok aku" kata Fariel.
"Mami berangkat ya."
"Assalamu'alaikum" yang tak lupa mencium pipi Aya dulu.
"Iya Mi, Waalaikumsalam" kata Semuanya.
"Dada cucu Mami" kata Mami.
"Sami dulu ngapain aja sama si itu" kata Ervi.
"Iya jujur ngapain aja dulu sama itu" kata Fida.
"Lah emang ngapain aja" kata FarielFariel.
"Kan kalian sudah tau semuanya, enggak ada yang kurahasiakan dari kalian."
"Bunda sama Mamamu aneh, suka nuduh Ayah yang tidak-tidak."
__ADS_1
"Salah apa coba Ayah."
"Banyak" kata Ervi.
"Iya, banyak salahnya" kata Fida.
"Pasti pernah ngelakuin hal aneh selain itu, seperti menggandeng tangannya" kata ErviErvi.
"Iya pasti pernah, enggak mungkin enggak" kata Fida.
"Apalagi sebagai bos, mana mungkin bawahannya nolak sama bos, bisa dipecat langsung tanpa pesangon."
"Pernah, sekali" kata Fariel.
Langsung ditarik telingaku kanan dan kiri oleh Ervi dan Fida secara bersamaan. Sedangkan Aya malah ketawa sambil bertepuk tangan melihat Ayahnya seperti ini.
"Nis lepasin, sakit loh" kata Fariel.
"Biar tau rasa, siapa suruh enggak pernah cerita sama kita" kata Fida.
"Iya, siapa suruh enggak jujur" kata Ervi.
"Pundaknya juga pernah kusentuh" kata Fariel.
Tarikannya bukannya dilepas malah makin ditarik telingaku.
"Auu, sakit Nis" kata Fariel.
"Katanya suruh jujur, kok malah makin ditarik."
"Pasti masih ada yang lain lagi" kata Fida.
"Apa lagi selain tangan dan pundak" kata Ervi.
"Enggak ada, hanya itu" kata Fariel.
"Pak Udin saksinya."
"Oh, jadi dah kompromi ya kalian, hemmmm bagus ya" kata Ervi.
"Apa hanya sekali aja, pasti lebih" kata Fida.
"Sekitar tiga kali kayaknya" kata Fariel.
__ADS_1
"Jujur Mi" kata Ervi.
"Bakalan kutanya sama Pak Udin" kata Fida.