
Setelah mengisi ulang parfum aku langsung keluar untuk melanjutkan perjalanan, tapi sebelum lanjutkan perjalanan aku bertanya padanya.
"Kenapa sih dari rumah sampai disini gak seperti biasanya" kata Fariel.
"Cemberut mulu".
Tia tetap diem bahkan seperti tak menghiraukan ku yang ada disampingnya.
"Apa kamu kurang sehat, kalau iya kita pulang aja" kata Fariel.
Hanya gelengan kepala sebagai jawabannya.
"Lalu ada apa, cerita dong" kata Fariel.
Masih bisu.
"Ya udah pulang aja kalau masih kayak gini, batal jalan-jalan kalau gitu" kata Fariel.
Tia justru mengerucutkan bibirnya.
"Kalau ditanya jawab dong, bukan monyongin tuh bibir, apa sariawan" kata Fariel.
Hanya gelengan lagi.
"Ya udah pulang yuk" kata Fariel.
"Gak mau" kata Tia, yang baru mengeluarkan suaranya.
"Ya jangan diem aja dong, ngomong, aku kan bukan patung yang harus didiemin" kata Fariel.
"Iya maaf" kata Tia.
Langsung memelukku dan menangis didadaku.
"Loh kok nangis, kenapa, apa aku buat kesalahan" kata Fariel, sambil mengelus-elus kepalanya untuk mencoba menenangkan.
Dan hanya gelengan kepala sambil menghapus air matanya, lalu menatap wajahku dan memelukku lagi.
"Udah jangan nangis, malu diliatin banyak orang, dikira aku berbuat yang tidak-tidak" kata Fariel.
Lalu kubisikaan kata.
"Liat tuh ada ibu-ibu yang sepertinya lagi ngatain kita kalau pacarnya dah telat beberapa bulantapi cowoknya gak mau tanggung jawab" kata fariel.
Tia pun langsung mendongakkan kepalanya menatapku, lalu kuhapus air matanya yang masih tersisa dipipi. Dan kulihat kaosku sedikil kucel karena diremas-remas dan untuk ngelapin air matanya.
Setelah acara nangisnya selesai langsung kita lanjut ketempat yang dia mau.
"Yuk naik bidadari ku yang caem, antik dan manis" kata Fariel, dengan senyuman mautnya.
"Ihhh gombal" kata Tia, dengan bibir bawah yang seperti mau jatuhnya.
Lalu ia pun naik.
"Pegangan dong, kan aku gak mau bidadariku yang akan jadi ibu buat anak-anakku kenapa-kenapa" kata Fariel.
"Ih gombal" kata Tia, sambil memelukku erat.
Aku hanya tersenyum melihatnya lewat spion yang lagi dalam mode seperti ini, bikin gemes jadi pengen ci** tuh bibir yang mau jatuh.
Lanjut menuju kebun buah dan sampai di parkiran yang disediakan.
"Ayok turun dah sampai, apa belum puas peluk-peluknya" kata Fariel.
"Bentaran aja" kata Tia, protesnya.
"Ya dah peluk sesukamu tapi jangan terlalu lama gak enak diliatin sama yang lewat, apa lagi tukang parkir" kata Fariel.
"Iya Cami 'calon suami' ku sayang" kata Tia, yang masih asik memelukku dari belakang dan belom mau turun dari motor.
__ADS_1
Akupun hanya tersenyum mendengan ucapannya yang terucap dari mulutnya.
"Sayang tuh bikin nyaman kalau aku peluk, wangi lagi, tapi dah ahh ayo turun" kata Tia.
Setelah itupun kami turun dari motor, menghampiri tukang parkirnya, dan memberi tau nomer plat kendaraannya supaya lebih aman, lalu menyerahkan kertas kecil kepadaku akupun juga menyerahkan selembar uang parkir sesuai yang tertera di kertas.
Lalu berjalan sambil memasukkan kertas parkir ke kantong celana biar aman gak hilang dan menghampiri bidadari yang menungguku di pintu masuk.
"Ayok" kata Fariel, sambil menarik tangannya tuk aku gandeng.
"Aku dah beli tiket masuknya" kata Tia, sambil memperlihatkan dua lembar kertas tiket masuk.
"Makasih Ratu ku" kata Fariel, dengan tersenyum.
"Iya Pangeran" kata Tia.
"Ayok masuk" kata Fariel, sambil bergandengan tangan.
Tia menyerahkan tiket masuknya ke penjaga palang pintu, setelah menyerahkan tiket dan diperbolehkan masuk, kita langsung masuk kedalam kebun.
Ada pohon apel yang sedang berbuah dan setrowberi yang buah juga, dan nanas juga ada.
Kita berjalan menuju kebun setrowberi mengikuti Tuan Putri yang ingin makan buah kesukaannya.
Tertulis di plang yang ditunjukkan untuk pengunjung bahwa hanya boleh mengambil yang sudah matang dengan gunting yang tersedia.
Akhirnya ku ambil gunting, lalu diberikan keranjang kecil oleh mereka.
"Yuk, ni dah siap" kata Fariel.
Tia langsung mengambil gunting ditanganku, sedangkan aku hanya memegang keranjang kecil sambil berjalan mengikutinya dari belakang.
Dan beberapa kali juga minta difoto tak lupa pula foto berdua walaupun banyak foto-foto dia di hpku dengan berbagai gaya.
Setelah puas di kebun strowberi lanjut ke kebun apel. Disini juga sama, tapi hanya boleh memetik 4 buah saja perorang, boleh dimakan di tempat boleh dibawa pulang.
Tak lupa foto-foto juga biar makin lengkap untuk kenang-kenangan nantinya sambil bergaya anak muda sepasang kekasih yang sedang makan buah apel dengan saling menyuapi.
Ketika keluar dia bersikap sangat manja yang minta tangannya di gandeng tapi bukan di jari-jari tangannya, melainkan di lengan tanganku, entah setan apa yang merasukinya. Akupun hanya menurutinya takut nanti bibirnya jatuh lagi karena cemberut tidak menurutinya.
Kita pun berjalan sampai ke parkiran dengan bergandengan tangan sampai di parkiran, membuat orang melihatnya dan membicarakan kita tentunya.
"Romantis banget nih" ucap salah satu pengunjung wanita dengan teman-temannya.
"Takut ada yang ambil ya Kak, sampai digandeng kaya kereta api" salah satu dari mereka
"Jadi iri aja"
"Iya, bikin jiwa jombloku merana" dengan expresi sedihnya.
"Merana apa merene".
Aku hanya membalas dengan senyum.
"Istrinya lagi ngidam ya Bang" dari salah satu cowok yang juga ada di antara mereka.
ku hanya tersenyum sambil menganngukkan kepalanya, walau sebenarnya dia gak lagi ham** apalagi ngidam.
"Kayaknya sih, manja banget, dari berangkat sampai pulang minta digandeng mulu, dan meluknya juga lama banget tadi pagi diatas motor" jawab temannya yang disebelah.
"Semoga langgeng terus ya" lanjutnya dari mereka.
"Terimakasih" jawab ku dengan tersenyum sambil menyerahkan kertas parkirnya yang masih menggandeng Tia.
Setelah itu lanjut ke motor menuju tempat makan untuk mengisi perut yang keroncongan.
"Lepasin dulu tangannya dong, ini mau naik motor, Kekmana mau naik kalau digandeng terus, apa mau ku gendong lagi" kata Fariel, bisiknya.
"Dah nih bang motornya" kata mereka yang mengeluarkan motorku dari barisan.
__ADS_1
"Oh ya Makasih" kata Fariel.
"Kayaknya gak mau pulang tuh Bang Istrinya" kata dia lagi.
Aku hanya tersenyum, sambil berkata dalam hati
"Kapan kita nikahnya, dibilang Istriku".
"Minta di gendong kali tuh Tuan Putrinya, Pangeran" kata Indah, yang tiba-tiba nongol entah dari mana bersama Nia, juga dua cowoknya.
Aku hanya tersenyum sambil memperlihatkan gigiku, karena kepergok teman-teman nya Tia, yang sudah kenal beberapa minggu yang lalu, dan suka banget isengin kami kalo lagi VC ataupun teleponan, dan juga kalau ketemu didepan tempat kos, yang akan jemput Tia untuk sekedar jalan-jalan sore.
Tia yang melihat temennya malah makin erat dan malah menyenderkan kepalanya, yang membuat mereka geleng-geleng kepalanya termasuk aku juga.
"Adududuh, Tuan Putri makin lengket dan mepet nih" kata Nia, sambil menggoda Tia dengan menarik-narik tangan lalu bajunya supaya mau lepasin gandengannya.
"Kayak Aishwarya Rai dan Shah Rukh Khan di mohabbatein aja" kata Indah.
"Bentar lagi joged dong" kata Nia.
"Humko hamise chura lo
dil main kahin tum chhupa lo" kata Indah, sambil menari 'dansa' dengan Nia bergaya ala Bollywood.
"Aaa aaa aa, la la la la la" lanjut Nia dan Indah, ucapnya sedikit keras
Lalu tertawa bersama mereka berdua dan juga buat yang lain tersenyum karena melihat tingkah mereka berdua sedangkan cowok mereka hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihatnya.
"Iriiiii noh cowoknya di gandeng juga" kata Tia, sambil melepaskan tangannya dari lenganku.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat Tia begitu pada teman-temannya atau sahabatnya.
"Mau kemana Pangeranku" kata Nia, ucapnya padaku untuk membuat Tia cemberut karena Cami nya digodain.
"Mau makan" kata Tia, jawab dengan nada marah.
"Udah dong jangan bikin bidadariku ngambek, tega bener" kata Fariel.
Tia yang mendengar itu tersipu malu, lalu memelukku lagi didepan mereka.
"Lah kok pelukan lagi" kata Indah.
"Lama-lama kaya teletubbies deh, bentar-bentar berpelukan" kata Nia, sambil memeluk indah disebelahnya, karena cowok mereka sedang mengeluarkan motornya.
"Bukan berpelukan sih tapi memeluk" kata Indah.
"Udah meluknya, gak akan ada yang ngambil Abang bidadariku sayang, kan Abang cuman punya kamu seorang, gak ada yang lain dihati Abang" kata Fariel, ucapku yang masih didengar mereka.
"Tuh dengarin Pangerannya ngomong, kita juga gak bakalan rebut tuh Pangeranmu, kita juga dah ada yang punya, iya gak Ndah" kata Nia.
"Iya bener banget" kata Indah.
"Udah ya, katanya lapar mau makan" kata Fariel.
Akhirnya Tia melepaskan pelukannya, dan akupun langsung naik ke atas motor.
"Yuk naik" kata Fariel.
"Sini kantong plastiknya taro didepan aja, biar kamu puas meluk aku dari belakang" kata Fariel, sambil meminta kantong plastik di tangannya dengan.
"Ih gombal, bilang aja minta dipeluk" kata Tia,
lalu menyerahkan kantong plastik yang berisi buah-buahan terus naik keatas motor.
"Udah belom" kata fariel.
"Udah" kata Tia, yang langsung melingkarkan tangannya.
"Kalau udah turun dong" kata Fariel, sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iiiihhh, jalan aja belom" kata Tia, lalu cemberut dengan bibir yang mau jatuh.
Aku hanya tersenyum melihatnya, dan akhirnya aku pun langsung tancap gas menuju tempat makan yang diinginkan nya yaitu makan ikan bakar.