
"Kamu boleh mandiri, tapi Papi dan Mami juga butuh kamu, karena kamu adalah kebahagiaan Papi dan Mami" kata Mami.
"Kami semua ingin kamu ada untuk kami disini."
"Mami ingin malam ini Mami menemanimu disini bersama Papi juga, sebelum kamu pergi dari rumah ini, karena kami akan sangat rindu sama suasana malam dikamar ini dengan kamu."
"Silahkan Mi, kalau memang ingin tidur disini" kqta Fariel.
"Bukan tidur bertiga dalam satu kasur maksud Mami, tapi Mami dan Papi akan disini dibawah, kan kasur ini ada yang kecil di bawahnya yang bisa ditarik, nanti Papi dan Mami tidur disitu" kata Mami.
"Mami sama Papi diatas aja, biar aku yang dibawah, masa yang muda diatas" kata Fariel.
"Kan diatas lebih empuk dan besar, jadi Mami sama Papi diatas aja ya."
"Ya udah baiklah, nanti Mami yang diatas" kata Mami.
Saat sedang berbincang dengan Mami ada panggilan masuk yang tak dikenal karena nomer baru tak ada nama dihp ku.
"Bentar Ni, ada panggilan masuk, tapi gak tau siapa" kata Fariel.
"Alnya nomer baru, gak ada namanya."
"Ya dah diangkat, sapa tau ada penting" kata Mami.
"Baik Mi" kata Fariel.
Langsung ku angkat, tak lupa ku losspeaker.
"Hallo Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Dengan siapa."
"Waalaikumsalam" kata Tia, dengan suara tangis.
"Ini aku mi, canismu."
"Canis kangen sama cami."
__ADS_1
"Canis ingin cami yang ada di sisiku besok bukan yang lain."
"Gimana nih Mi, aku harus jawab apa" kata Fariel, ucapku pada Mami.
"Mi, canis ingin lihat muka cami" kata Tia.
"Canis kangen dengan senyum cami."
"Canis ingin vc mi."
"Xanis mohon mi."
Mami menganggukkan kepala sebagai tanda setuju dan memperbolehkan.
"Iya silahkan, langsung aja ke nomer yang ini" kata Fariel.
"Makasih mi" kata Tia.
panggilan terputus lalu panggilan video masuk dan langsung kuterima panggilan videonya.
"Mi, bangunkan canis dari mimpi buruk ini mi" kata Tia.
"Mi bawalah canis pergi mi, canis mohon" kata Tia.
"Canis gak akan bisa bahagia bersama yang lain selain cami."
"Canis ingin bahagia mi."
"Buatlah canis bahagia bersama mu mi."
"Bawalah canis pergi mi dari sini."
"Maaf, tapi aku gak bisa" kata Fariel, yang mencoba tegar walau airmata akan segeran menetes.
"Kenapa mi" (Tia)
"Apa cami gak sayang lagi sama canis."
__ADS_1
"Apa cami dah ada yang lain."
"Sudah dapatkan pengganti canis mi."
"Bukan itu" kata Fariel, yang sudah meneteskan air mata.
"Hubungan kita akan menjadi dosa jika kita bersama tanpa restu."
"Bahagialah dengannya."
"Canis gak akan bisa bahagia, kecuali bersama cami" kata Tia.
"Canis hanya mau cami, bukan dia."
"Canis hanya cinta dan sayang sama cami."
"Apa cami gak mau buat canis bahagia."
"Apa cami ingin membuat canis hidup dalam penderitaan."
"Bukan itu, aku ingin buat mu bahagia, tapi bukan bersamaku" kata Fariel.
"Mungkin memang Tuhan tidak menyatukan kita."
"Mungkin Tuhan memberikan kebahagiaan lewat perpisahan ini dan menyatukan dengan yang lain."
"Aku gak mau, mi" kata Tia.
"Kenapa cami seperti ini sama canis."
"Kenapa panggilan sayang kita ini berubah mi."
"Kenapa cami gak manggil canis dengan sebutan canis lagi."
"Maaf, itu sudah berakhir panggilan kita itu" kata Fariel.
"Kita memang harus iklas untuk berpisah."
__ADS_1
"Aku selalu berdoa semoga kamu diberikan kebahagiaan."