
Didalam ruang operasi kutak henti-hentinya mengucapkan Do'a untuk keselamatan nya dan juga anakku.
Saat operasi sedang berlangsung kutak henti-hentinya meneteskan airmatanya karena tak kuasa melihat perlatan medis yang menyentuh bagian tubuhnya.
"Maaf membuatmu jadi seperti ini, harus merasakan sakitnya karena melahirkan" kata Fariel, dengan airmata yang menetes dan menggenggam tangannya sambil duduk melihat mukanya yang pucat.
"Aku enggak akan lagi mebuatmu jadi seperti ini yang merasakan sakit."
"Akun enggak mau melihatmu merasakan sakit lagi seperti ini."
"Ingin rasanya aku saja yang menggantikan posisimu disini."
"Aku janji akan membuatmu bahagia selalu, takan mengecewakanmu."
"Aku akan memberikan hidupku untukmu."
"YaAllah ampunilah dosa-dosanya."
"Biarkan saja aku yang menerima dosanya dari dia."
"Selamatkan nyawanya dan selamatkan anakku."
"Kaulah Maha pemurah dan penyayang."
"Kaulah yang Maha pengasih dan segalanya."
"Padamulah aku meminta"
"Berikan keselamatan dan hilangkan rasa sakitnya."
"Cukup aku yang menerima sakitnya saja, jangan kau berikan rasa sakit itu padanya."
"Aku mohon YaAllah."
"Aku mohon."
__ADS_1
"Aku tak sanggup melihatnya seperti ini."
"Aku enggak bisa melihat dia seperti ini merasakan sakit"
"Jangan biarkan dia merasakan sakitnya saat nanti dia terbangun."
"Aku janji padamu, akan selalu menyayangimu."
"Ini pasti sakit."
"Aku ada disini disisimu, selalu ada disisimu."
"Jangan tinggalkan aku, hanya kaulah yang akan menjaganya dan memberikan Asimu."
"Kamu ingin menjadi Istri yang sesungguhnya."
"Kamu yang memintaku untuk melakukannya."
"Kamu yang menginginkan seorang anak, yang menginginkan ada nyawa dalam rahimmu."
"Kamu harus kuat dan bisa."
"Aku siap saat kamu terbangun nanti, aku mendapatkan hukuman darimu."
"Aku rela kau lakukan apapun untuk merasakan sakit seperti yang kau rasakan sekarang."
"Kamu harus kuat dan bisa."
"Buktikan janjimu padaku yang ingin selalu ada disisiku untuk membina rumah tangga yang selalu rukun sampai menua nanti."
Tiba-tiba suara tangis bayi mungil terdengar ditelingaku.
"Oe oe oe oe oe" tangisnya saat berhasil diangkat oleh Dokter.
Dokter langsung memberikan pada asistennya bayi mungil ini, lalu kembali melanjutkan tugasnya hingga selesai.
__ADS_1
"Lihatlah dan dengarkan anak kita telah lahir" kata Fariel.
"Kamu harus segera bangun dan kasihkan Asimu yang pertama untuknya, sesuai janjimu dulu."
"Kau pernah meminta jika anak kita terlahir perempuan akan memakai salah satu namamu Aqilla, jika dia terlahir cowok kau meminta memakai namaku Akhmad."
"Jadi kamu harus segera sadar dan bangun untuk melihat anak kita."
"Untuk melihatnya apa dia cewek secantik kamu apa dia cowok yang juga mirip kamu."
"Jadi kamu harus segera bangun biar kita lihat sama-sama dan memberikan nama padanya."
Dan Dokter telah siap untuk melakukan tugasnya.
"Selamat bayi anda laki-laki" kata Dokter.
"Silahkan dilakukan dengan Adzan untuk mendengar yang pertama kalinya" sambil memberikan bayi mungil padaku.
"Terimakasih Dok" kata Fariel, sambil menerima
"Gimana dengannya Dok."
"Sebentar lagi akan bangun, ini hanya efek dari obat saja agar tenang saat dilakukan operasi, jadi enggak perlu khawatir" (Dokter)
"Bayinya juga sehat."
"Selamat ya, telah menjadi Ayah yang sesungguhnya."
"Dan sebentar lagi akan kami pindahkan dari ruangan ini."
"Saya tinggal dulu, silahkan diberi Adzan, dan setelah itu berikan ke Suster saja bayinya hingga nanti Ibunya sadar untuk diberikan Asi pertamanya."
"Baik Dok, makasih" kata Fariel.
"Iya sama-sama" kata Dokter, lalu langsung pergi dan keluar dari ruangan ini.
__ADS_1
Setelah Dokter keluar aku langsung mengumandangkan Adzan disebelah telinganya. Setelah selesai dengan Adzan, aku langsung Iqamah disebelah kuping satunya.