
Sampai dirumah aku langsung masuk kedalam naik keatas dan masuk kamar tanpa mengeluarkan sepatah katapun yang keluar dari mulutku.
Sampai dalam kamar aku langsung melemparkan tasku keatas kasur lalu merebahkan badanku sambil teriak AAAAAAAHHHHHH yang begitu kencang, yang bisa didengar orang lain.
Lalu aku meraih tasku dan mengambil beberapa charger untuk men charger hpku, setelah itu mengeluarkan beberapa baju dan celana beserta handuk, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sampai dikamar mandi aku langsung meletakkan handuk lalu menghidupkan keran air untuk mengisi bathtub dengan air dingin.
Begitu terisi setengah aku langsung masuk kedalam bathtub untuk merendam tubuhku, sambil berendam "Tuhan kenapa ini terjadi padaku, apa kata mereka nanti" dengan menetes kan air mata lalu memasukkan kepalaku kedalam air beberapa detik dan beberapa kali juga diulang seperti itu.
Setelah berendam aku meraih handuk lalu keluar dengan memakai celana pendek dan handuk yang melingkar di pinggang ku lalu loncat keatas kasur dan meraih HP lalu menghidupkannya dan mendengarkan musik dengan Headset lalu memejamkan mata dengan keadaan masih bertelanjang dada.
Hingga tengah malam aku terbangun dengan keadaan yang masih sama tapi handuk yang sudah gak berada dipinggang kecuali celana pendek.
"Kata kakak dan adek kamu belum makan sejak pulang, dan langsung masuk kamar bahkan berteriak, ada apa nak" kata Papi.
Aku yang mendengar ada yang berbicara aku langsung mencari dari mana arah yang berasal.
"Kamu kenapa tidur dengan keadaan seperti itu, gak pake baju, hanya pake celana pendek saja" kata Papi.
Aku langsung bangun dari tidurnya dan duduk sambil melihat kearah samping.
"Gak papa Pi, hanya lelah aja" kata Fariel.
"Pakai bajumu dan celanamu" kata Papi.
Akupun langsung turun dari kasur dan meraih baju dan celana yang berantakan lalu memasukan kedalam tempat pakain kotor, lalu berjalan kelemari, lalu memakai celana panjang.
"Mas mana Pi" kata Ervi, yang tiba-tiba masuk.
"Iya Pi, adek mana, tadi kami mendengar teriakan dari sini, tapi kami takut untuk masuk, apa gak terjadi sesuatu kan Pi" kata Fida.
"Itu lagi pake baju" kata Papi, menunjuk kearah lemari yang dibalik pintu ada aku sedang memakai baju.
"Gak ada, hanya lagi cape aja tadi."
"Ada apa, kalian gak usah panik, aku baik-baik saja" kata Fariel, yang berada dibalik pintu.
"Gak papa kok mas" kata Ervi.
"Kalian keluar aja dulu" kata Fariel, yang dibalik pintu lemari khusus celana.
"Kenapa dek" kata Fida.
"Mas masih marah sama kami" kata Ervi.
Lau aku menutup pintu lemari, dengan masih bertelanjang dada.
"Aku belum pake baju, kalian lihat ini" kata Fariel.
"Astagfirullah, nak kamu kenapa" kata Mami, baru masuk kamar lalu melihatku seperti sedang marah.
"Lebih baik kita keluar, biar pakai baju dulu ya." ajaknya pada mereka.
Lalu aku membuka lemari baju, langsung memakai nya, setelah selesai aku duduk lagi di atas kasur dengan menundukkan kepala dan telapak tangan menutupi mukaku "maafkan aku."
"Nak yuk turun kebawah, kamu belum makan dari sore, hanya makan kue saja waktu di sana" kata Papi.
"Aku gak lapar Pi, aku mau tidur aja lagi" kata Fariel, dengan sesegukan menangis.
"Kamu makan aja dulu, walau hanya sedikit" kata Papi.
"Aku lagi gak nafsu makan Pi" kata Fariel.
"Kamu kenapa nangis nak" kata Papi, dengan mengusap-usap kepalaku.
"Apa ada yang sakit."
"Aku gak papa" kata Fariel.
"Maafkan aku, jika aku terlalu kasar dengan Papi dan Mami"
"Dan juga sama kakak dan adek" yang tangisnya makin sedikit lebih keras.
"Loh kok makin keras nangisnya" kata Papi, yang langsung ikut duduk disamping nya dan menarik tubuhku.
"Kamu gak salah nak."
"Udah dong nangisnya, malu sama yang lain" sambil mengusap-usap punggung ku.
"Maafin aku Pi" kata Fariel.
"Iya, Papi maafin kamu" kata Papi.
"Udah ya jangan nangis."
"Kenapa Pi, kok adek kaya lagi nangis" kata Fida, yang baru masuk.
"Gak ada apa-apa nak" kata Papi.
"Udah nangisnya, malu tuh ada Mami kakak dan adek juga" ucapnya padaku.
__ADS_1
"Mas" kata Ervi, yang juga ikut sedih.
"Mas kenapa, kok nangis" yang sudah meneteskan air mata nya.
Lalu aku menjatuhkan tubuhku dilantai dengan keadaan seperti berlutut
"Maafin mas, karena telah kasar sama kamu" kata Fariel, dengan menundukkan kepalanya.
"Mas, bangun" kata Ervi, yang mencoba menarik tanganku untuk berdiri.
"Mas gak salah, hanya aku aja yang kurang mengerti mas" dengan ikut menangis.
"Mas yang salah karena bentak kamu dan kakak barusan" kata Fariel.
"Maafin aku."
"dmDek, ayo bangun" kata Fida, berjalan lalu mencoba menarik tanganku untuk berdiri.
Lalu mereka berdua langsung mendudukan di kiri kananku pada lantai, Papi dan Mami yang melihat ikut bersedih dan menangis.
"Mas gak salah, semua kesalahan mas dah adek maafin" kata Ervi.
"Iya dek, kesalahan adek udah kakak maafin" kata Fida.
"Lebih baik kita duduk di atas ya dek. L"
Tiba-tiba Mami bersuara.
"Nak, Mami sayang sama kamu, dan kalian semua" kata Mami.
"Kamu gak boleh begini nak, ayo naik duduk diatas" dengan meraih tanganku dan menariknya.
"Ayo nak, jangan buat kami sedih nak" kata Papi.
"Kita bicarakan baik-baik ya nak" lalu menarik tubuhku keatas dari belakang dan mendudukkan lagi disebelahnya.
"Mas, cerita sama adek jika mas ada masalah, pasti adek bakal bantu mas" kata Ervi, dengan menggenggam tanganku.
"Maafkan adek dari awal hingga sekarang mas, karena membuat mas marah."
"Kakak juga minta maaf ya dek, kakak gak mau lihat kamu kaya gini lagi" kata Fida, yang juga menggenggam tanganku.
"Udah nangisnya, Mami jadi ikutan nangis nih" kata Mami
"Nak, dengarkan Papi, Papi mau ngomong sedikit sama kamu"kata Papi.
Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Masalah yang tadi sudah beres, InsyaAllah gak akan ada berita tentang masalah ini" kata Papi.
"Papi ngerti dengan kamu, kamu ingin menyelesaikan masalah mu sendiri, tapi kami sebagai keluarga juga harus tau masalahmu juga, karena bagaimanapun masalahmu juga masalah kamu, apa kamu ngerti."
"Iya nak, Mami sependapat dengan papi" kata Mami.
"Bagaimanapun kamu juga masuk dalam keluarga ini, jadi kamu jangan senggan untuk bercerita dengan kami, walau masalah kecil hingga masalah besar pasti kami akan membantu menyelesaikan masalahmu."
"Jadi kamu harus bisa berbagi cerita dan masalah apapun kepada kita ya."
"Anak Mami harus saling membantu memecahkan masalah yang ada pada siapapun yang terkena masalah, karena kita keluarga."
"Iya mas, adek siap buat jadi orang yang pertama mendengar cerita mas, dan orang pertama yang siap membantu mas" kata Ervi.
"Kakak juga siap, apapun itu kakak siap, bahkan selalu siap" kata Fida.
"Jadi sekarang adek tenang dulu, dan hapus airmata nya, jangan nangis lagi, kasian dedeknya nih, jadi ikutan sedih lihat pamannya atau omnya menagis."
Aku yang mendengar tuturan kata Fida langsung menghapus air matanya dan berusaha berhenti menangis.
"Tuh dengerin nak, mereka aja sayang banget sama kamu, bahkan siap selalu untuk membantu kamu" kata Mami.
"Udah nangisnya, kasian cucu Mami jadi ikutan mewek tuh nanti."
"Iya" kata Fariel.
"Maafkan aku dede, aku janji gak akan nangis llagi."
"Nah gitu kan enak dilihat, pasti cucu Mami jadi tersenyum kalau lihat pamannya gak nangis lagi" kata Mami.
"Lebih baik sekarang kamu makan yuk, tadi kakak dan adek kamu buat makanan loh, mami kan belum makan juga sama papi, kami langsung pulang dari sana langsung kerumah."
"Jadi kita makan yuk."
"Yuk mas, adek juga udah lapar lagi nih" kaya Ervi.
"Bilang aja rakus" kata Fida.
"Gak ya, yang rakus tuh kakak, masa makan dua piring aja masih nambah makan yang lain" kata Ervi.
"Kakak kan makan untuk dua nyawa sekaligus, gak kaya kamu, perut karet" kata Fida.
"Iiih kakak ya, perut ku bukan perut karet ya" kata Ervi.
__ADS_1
Membuat yang lain ketawa karena perdebatan mereka, akupun ikut tersenyum.
"Udah-udah, kita makan lagi aja semuanya, tadi mami beli peyek kacang tanah sama peyek kacang kedelai hitam" kata Mami.
"Yuk kita makan. "
"Ayuk nak kita makan bareng dibawah, anggap aja makan malam yang telat atau makan sahur kali ya."
"Kok sahur Mi, kan bukan bulan puasa, apa Mami mau puasa" kata Ervi.
"Iya, Mami ada-ada aja ah" kata Fida.
"Kan ini makannya udah malam, bahkan tengah malam, dah hampir jam satu malam" kata Mami.
"Anggap aja makan malam yang tertunda atau diundur jam makannya."
"Ya udah ayok" kata Ervi.
"Duh semangatnya yang mau makan lagi, apa gak pecah tuh nanti perut, diisi mulu, dah makan kripik habis dua toples, mau makan lagi, apa muat" kata Fida.
"Muatlah, walaupun badanku langsing tapi muat untuk menampung makanan" kata Ervi.
"Emang perut ade itu kaya perut gilingan padi, begitu ditaro langsung dituang, kaya ayam kalau habis makan tuh yang setelah notol langsung nelek" kata Fida.
"Kakak nyebelin" kata Ervi, dengan cemberut.
"Udah-udah, katanya mau makan malah debat lagi" kata Papi.
"Ajak masmu buat makan lagi dek" kata Mami.
"Ayok mas kita makan yuk, laper nih" kata Ervi, sambil mengelus perutnya.
"Itu laper apa lagi ngelus perut yang berisi anu yaaa" kata Fida.
"Isi apa hah, maksud kakak apaan coba" kata Ervi.
"Vis" kata Fida, dengan mengacungkan dua jarinya berbentuk V.
"Udah berapa lama dek" kata Fariel.
"Ih mas mah ikut-ikutan kakak aja" kat Ervi.
"Ini isinya cacing sama usus, emang aku dah nikah apa, dan dah ngelakuin hal macam itu." dengan cemberut yang memasukkan b***r bawahnya kedepan.
"Awas tu jatuh" kata Fida.
Papi dan Mami malah tersenyum dengan dengan kami yang saling meledeki Ervi.
"Kalau kalian gak mau ya udah, biar Mami sama Papi yang abisin" kata Mami.
"Yuk Pi kita makan, biarin aja mereka."
"Ayok Mi, Papi juga udah keroncongan ni perut" kata Papi.
"Yakin kalian gak mau ikut, kami habisin loh nanti."
"Aku ikut, jangan habisin Pi, Mi" kata Ervi.
"Ayok mas" sambil menarik tanganku.
"Sasar perut gilingan" kata Fida.
"Egp" kata Ervi.
"Ayo dong mas, lapar nih" yang menarik tanganku.
"Iya ayok" kata Fariel.
"Ayo kak kita makan."
"Ayok, tapi gandeng, dedeknya pengen digandeng katanya" kata Fida.
"Bilang aja Ibunya yang mau, gak udah bawa-bawa yang ada didalam perut" kata Ervi.
"Dasar manja dan modus kaya wedusss."
"Biarin, yang penting digandeng, iya kan dek" kata Fida.
"Iya kakak sayang" kata Fariel.
"Adek mau juga mas gandeng, sini biar mas gandeng kalian semua biar adil."
"Ade gandeng daun pintu aja tuh" kata Fida.
"Ih ogah, mending gandeng masnya lah" kata Ervi.
"Udah gak usah debat, mau jadi makan apa gak nih, kalau enggak aku mau tidur lagi aja" kata Fariel.
"Jadi dong" ucap kompak berdua.
"Nah gitu kompak, kan kaya kakak beradik beneran, gak kaya kucing yang berantem mulu rebutan makanan" kata Fariel.
__ADS_1
"Yuk kita turun" sambil mebuka lengan tangan kanan dan kiri untuk digandeng mereka.
Setelah mereka menggandeng lengan tanganku kamipun langsung turun kebawah dengan bergandengan.