
Seminggu kini telah berlalu setelah kepergian atau meniggalnya suaminya, kak Fida lebih sering diam, melamun dan menyendiri dibelakang rumah atau taman belakang, lalu aku coba menghampiri nya, siapa tau bisa mengurangi kesedihannya.
"Permisi kak, apa aku boleh duduk disini" kata Fariel.
"Ailahkan kalau mau" kata Fida, dengan ketuanya.
"Kak" kata Fariel.
"Udah dong sedihnya, kakak jangan seperti ini terus, kasian dedek bayinya kalau kakak terus-terusan seperti ini".
"Adek tau betapa sedihnya ditinggal selamanya oleh orang yang paling kita sayang, tapi kita juga harus ingat sama tanggung jawab, kalau kita hidup bukan hanya menikmati hidup saja, tapi juga harus ingat dengan tujuan kita diberikan kehidupan sama Tuhan, jadi kakak jangan sedih dan melamun terus".
"Masih ada kami semua yang selalu sayang sama kakak juga".
"Bahkan apa yang kakak minta akan aku turuti apapun itu asalkan kakak gak seperti ini terus".
"Kak".
Fida malah menitihkan air matanya lagi.
"Kak ingat sama yang memberi kita kehidupan" kata Fariel.
"Kakak juga harus sehat biar anak dalam kandungan kakak baik-baik dan sehat selalu".
"Adek janji bakal jagain anak kakak nanti jika sudah lahir kedunia ini, akan ku ajak bermain dan mengenal dunia".
"Kalau kakak butuh teman curhat atau hanya sekedar ngobrol, kakak jangan sungkan sama aku kak, adek bakal selalu siap buat dengarin cerita kakak" kata Fariel.
"Jika kakak juga butuh pundak untuk bersandar, adek siap pundaknya untuk dijadikan sandaran selama kakak mau".
"Tapi kakak janji gak boleh sedih lagi apalagi melamun".
"Kakak hanya gak nyangka aja ditinggal begitu cepat disaat ada bayi dalam kandungan kakak ini" kata Fida.
"Kakak hanya berfikir jika nanti anak kakak lahir dan bertanya tentang ayahnya, aku takut akan membuat nya jadi benci denganku karena terlahir tanpa disambut dengan ayah kandungnya sendiri".
"Kakak juga berfikir jika nanti anak kakak masuk sekolah, pasti akan banyak anak-anak yang lain akan mengejeknya karena gak punya ayah" sambil menangis.
"Kan masih ada aku adek kakak juga, aku yang bakal menjaganya dan akan selalu ada buatnya jika nanti membutuhkan kasih sayang seorang ayah, karena bagaimana pun anak kakak itu adalah ponakan adek juga, jadi kakak gak usah takut dengan hal semacam itu".
"Lebih baik jalani saja dulu, karena itu urusan nya nanti, kita bisa mendidiknya menjadi anak yang kuat jika kita mendidiknya dengan benar".
"Makasih dek, aku sangat berterima kasih sama kamu, kakak bakal balas kebaikan kamu nanti" kata Fida.
"Iya, tapi sekarang lebih baik kita masuk kedalam aja yuk kak, kita ngobrol didalam sambil main game, kakak juga belum makan loh siang ini, hanya makan pagi aja itupun sedikit, lebih baik kita makan bareng yuk biar ade temenin makan, ade juga belum makan siang hanya makan roti aja tadi dikantor" kata Fariel.
"Nanti adek bakal suapin kakak kalau kakak mau, kakak mau makan apa biar adek masakin buat kakak dan dede bayinya".
"Gak usah, kakak belum pengen makan" kata Fida.
"Kakak harus makan, kasian dedeknya kelaparan, masa hanya dikasih makan pagi aja, bahkan susunya pun gak kakak habiskan loh pagi tadi" kata Fariel.
"Ayo lah kak, kita makan, adek bakal masakin spesial buat kakak dan dedek bayinya loh".
"Ya udah ayok, tapi kakak mau makan pecel lele, jadi adek harus siapin semuanya sejam" kata Fida.
"Oke kak, bakal adek siapin semuanya, kalau cuma itu mah hanya butuh setengah jam pun dah selesai asal ada ikannya dan bahan-bahan yang lain juga" kata Fariel.
"Ayok masuk kak, nanti kakak tiduran aja diruang tamu sambil nonton TV, nanti kalau sudah selesai dan siap pesanannya akan adek panggil kakak".
"Iya" kata Fida.
Dan kami pun masuk kedalam, aku langsung menuju dapur dan membuka kulkas melihat bahan-bahan apa saja yang ada dan apa saja yang gak ada, biar sekali belanja.
"Ada apa Den, apa ada yang perlu Bibi bantu" kata Diah.
"Gak usah Bi, hanya mau buat pecel lele aja, tadi kakak minta dibuatin tapi harus aku yang buat, jadi Bibi hanya bisa bantuin dengan Doa aja"kata Fariel.
"Oh iya Bi, yang jual lele dimana ya Bi yang dekat".
"Kalau itu yang ada hanya dipasar ikan aja Den, apa mau Bibi yang belanja den biar cepet, dan Aden siapin bahan yang lainnya dulu biar lebih cepet" kata Diah.
"Boleh juga Bi, kalau gitu bibi catat kekurangan bahan-bahan nya ya Bi" kata Fariel.
"Baik Den" kata Diah.
"Kacang tanah, gula merah, lele, daun bawang, sayuran, kaya bayam atau daun ubi dan daun pepaya kalau ada ya Bi, dan apa aja yang Bibi tau" kata Fariel.
"Baik Den, biar Bibi langsung berangkat" kata Diah.
"Bentar Bi, aku ambil uang dulu" kata Fariel.
"Gak usah Den, Bibi masih ada uang belanjanya kok yang dikasih Ibu untuk kebutuhan dapur" kata Diah.
"Baiklah Bi, makasih Bi dah mau bantuin" kata Fariel.
"Bibi berangkat dulu ya Den, Bibi juga mau nelpon tukang ikan langganan biar sampe sana sudah siap semua, Aden siapin bumbunya aja buat goreng ikannya nanti, dan nanti kacangnya akan Vibi suruh pak dani yang beliin di depan biar cepat" kata Diah.
"Oke baik Bi" kata Fariel.
"Maaf Den, Bibi ketiduran" kata Ani.
"Gak papa B, oh ya Bi, apa Bibi bisa buat nasi lontong atau ketupat tapi yang pake plastik" kata Fariel.
"Bisa Den, biar Bibi buatkan" kata Ani.
"Makasih ya B" kata Fariel.
Bibi pun langsung berangkat untuk belanja kebutuhan. dan aku juga langsung melakukan apa yang harus aku lakukan seperti merebus air dahulu, dan menyiapkan bambu untuk goreng ikan dan menyiapkan yang lain-lain juga.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Den, ini den kacangnya, tadi Bi Diah yang memintanya suruh beliin kacang dan kasihkan ke Aden karena harus cepet selesai" kata Dani, ucapnya panjang.
"Waalaikumsalam, makasih Pak" kata Fariel, yang sambil mengulek bumbu.
"Apa perlu saya bantu Den" kata Dani.
"Gak usah Pak, Pak Dani balik ketempat aja langsung Pak" kata Fariel.
"Baik Den, kalau gitu saya permisi Assalamu'alaikum" kata Dani.
"Waalaikumsalam" kata Fariel.
"imIni langsung Bibi masukan aja ya den nasi lontong nya, ini dah mendidih airnya" kata Ani.
"Iya Bi" kata Fariel.
Aku langsung mengambil kacang untuk dicuci, setelah dicuci langsung ku goreng, sambil menggoreng aku juga menyiapkan cabe rawit dan beberapa bawang merah dan bawang putih dibantu oleh Bi Ani.
Setelah kacang nya matang, langsung kuangkat, dan kuuleg sambil menggoreng cabe dan bawang.
Setelah semuanya selesai hanya tinggal menunggu ikan dan sayur-sayuran, dan yang ditunggu pun datang juga.
"Ini Den sudah lengkap semuanya juga, maaf agak lama, tadi nyari daun pepaya sama toge dan tahu" kata Diah.
"Gak papa bi, justru aku malah berterima kasih sama Bibi karena mau membantu ku menyiapkan keperluannya" kata Fariel.
"Yaudah kalau gitu Bibi cuci ikannya dulu ya den, sama sayurannya juga" kata Diah.
"Sini Bi biar aku yang cuci sayurannya, bibi cuci ikannya aja" kata Fariel.
"Biar aku aja Den" kata Ani.
Mereka pun langsung fokus mencuci sayuran dan ikan.
"Den ini ikannya sudah siap" kata Diah.
"Itu biar Bibi yang uleg, biar aden masak ikannya aja".
"Makasih loh Bi, dah mau bantuin, bahkan sampai ganggu tidur siang Bibi tadi" kata Fariel.
"Gak papa Den, kan bibi tugasnya buat nyiapin makanan buat semuanya yang ada dirumah ini, jadi harus selalu siap siaga kalau disuruh buat masak" kata Ani, sambil mencuci sayuran.
"Nanti rebusnya dipisah aja ya bi, ini dah kurebusin airnya" kata Fariel.
"Baik Den" ucapnya berdua.
Dan setelah beberapa lama kami membuat makanan akhirnya selesai juga, dan kini sudah terhidang dimeja makan dengan dibantu oleh Bi Ani dan Bi Diah.
"Apa Bibi udah nyiapin buat yang lain juga, jangan taro dimeja makan semua, nanti yang lain gak kebagian, apa Bibi mau ikutan makan dimeja makan bareng kita" kata Fariel.
"Gak usah den" berdua.
"Ya udah, kalau gitu Bibi tolong panggil Papi dan Mami ya, biar aku panggil kak Fida".
"Oh ya sekalian Ervi juga yang kayaknya baru pulang" kata Fariel.
"Baik Den" ucap berdua dan langsung pergi kearah yang berbeda.
Akupun langsung menuju ruang tamu dimana kak Fida sedang nonton TV, alias TV yang nemenin kak Fida tidur.
"Kak, kak, bangun, dah siap tuh pesanannya kakak, pecel lele spesial" kata Fariel.
"Yuk bangun, biar ade bantu kakak berdiri".
Fida pun langsung duduk, dan kakinya digerak-gerakkan dulu baru mengulurkan tangannya untuk meminta membantunya berdiri.
"Cuci mukanya dibelakang aja ya kak, didapur" kata Fariel, sambil membantu berdiri.
Hanya anggukan sebagai jawabannya, dan aku juga membantunya berjalan dengan memegangi lengan tangannya karena takut terjadi apa-apa matinya karena baru bangun tidur.
Setelah cuci muka dan cuci tangan langsung berjalan menuju meja makan, yang ternyata sudah ada Papi, Mami dan Ervi juga yang baru saja duduk.
"Kakak duduk disini aja, disamping adek" kata Fariel.
Setelah duduk lalu aku bertanya.
"Kakak mau makan pake apa dulu, apa mau semuanya, ada banyak macam sayuran, jadi mau yang mana biar adek yang ambilin, kakak cukup duduk aja" kata Fariel.
"Ikan sama tahu dan daun pepaya aja, pepaya nya dikit aja sama nasi lontong nya" kata Fida.
"Ya sudah biar adek siapkan ya" kata Fariel.
"Apa segini cukup" kata Fariel, yang menuangkan sambal kacangnya.
"Udan cukup" kata Fida.
"Nih silahkan dinikmati ya kak, kalau ada yang kurang dari rasanya bilang aja ya".
"Dan kalau mau nambah nati adek yang bakal ambilin lagi" kata Fariel.
"Iya, makasih" kata Fida.
"Adek mau mas ambilin juga, kok dari tadi hanya lihatin mas aja" kata Fariel.
"Hehehehe" kata Ervi, yang hanya ketawa lalu meberikan piringnya padaku.
"Adek mau yang mana" kata Fariel.
"Nasinya dikit aja, bayam sama toge dan tahunya yang banyak sama ikannya satu terus itu juga daun pepaya nya sama rebusan pepayanya juga" kata Ervi.
__ADS_1
"Duh anak Mami malah ikutan kakaknya, kan adek bisa sendiri, kasian masmu kalau harus nyiapin juga buat kamu dek, masmu kan sudah masak ini semua" kata Mami.
"Hehehe, masnya aja mau kok Mi, kan sekali-kali boleh minta disiapin sama masku" kata Ervi.
"Gak papa kok Mi, apa Mami juga mau disiapkan juga sama Papi mungkin sekalian, ini juga dibantu tadi sama Bibi kok Mi" kata Fariel.
"Gak usah nak, Mami bisa sendiri, Papi biar Mami aja, lebih baik kamu siapin baut kamu makan sendiri" kata Mami.
"Iya Mi" kata Fariel.
Setelah semua piring dihadapannyan sudah terisi makanan, kami langsung makan dan berdoa lebih dulu. Kini selesai juga makannya, hanya tinggal Ervi yang belum siap dengan makannya, yang masih asik makan tahu dan sayur daun pepaya.
"Alhamdulillah kenyang" kata Ervi.
"Gak mau nambah lagi dek" kata Mami.
"Gak mi, dah gak muat perut adek Mi" kata Ervi.
"Kakak kenapa gak nambah lagi" kata Fariel.
"Apa kakak gak suka biar nanti dibuatkan yang lain".
"Kakak suka kok, tapi ini dah kenyang, kan tadi kakak nambah ikan dan nasinya juga, hanya kurang sedikit pedas aja" kata Fida.
"Kamu itu gak boleh makan yang terlalu pedas nak" kata Mami.
Hanya diam.
"Itu masih ada buat kakak makan lagi nanti kalau kakak lapar" kata Fariel
"Buat adek ada gak" kata Ervi.
"Iya nanti kakak makan lagi, sering-sering buatin buat kakak" kata Fida.
"Ada buat kamu juga dek, kamu tenang aja, itu buat kamu dan kakakmu, tapi adek hanya boleh makan setengahnya aja, karena kakakmu harus makan lebih banyak dari kamu, kan kakak kamu makannya harus banyak karena ada dedek yang ikut makan juga" kata Fariel.
"Iya kak, bakal adek buatin khusus buat kakak dan dedeknya juga, tinggal bilang aja mau minta dibuatin apa aja samaku, pasti nanti kubuatkan".
"Makasih adek kakak yang paling ganteng" kata Fida, sambil memelukku dari samping.
"Iya kak, apa sih yang gak buat kakak" kata Fariel.
"Adek mau ikatan meluk mas juga, sini" yang melihat Ervi sedikit cemberut.
Langsung Ervi pun memelukku dari samping juga.
"Kalian adalah saudara ku yang paling aku sayang, makasih dah mau menerima aku sebagai saudara kalian".
"Aku sayang kalian" kata Fariel.
"Aku juga sayang sama kamu dek" kata Fida.
"Aku juga mas, sayaaannnnggggggg banget malah sama mas" kata Ervi.
"Makasih" kata Fariel.
"Udah dong peluk-peluknya, Mami jadi terharu melihat kalian yang saling menyayangi" kata Mami.
"Papi juga senang melihat kalian seperti itu, seperti saudara kandung" kata Papi.
Dan Ervi pun langsung melepaskan pelukan nya yang begitu manja, sedangkan Fida malah menyenderkan kepalanya kepundakku.
"Kak, yuk kita nonton lagi, biar kakak bisa lebih nyaman duduknya nanti disana" kata Fariel.
"Iya" kata Fida.
"Yuk biar adek bantu" kata Fariel, lalu aku berdiri dan meraih tangannya lalu memberikan lengan tanganku untuk berpegangan sampai di sofa.
"Yuk duduk pelan-pelan" kata Fariel.
Lalu Fida pun duduk, setelah duduk kembali menyenderkan kepalanya pada pundakku.
"Dek ambilkan minum dong yang anget dua ya".
"Iya mas, tunggu bentar" kata Ervi, yang akan ikut duduk, malah gak jadi karena harus buatin minum.
"Kakak kalau mau ngomong, ngomong aja, akan adek dengarin semuanya, kalau kakak mau tidur sambil senderan dipundakku juga silahkan kak" kata Fariel.
Fida hanya ngangguk, dan Ervi pun datang membawa minumannya.
"Ini mas minumnya" kata Ervi.
"Kakak minum dulu ya" kata Fariel, ambil membantu meminumkan minuman hangat padanya.
Dan aku juga ikut minum karena haus belum sempat minum tadi meja, makanya minta dia.
"Kakak tidur kalau ngantuk, jangan memikirkan yang lain-lain" kata Fariel.
"Adek kalau mau tidur siang tidur disebelah sini aja, atau mau dikamar" kata Fariel.
"Disini aja, biar ada temennya" kata Ervi.
"Ya udah tidur terus, bantalnya yang bener, nanti sakit lehermu dek kalau begitu tidurnya" kata Fariel.
"Fak kok mas, kalau gitu tidurnya kekgini biar enak" kata Ervi, yang meletakkan bantal dipahaku lalu merebahkan badannya.
"Mas yang mau nidurin kakakmu malah kamu ikutan tidur kekgini dek, hufft" ucapnya dalam hati.
"Yang nyenyak kalian tidurnya" kata Fariel.
__ADS_1