Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Makan romantis dikos


__ADS_3

Sampai ditempat tujuan, yaitu gerbang kos putri,


"Bapak langsung aja pulang ya" kata Fariel, sambil turun dari mobil.


"Iya den, nanti kabarin kalau mau pulang, biar ku jemput" mata Udin.


"Iya Pak" kata Fariel.


"Kalau gitu saya pergi dulu ya den" kata Udin.


"Iya Pak" kata Fariel.


Dan Pak Udin pun langsung pergi meninggalkan ku, dan aku masuk kedalam halaman kos.


"Motornya kemana mas yang kemaren, kok sekarang pakai supir, dan jalannya kenapa" kata Satpam.


"Dirumah Pak, ini habis kena musibah sedikit, jadi sedikit pincang untuk jalan, habis jatuh kemaren" kata Fariel.


"Oh, pasti mau jumpain si Astria iyakan" kata Satpam.


"Iya Pak, tadi sudah kutelpon katanya di kamar kosnya" kata Fariel.


"Kalau gitu tunggu aja disini mas, duduk dulu disini, nanti juga datang" kata Satpam.


"Iya Pak" kata Fariel, yang langsung menuju tempat duduk dan menelpon canisku.


"Hallo Assalamu'alaikum" kata Fariel.


"Waalaikumsalam camiku, bentar ya camiku sayang" kata Tia.


"Iya, jangan cantik-cantik, nanti direbut orang, akukan gak mau diambil orang lain" kata Fariel.


"Iya cami, gombalin nya nanti aja ya, bentar ya, atau cami masuk aja, gak papa kok, canis lagi masak nih" kata Tia.


"Gak ah takut kena fatonah sama yang lain, kan cowok gak boleh masuk, masa mau dilanggar" kata Fariel.


"Gak papa kok camiku sayang, nanti canis yang ngomong sama pak satpam sama pemilik kos juga, alnya ini baru mulai masaknya nih, masa iya mau ditinggal" kata Tia.


"Kalau gitu canis ngomong dulu sama pemilik kosnya, baru cami mau masuk" kata Fariel.


"Iya, canis keluar nih mau ngomong sama pemilik kos" kata Tia.


"Oke, kutunggu, Assalamu'alaikum" kata Fariel.


"Waalaikumsalam" kata Tia.


Setelah menunggu beberapa menit yang ditungguin pun datang juga.


"Hey camiku" kata Tia, sambil berjalan kearahku lalu memeluk.


"Jangan macem-macem yank, gak enak sama yang lain tau" kata Fariel.


"Iya camiku sayang" kata Tia.


"Gimana boleh gak sama pemilik kosnya" kata Fariel.


"Boleh dong, tapi harus ada pengawasan dari pak Satpam, juga pintunya harus dibuka" kata Tia.


"Utu lebih bagus" kata Fariel.


Tia langsung berjalan menuju Pak Satpam.


"Pak, tadi saya sudah izin sama Ibu kos, katanya boleh bawa camiku masuk, asal Bapak mau ngawasin kami dari depan dan pintunya juga harus dibukak, Bapak mau kan ngawasinnya biar cami bisa masuk, alnya aku lagi mau masak nih" kata Tia.


"Oh iya boleh dek, mari biar saya awasin dari depan pintu kos" kata Satpam.


Tia pun langsung mengangguk dan berjalan kearahku.


"Yuk camiku" kata Tia.


Akupun langsung berdiri dan berjalan secara perlahan.


"Cami belum sembuh ya, kok jalannya aneh banget sih, mana sih yang sakit" kata Tia.


"Udah gak papa kok, hanya masih proses pemulihan saja, abis cami kan kangen pengen ketemu bidadari ku yang sudah beberapa hari gak lihat langsung mukanya, senyumnya, dan ngobrol bareng canisku tersayang" kata Fariel.


"Iya, aku juga kangen sama camiku yang suka gombalin aku" kata Tia.


"Yuk canis bantuin jalannya biar sakitnya hilang".


"Jalan kemana" kata Fariel.


"Masuk kedalam lah, emang mau kemana" kata Tia.


"Ya kirain jalan menuju pelaminan untuk meraih masa depan hidup bersama" kata Fariel.


"Ini nih yang bikin canis kangen dari kamu, gombalnya bikin gak bisa tidur, terbayang-bayang terus" kata Tia, sambil tersenyum.



"Yuk ah jalan" kata Tia.


"Iya ayuk, pelan-pelan ya canisku" kata Fariel.


"Oke camiku sayang" kata Tia.


Sedangkan Pak Satpam yang melihat kita hanya menggelengkan kepalanya, dan kamipun masuk kedalam rumah kos.


"Cami duduk dulu disini ya, canis mau ganti dulu, masa masak pakai ini" kata Tia.


"Iya, canisku sayang" kata Fariel.


Sedangkan Pak Satpam hanya mengawasi dari pintu depan.


"Bentar ya camiku, cami mau minum apa nih, biar kubuatin sekalian buat Pak Satpamnya juga didepan" kata Tia.


"Biasa kopi pahit tanpa gula, itu aja, yang manis cukup kamu aja, kopinya jangan ikutan manis" kata Fariel.


"Tuh kan mulai lagi gombalnya, jadi gak sabar" kata Tia, sambil membuat kopi.


"Apanya yang gak sabar" kata Fariel.


"Dihalalinnya" kata Tia.


"Ya udah ayo kita ke KUA" kata Fariel.


"Tunggu lulus dulu ya camiku sayang" kata Tia.


"Nih kopi pahitnya, sebentar ya mau antarin ini dulu buat Pak Satpam didepan".


"Iya bidadari bumiku" kata Fariel.


Tia berjalan menuju pintu depan.


"Ini Pak minumnya, dan ini kuenya, maaf ya jadi ngerepotin buat ngawasin kita" kata Tia.


"Iya sama-sama, makasih loh ini kopi sama kuenya, sering-sering juga boleh asal ada kopinya, apalagi ada nasi bungkusnya juga sama rokoknya juga" kata Satpam.


"Boleh tapi lain kali ya Pak, belom dapat kiriman jadi hanya bisa itu saja pak, maaf" kata Tia.


"Hahaha, saya hanya becanda kok dek, ini aja sudah bersukur banget" kata Satpam.


"Iya Pak, kalau gitu saya tinggal dulu ya Pak, mau lanjutin masak, nanti kalau sudah matang saya sisain buat Bapak makan siang juga" kata Tia.

__ADS_1


"Masa saya dikasih sisanya" kata Satpam.


"Gak gitu maksudku Pak, maksudnya itu nanti saya sisihkan buat Bapak makan, atau bisa makan bareng di dalam" kata Tia.


"Gak usah dek, nanti bini saya marah kalau makan makanan orang lain, kan tiap hari selalu makan makanan istri saya yang selalu dimasakin buat makan siang" kata Satpam.


"Terserah Bapak aja, tapi kalau Bapak mau makan makanan buatanku juga boleh, masa iya istri Bapak cemburu sama saya, kan tiap hari juga ketemu" kata Tia, yang memang masih tinggal di area perumahan kos yang sama juga, hanya berbeda khusus bagi mahasiswi dan buat yang kerja sebagai Satpam, sudah disediakan khusus untuk mereka tinggal oleh pemilik kos supaya bisa kerja 12jam secara bergantian.


"Iya juga sih dek, tapi tetap gak usah deh, daripada nanti saya tidur di pos terus karena istri saya marah, kan bisa berabe" kata Satpam.


"Bagus tuh, berarti Bapak sayang sama istri, atau suami takut istri ya Pak" kata Tia.


"Hehehehehe, tau juga si ade kalau saya takut sama istri saya sendiri" kata Satpam.


"Ya udah kalau gitu saya masuk dulu ya Pak, permisi" kata Tia.


Lalu berjalan kedapur.


"Maaf lama ya yank" kata Tia.


"Iya gak papa kok canisku sayang" kata Fariel.


"Emang mau masak apaan, cami boleh bantuin gak".


"Mau buat ayam goreng krispi, cami duduk aja, kan canis pengen masakin khusus buat camiku tersayang, jadi cami lihat aja ya" kata Tia.


"Oke deh, cami lihatin, tapi cami hanya lihatin canisku yang lagi masak dari sini" kata Fariel.


"Iya camiku sayang, kopinya diminum dong, sama kuenya dimakan" kata Tia.


"Iya nih kopinya aku minum, tapi canis senyum dulu, biar kopinya jadi terasa manis kalau minum sambil lihat senyumnya bidadari yang lagi masak" kata Fariel.


"Iya camiku sayang, jangan gombal dulu ya, takut gak fokus nih nanti masaknya" kata Tia.


"Gak usah fokus ke masakan, cukup fokus pada aku aja" kata Fariel.


"Ih kan jadi tumpah, cami sih gombalin mulu" kata Tia.


"Loh kok cami sih, kan cami hanya minta senyumnya canis aja, biar kopinya jadi ikutan manis" kata Fariel.


"Gak papa itu tumpah sedikit, yang penting senyumnya jangan ikutan tumpah"


"Camiku sayang gombalnya nanti dulu ya, aku mau fokus" kata Tia.


"Iya ratu, kanda minta maaf" kata Fariel.


"Ih, jangan gitu, nanti aku gak jadi masak nih" kata Tia.


"Gak papa gak jadi masak, yang penting ke KUA nya jadi kan hari ini" kata Fariel.


Dan Tia langsung.



Dan aku yang melihat ekpresi dari Tia hanya tersenyum dan mengangkat tangannya dengan dua jari berbentuk V.


"Cami diem nih udah, mulutnya kukunci, canisa senyum dulu tapi" kata Fariel.


"Iya camiku sayang, tapi kalau masih gombal mulutnya nanti ku robek-robek" kata Tia.


"Ih sadisnya, nanti kalau dirobek mulutku canis gak bisa lihat senyumku yang paling manis apalagi dengerin gombalan dariku" kata Fariel.


"Camiiii" kata Tia.


"Iya nih diem, jangan galak-galak dong, cami kan takut, kalau canisku ngambek" kata Fariel.


"Aku kan pengen selalu memandang wajah manismu itu".


"Camiii, udah ya gombalnya, ini lagi masak lho" kata Tia.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya ayam goreng krispi pun jadi.


"Jadi deh ayam goreng ku, nih silahkan dimakan camiku" kata Tia)l, sambil meletakkan dimeja.



"Wah, pasti bakalan enak banget nih, apalagi yang masak calon istriku sendiri, bakalan gemuk nih kalau tiap hari dimasakin beginian sama istriku" kata Fariel.


"Masih calon, belum istri yank, sabar dulu napa, ngebet banget sih pengen nikah" kata Tia.


"Abis kalau lihat senyummu bikin gemes aja jadi pengen nyubit tuh pipi" kata Fariel.


"Jangan dicubit dong, dipegang di elus-elus di sayang-sayang biar makin gemes" kata Tia.


"Iya sayangku, cintaku, manjaku" kata Fariel.


"Bentar ya camiku sayang, aku mau panggil Pak Satpam dulu, sapa tau mau ikutan nyicipin masakanku" kata Tia.


"Oke, cami tungguin disini" kata Fariel.


Tia keluar.


"Pak ayok masuk ikutan makan" kata Tia.


"Gak deh, buat kalian aja, biar romantis makan berdua dimasakin calon dan makan bareng calonnya, Bapak nunggu disini aja, ini juga sudah kenyang makan kuenya" kata Satpam.


"Ya udah kalau gitu, nanti saya kasih buat Bapak makan sama istrinya juga, anggap aja nyobain masakanku buat penilaian gimana hasilnya" kata Tia.


"Kalau gitu saya masuk dulu ya".


Tia pun masuk kedalam lagi.


"Yuk camiku makan, Pak Satpam nya gak mau ikutan, takut ganggu kita katanya" kata Tia.


"Iyalah ganggu, kan kita makannya pakai cinta, sedang dia makannya hanya pakai tangan" kata Fariel.


"Kan emang pakai tangan makannya" (


kata Tia.


"Maksudnya, jagain nyamuk saat kita makan sedang suap-suapan romantisan gitu loh canisku sayang" kata Fariel.


"Oh, kirain apaan, tapi iya juga ya, kalau dia ikutan bakalan jadi tukang jaga nyamuk" kata Tia.


"Ya udah yuk makan, ini dihabiskan semuanya buat cami, itu masih banyak disana juga kok buat yang lain, kalau yang ini spesial".


"Sespesial apa sih" kata Fariel.


"Ini tuh masaknya pakai bumbu cinta" kata Tia.


"Wah, pasti ada rasa sayang juga" kata Fariel.


"Iya dong pakai sayang juga" kata Tia.


"Ya udah ayok makan, dah sabar nih pengen nyobain masakan calon Ibu dari anak-anak kita nanti, kekmana rasanya" kata Fariel.


"Ya udah ayok makan" kata Tia.


"Cami yang mimpin doa nya ya".


Langsung kupimpin doa nya.


اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

__ADS_1


Dan kami pun makan dengan sedikit mengeluarkan suara.


"Enak masakannya, ini dah cocok kalau jadi ibu rumah tangga" kata Fariel.


"Makasih camiku sayang" kata Tia.


"Mau disuapin gak" kata Fariel.


"Boleh, tapi nanti terakhiran aja" kata Tia.


"Oke" kata Fariel.


Dan kami lanjut makan lagi hingga tinggal beberapa suapan terakhir.


"Aaaa yank" kata Tia, yang menyuapiku.


Dan akupun langsung membuka mulutnya terus bergantian saling menyuapi hingga habis tak tersisa.


Dan akupun langsung mengucapkan


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ.


"Amiinn" kata Tia.


"Wah kenyang banget nih yank, kamu sih naro nasinya kebanyakan sama ayamnya, perutku jadi besar nih, dah kaya hamil dua bulan ini mah" kata Fariel, sambil mengelus-elus perutnya yang masih tertutup baju.


"Mana coba lihat" kata Tia.


"Nih" kata Fariel, sambil berdiri menunjukkan perutnya yang masih tertutup baju.


"Masih rata kok, kan perut cami kaya roti sobek, jadi gak mungkin bisa gemuk, kecuali nanti kalau kita sudah nikah, itu bisa jadi perut cami macam orang hamil dua atau lima bulan" kata Tia.


"Ngapain tunggu nikah, kalau canis masakin buat cami setiap hari kaya gini pasti perutku bakalan buncit" kata Fariel.


"Hehehe, kan jangan tiap hari juga dong, cukup seminggu sekali aja canis masakin buat cami" kata Tia.


"Oke deh, canisku sayang, aku bakalan nunggu seminggu lagi buat makan masakan kamu lagi, gak papa perutku jadi buncit, biar nanti sama-sama buncit, hanya beda isinya aja" kata Fariel.


"Emang isinya apaan" kata Tia.


"Kalau punyaku buncit isinya lemak sama makanan buatan canis, kalau perut canis isinya bayi hehehehe" kata Fariel.


"Itu kan nanti loh pangeran kakandaku" kata Tia.


"Iya loh sayangku. Camikan bilanganya juga nanti bakalan buncitnya" kata Fariel.


"Udah siang nih, cami harus pulang, cami ada janji sama adek cami siang ini, harus nemenin jalan-jalan".


"canis gak marah kan, gak cemburu juga kan".


"iya gak papa kok camiku sayang" kata Tia.


"Canis gak bakalan cemburu kalau cami selalu jujur sama canis".


"Bukannya cami itu hanya anak tunggal ya".


"Iya, tapi cami itu sudah dianggap anak sama orang lain, bahkan dikasih fasilitas juga, makanya cami juga harus balas budi kepada mereka, yaitu nemenin anaknya buat jalan-jalan" kata Fariel.


"Bahkan cami juga jadi punya kakak sekarang yang sedang hamil tiga bulanan mungkin".


"Cami aja sering dimanja dirumah, apalagi ketika cami sakit, semuanya itu manjain cami, sampai makan aja disuapin bergantian dari bapak, ibu, kakak, dan adek juga".


"Oh gitu" kata Tia.


"Berarti mereka sayang banget sama cami dong, bahkan sampai segitunya saat camiku sakit".


"Iya, makanya cami gak enak kalau nolak ajakan mereka, cami jadi serba salah kalau nolak nanti takut gak bisa balas budi, kalau kusanggupi takut canisku marah, karena kurangnya perhatian dariku" kata Fariel.


"Cami tenang aja, canis akan selalu setia buat cami, jadi cami gak usah takut canis marah dan ngambek lagi, kecuali" kata Tia.


"Kecuali apa" kata Fariel.


"Hmmmm, kecuali cami bener-bener nyuekin canis tanpa kabar" kata Tia.


"Caniskan gak bisa nahan rindu kelamaan".


"Ah masa" kata Fariel.


"Iya camiku sayang, enelan loh" kata Tia.


"Hah enelan" kata Fariel.


"Beneran maksudnya" kata Tia.


"Ya udah kalau gak bisa nahan rindu yang lama, kalau gitu dipercepat aja" kata Fariel.


"Gak ah, masih mau kuliah menikmati masa-masa pacaran" kata Tia.


"Kan kalau udah sah pacarannya bebas, tapi cami juga belum siap kalau nikah tahun ini, belum punya tabungan buat nanti kalau canis lagi ngidam dan persalinan nya" kata Fariel.


"Kalau gitu tunggu sampai aku selesai kuliah dulu aja, dan cami bisa nabung yang banyak" kata Tia.


"Oke, siap ratuku, akan kujalankan semua perintah ratu" kata Fariel, sambil hormat.


"Ih jangan gitu napa, biasa aja dong" kata Tia.


"Hehehehe, kalau gitu cami pulang dulu ya, udah ditungguin didepan nih, gak enak kalau kelamaan" kata Fariel.


"Iya camiku, dah sana pulang, hus hus hus" kata Tia, sambil mengibaskan tanganya.


"Ih emang aku ayam apa digituin, kan aturan disayang-sayang sebelum pulang, ini malah diusir macam ngusir hewan" kata Fariel.


"Hehehe, maaf camiku sayang, jangan ngambek, caniskan cuman becanda" kata Tia.


"Uya pacarku yang cantik, cami pulang ya" kata Fariel.


"Iya camiku sayang, tapi sebelum pulang canis mau peluk dulu buat obat rindu untuk sehari kedepan biar bisa nahan rindu pada camiku tersayang" kata Tia.


"Tapi peluknya biasa aja ya, jangan yang aneh-aneh" kata Fariel.


"Iya camiku sayang, cuman peluk dari samping aja kok, pengen nyender dibahu cami sebentar saja" kata Tia.


"Oke, sini cepetan nyender, dah siap nih bahunya buat disenderin" kata Friel, sambil mengusap-ngusap bahu.


"Oke camiku" kata Tia, lalu berdiri dan berjalan kearahku lalu menyenderkan kepalanya dibahuku.


"Sudah apa belom nih, jangan kelamaan, ini udah lima menit loh nyender nya, cami gak kuat kalau kelamaan berdiri kaya gini" kata Fariel.


"Iya camiku" kata Tia.


"Udah cukup nih, makasih ya camiku sayang, aku bakalan rindu terus sama camiku ini, sering-sering vc ya, biar canis bisa terobati rindunya".


"Cium tangan dulu ya".


"Oke canis ku sayang" kata Fariel, sambil memberikan tangan kanannya.


"Aku pulang ya Assalamu'alaikum".


"Waalaikumsalam camiku" kata Tia.


"Dada camiku, moga selamat sampai rumah, I love you".


"I love you too, emmmuachhh" kata Fariel, hanya lewat tangan lalu seolah melemparkan ciumannya.

__ADS_1


"Hap" kata Tia, yang seolah menangkapnya.


Dan akupun langsung berjalan keluar dari kos menuju gerbang.


__ADS_2