
Setelah selesai mandi dan Shalat Subuh walaupun di Qadha karena telat bangun, tapi yang penting melaksanakan kewajiban sebagai muslim.
Masih mengenakan sarung dan pakaian muslim, dan begitu juga dengan Fida yang masih memakai Ruku, tapi sedang bermanja dipangkuan ku.
"Jadi mau tidur lagi" kata Fariel.
"Iya, ngantuk masih" kata Fida.
"Capek juga."
"Sami enggak nepatin janji, malah jadi tambah capek."
"Emang Sami janji apaan tadi" kata Fariel.
"Enggak tau, lupa" kata Fida.
"Buatin kopi dulu sana, nanti tidur lagi" kata Fariel.
"Enggak ah, maunya tidur lagi sambil dipeluk seharian ini" kata Fida.
"Kok sekarang kamu manja banget, apa lagi isi ya" kata Fariel.
"Apaan sih Mi, enggak mungkin" kata Fida.
"Kan terakhir melakukan aja dah sebulan yang lalu, dah kuperiksa juga enggak lagi isi kok Mi."
"Tapi kok kamu manja banget hari ini, tumben aja enggak kaya biasanya" kata Fariel.
"Biarin, karena Sanis tuh lagi pengen dimanjain sama Sami kali ini" kata Fida.
"Ya udah nanti Sami manjain lagi" kata Fariel.
"Kok nanti, maunya sekarang" kata Fida.
"Ini dilepasin dulu dong, masa mau kaya gini" kata Fariel.
"Rukunya dilepas, Sami juga mau lepasin ini sarungnya."
"Enggak usah, gini aja" kata Fida.
"Iya deh iya" kata Fariel.
"Tapi buatin kopi aja sana, nanti Sami peluk sambil ngecek kerjaan Sami."
__ADS_1
"Sami kan harus kerja juga walaupun dirumah."
"Ayok sana buatkan Sami kopi dulu sana."
"Enggak mau loh Mi" kata Fida.
"Ya udah kalau enggak mau, tapi Sami ambil laporan dan laptop dulu dikamar Sami ya, nanti kesini lagi buat mangku kamu dan meluk kamu sambil kerja" kata Fariel.
"Boleh kan."
"Enggak boleh, sedetik pun enggak boleh Sami ninggalin Sanis sendiri disini" kata Fida.
"Maunya dipeluk terus."
"Apa jangan-jangan beneran hamil ya, beda banget, ini harus kubawakan ke Dokter kandungan biar tau" kata Fariel, dalam hati.
"Mi" kata Fida.
"Hemmm, apaan" kata Fariel.
"Peluk, dingin" kata Fida.
"Iya" kata Fariel, langsung memeluknya yang dalam pangkuanku.
"Sami gendong kekamar Sami ya, biar Sami ambil kerjaan Sami, nanti meluknya disana aja."
"Aku enggak mau ditinggalin sama Sami."
"Aku mau Sami ada selalu buatku juga."
"Aku pengen selalu tidur dipeluk Sami."
"Iya iya Sanisku sayang, emmuachh, manja banget sih bidadari ku ini" kata Fariel, mencium pipinya.
"Bentar kuambil jarit biar enggak jatuh kamunya, biar meluk Sami terus dan enggak lepas."
Langsung kuambil jarit yang biasa untuk gendong Aya, tapi kini malah dipakai buat gendong Mamanya Aya.
"Bismillah" kata Fariel, yang berdiri sambil menggendong.
"Duh berat banget kamu ini sekarang."
"Sami aja yang jarang olahraga" kata Fida.
__ADS_1
"Rang cuman naik jadi enam lapan."
"Biasanya emang berapa" kata Fariel.
"Lima puluhan" kata Fida.
"Kayaknya iya nih, lagi isi" kata Fariel, dalam hati.
"Lima puluh darimananya, pahanya aja lebih dari tigapuluh."
"Buruan jalan, katanya mau gendong kekamar" kata Fida.
"Iya, ini jalan nih" kata Fariel, yang langsung jalan
"Tapi enggak malu kan nanti kalau ketemu Mami dikamar ku."
"Biarin" kata Fida.
"Mau ngomong apa aja biarin, yang penting hari ini memeluk dan dipeluk sampai nanti."
"Ya udah iya, peluk sesukamu aja, selagi enggak ada yang ganggu" kata Fariel.
"Paling nanti Aya yang ganggu."
"Enggak boleh juga, karena hari ini untuk Mamanya bukan untuk Aya" kata Fida.
"Iya deh, terserah sama kamu aja" kata Fariel.
"Hari ini spesial buat kamu."
"Seharian full untuk kamu peluk dan dipeluk, kecuali kali Sami harus kekamar mandi, kan enggak mungkin dipeluk terus."
"Iya kalau itu boleh, tapi setelah itu harus balik lagi" kata Fida.
"Pokoknya aku lagi pengen selalu meluk Sami hari ini."
"Pengen dimanjain Sami."
"Iya deh iya, nih bakal Sami manjain" kata Fariel.
"Siap-siap jadi bahan pertanyaan mereka karena digendong kaya anak kecil."
"Hemmm" kata Fida.
__ADS_1
"Bodo ah, mau tidur."
Langsung kubuka pintu kamarku.