Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Mendengar cerita Ervi dan Fida


__ADS_3

Sampai dikamar pengantin aku langsung duduk dan merebahkan dikasur.


"Ih jangan tidur dulu, pakaiannya dilepas dulu" kata An.


"Iya, ini harus dilepas semua, terus kalian nanti bisa mandi bergantian, atau mau sama-sama juga boleh, sapa tau biar lebih bersih kan mandinya" kata Se.


"Jadi sekarang lepasin pakaiannya, dan ganti" kata An.


"Iya" kata Fariel.


"Aku ganti dikamar aku aja ya."


"Kan kamar pengantin nya ini bukan kamarmu, kenapa kesana buat ganti" kata Ney.


"Lagian juga aku gak bakal curi pandang kok."


"Iya, kan didalam kamar mandi gantinya, jadi aman kaya tadi juga aman gak ada yang ngintip juga" kata Se.


"Sapa tau nanti ada yang mau ikutan mandi bareng didalam, kan istri mu juga harus mandi."


"Mas mandi aja dulu didalam, kami masih lama, ini kan harus lepasin satu-satu, butuh waktu yang lama" kata Ervi.


"Gak papa, aku kekamar ku sendiri aja, biar sekalian shalat" kata Fariel.


"Aku mau rendam sebentar biar agak enak badanku."


"Terserah Uda aja, yang penting nanti kesini lagi" kata Fida.


"Emang mau ngapain kesini, hayoooo" kata Se.


"Ya kan mau itu tu" kata Ney.


"Gak paham aja masih" kata An.


"Bukan gitu, tapi ngantar pakaiannya kesini dan makan juga disini" kata Fida.


"Ohh itu" kata An.


"Kirain mau langsung pemanasan sore-sore begini."


"Hihihihi" ketawa Ney, dan Se.


"Gak usah aneh-aneh kami capek butuh istirahat buat besok lagi" kata Fida.


"Iya, kami kan butuh istirahat" kata Ervi.


"Emang pemanasan apaan sih, kaya gak ada waktu aja, sekarang kan harus istirahat bukan ngelakuin hal aneh."


"Dah mulai paham nih kayaknya nih yang atunya" kata Ney.


"Dah ya, aku mau kekamar ku biar lebih tenang ganti dan berendamnya" kata Fariel.


"Iya Mas" kata Ervi.


"Iya Da" kata Fida.


"Assalamu'alaikum" kata Fariel.


"Waalaikumsalam" jawab semuanya.


Dan aku meninggalkan kamar pengantin kekamarku buat ganti pakaian dan berendam sebentar.


Dikamar pengantin candaan kecil saat aku pergi.


"Nih ngomong-ngomong nanti malam mana dulu nih, yang pertama buat bikin adonan malam pertama nya nih" kata Ney


"Ervi dulu yang masih bersegel atau Fida dulu yang dah gak bersegel" kata Se.


"Apa-apaan sih" kata Ervi.


"Iya, heran deh, daritadi itu mulu bahasnya" kata Fida.


"Gak ada yang lain apa."


"Masa iya bahas yang lain" kata Se.


"Pengantin baru kan yang dibahas kan itu."


"Kira-kira mau ngasih anak berapa buat suami dari kalain nantinya" kata An.


"Berapa aja dikasihnya" kata Fida.


"Iya berapa mau dikasih sama Tuhan kuterima" kata Ervi.


"Belum ada dalam pikiran ku buat kesitu buat mikir berapa anak."


"Sekarang lepasin dulu ini semuanya, aku mau mandi dan istirahat karena capek, dan belum Shalat juga."


"Iya, ini pertanyaan kalian aneh-aneh semua yang dibahas" kata Fida.


"Kalian kan dibayar bukan buat bahas masalah ini, tapi buat ngerias kami."


"Maaf kalau kami menyinggung."


"Iya gak dong, justru kami yang minta maaf" kata An.


"Abis kan kami kepo."


"Iya, ini juga baru pertama kalinya bagiku buat ngerias pengantin dua sekaligus" kata Ney.


"Maksudnya menikahi dua wanita sekaligus, kan bikin penasaran nih "

__ADS_1


"Cerita dong sama kami, awal mulanya gimana nih bisa suka sama lelaki yang sama, dan akhirnya mau menjadi suami dari kalian, dan menerima kalian semua" kata Se.


"Iya, kepo nih" kata An.


"Cerita dong, daripada kami nanti bahas malam pertama kalian, kan lebih baik dengarin cerita kalian berdua, ya gak."


"Iya dong" kata Ney, dan Se.


"Ceritanya panjang gak cukup waktunya" kata Ervi.


"Iya sangat panjang" kata Fida.


"Gak papa, kudengar sampai pagi juga gak papa" kata Ney.


"Ayo dong cerita, please" kata Se.


"Atau mau bahas masalah lain nih."


"Ih kepo banget pada" kata Fida.


"Gak papa, kami kan tukang rias yang suka kepo" kata Ney.


"Iya" kata An.


"Ayo cerita sambil lepasin ini, kamu cerita dulu, baru nanti Fida."


"Ini masih lama loh kalau lepasin ini semua, gak bisa main tarik aja, harus pelan-pelan biar gak rusak."


"Sedikit aja ya" kata Ervi.


"Oke" ucap bertiga.


"Awalnya hanya bertemu biasa aja saat aku lewat dan dibantuin sama dia" kata Ervi.


"Tapi lama-lama aku punya rasa dan kuminta nomor HPnya, tapi gak tau kalau dia dah ada yang punya waktu itu."


"Seiring berjalan nya waktu rasa yang ingin kulupakan tentangnya, malah makin berusaha melupakan justru makin muncul dan makin bertambah rasa itu."


"Pernah sakit karena merasa diabaikan atau merasa bertepuk sebelah tangan juga, tapi setelah dia putus aku bertekat buat mengungkapkan semua perasaan yang aku punya."


"Sebenarnya dah beberapa kali juga aku ditolaknya dan hanya dianggap adek biasa aja, tapi aku gak mau menerima keputusan itu darinya."


"Aku meminta buat memilih antara menjadi suamiku atau aku pergi dan hilang selamanya, karena aku terlalu cinta."


"Terus" kata Se.


"Sabar dong" kata Ervi.


"Butuh nafas juga."


"Cepetan dong" kata Ney.


"Iya, dah gak sabar nih kelanjutannya."


"Juga harus bisa masak, dan harus belanja sendiri kepasar tanpa bantuan dari orang lain."


"Walaupun mungkin dia juga menerima ku terpaksa waktu itu, tapi aku bahagia asal dia memang mau menerima ku, apapun permintaannya asal selalu bersama denganku, karena aku gak bisa jatuh cinta dengan yang lain, walaupun banyak yang mencoba menjadikan aku sebagai pacar bahkan sering menjodoh-jodohkan aku dengan yang lain, tapi aku gak pernah bisa."


"Semakin aku mencoba melupakan semakin nyata bayangannya."


"Makanya aku sangat manja padanya, selalu meminta jalan bersama buat melupakan tentangnya dipikiran dia tentang mantannya itu."


"Bahkan aku juga pernah membuat dia sakit karena hantaman kakiku di daerah pahanya, hingga sampai masuk ruangan operasi."


"Hah, kamu hajar sampai masuk ruangan operasi, wah ganas juga kamu ya" kata Ney.


"Terus lanjutkan" kata An.


"Dia juga pernah masuk rumah sakit dan gak sadar hingga beberapa hari karena gak bisa menerima kalau orang yang dicintainya akan menikah karena dijodohkan, dan cewek itu menghilang."


"Sampai membuat dia merasa bersalah terus mencari dan ditemukan sama orang lain."


"Bahkan kami dah merasa kehilangan dan gak yakin kalau dia bakalan selamat dari tidur panjangnya yang gak pernah bangun, hanya tidur dibantu dengan alat medis di badannya terbaring dirumah, dan hampir sebulan dirumah sakit gak ada bangun dan tanda-tanda akan bangun dan sadar."


"Tapi karena aku sangat sayang dan cinta padanya aku selalu berdoa meminta pada-Nya buat sembuh, walaupun aku sebagai tukaran dari sembuhnya, asal aku bisa membuat dia bangun lagi."


"Aku gak bisa rela melihat dia terbaring dengan alat-alat dibadannya seperti itu."


"Setiap hari aku selalu ada disampingnya menemaninya, gak pernah sedikitpun aku pergi."


"Bahkan aku rela mengorbankan kuliahku hanya demi ada disampingnya selalu melihat dia akan terbangun nanti."


"Dah gitu aja aku gak sanggup menceritakan lagi."


"Kok sedih ya" kata Ney.


"Iya, aku jadi menangis mendengar ceritamu" kata An.


"Sedih bener, bahkan lebih sedih dari cerita Indosiar, patut dimasukan ke TV cerita kalian ini" kata Se.


"Aekarang kalau kamu Fida, cerita kan pada kami" kata Ney.


"Iya bentar" kata Fida.


"Aku dulu hampir setres dan gila karena ditinggalkan oleh suamiku dalam keadaan aku sedang mengandung, dia meninggal dalam tugasnya" kata Fida.


"Bahkan hari-hariku hanya melamun dan melamun sambil menangis."


"Tapi dia selalu menyemangati aku buat bangkit dan ikhlas menerima semuanya."


"Bahkan dia selalu ada buatku, disampingku, memanjakan aku apa yang aku butuhkan walaupun aku gak pernah memberi tau apa yang aku minta tapi dia seolah tau apa yang aku minta."

__ADS_1


"Bahkan dia sering rela mengorbankan waktunya hanya untuk aku, seperti mencarikan mangga muda dan memasakkan makanan buatku apapun yang dimintaku langsung dibuatkan dan mau menerima permintaanku."


"Lama-kelamaan rasa itu mulai mucul dari dalam hatiku."


"Rasa yang hilang tiba-tiba ada rasa baru yang hadir kembali, bahkan senyum yang dulu hilang mulai membuka lagi senyum itu."


"Ketawa ku juga mulai kembali lagi saat bersama, walaupun hanya mendengar apa yang dia ucapkan padaku."


"Karena itu aku mulai semangat buat berjuang dan bertahan hidup demi anakku yang bahkan hampir tak kuterima kelahirannya bahkan hampir ingin kugugurkan kandungannya."


"Tapi dia selalu mengatakan jangan kau bunuh anak yang gak berdosa, jangan sakiti, jangan kau sia-siakan anak itu, karena dia darah daging dari orang yang kamu sayangi, kalau kamu gak ingin merawat, ada aku yang akan membantu merawatnya nanti, gak masalah jika kamu menolak anak itu ada, tapi aku siap menjadi Ayah dan Ibu sekaligus buat anakmu yang gak akan kau anggap anakmu."


"Karena itu aku melihat ketulusan darinya, jadi aku merasakan ada hidup yang baru yang menantiku lagi, ada kebahagiaan yang akan datang untukku."


"Lalu aku membuka surat dari Almarhum suamiku yang diberikan padaku."


"Bahkan dia memberikan semangat buatku, menitipkan anak itu supaya tumbuh dewasa, karena itu anak kita satu-satunya."


"Bahkan dalam isinya juga mengizinkan aku untuk menikah lagi, tapi hanya boleh dengannya, bukan dengan yang lain, karena yakin hanya dia yang mampu menerima semuanya."


"Disitulaah aku makin merasakan cinta padanya."


"Tapi sama seperti yang dikatakan Ervi, aku gak bisa menerima kenyataan saat dia hanya terbaring lemah."


"Hatiku berasa sakit, bahkan lebih sakit dari saat kehilangan Almarhum, entah kenapa ini terjadi padaku saat itu yang gak bisa melihat dia hanya terbaring."


"Bahkan aku sampai rela jika menukar nyawaku dengannya, asal dia bangun kembali, dan aku bisa melihat senyumnya lagi, senyum yang dulu selalu ada buatku, candaan saat bersama."


"Aku bahkan sering pendarahan karena kandunganku yang lemah karena kesedihanku yang melihat dia terbaring."


"Bahkan aku sampai pingsan karena melihat dia seperti kejang-kejang dan jantungnya lemah."


"Aku beberapa kali jatuh sakit karena melihatnya, dan tak bisa kuterima semua ini, orang yang kini membuat ku semangat kembali, malah terbaring lemah."


"Ketika dia bangun dan sehat, rasa itu makin lama makin berasa nyata, makin ingin memilikinya."


"Bahkan aku sering meminta buat dia menemani ku saat malam hari di depan buat ngobrol dan menonton TV hingga aku lelap dalam tidurku."


"Bahkan aku sering mencuri pelukan saat dia tidur yang menemaniku nonton."


"Sering menyenderkan kepalaku di pundaknya."


"Sering manja padanya, dan dia selalu mengabulkan semuanya."


"Sayangku makin bertambah ketika anakku lahir, dan dia ada disamping ku, dan dia juga yang jadi bahan buat aku remas-remas saat aku sedang berusaha melahirkan."


"Dia juga yang memberi Adzan saat anakku lahir."


"Dia yang menemaniku mengurus anakku beberapa hari dirumah sakit."


"Sampai ketika itu aku selalu mengatakan pada anakku itu Ayahmu, menunjuk pada dia, walaupun hanya membisikkan pada anakku."


"Dan benar sekarang dia selalu memanggilnya Ayah padanya."


"Bahkan anakku sakit karena merindukan dia."


"Dia rela jauh-jauh dari desa kemari demi anakku yang padahal sedang hujan dan tengah malam kesini."


"Rasa cinta itu makin bertambah, makin takut aku kehilangan sosok dia jika nanti dia pergi, aku takut tak ada yang seperti dia."


"Bahkan dia pernah akan mengabulkan permintaan ku saat aku mulai ada rasa padanya, tapi baru kemarin ku katakan permintaan itu, kalau aku ingin dia menjadi Ayah sebenarnya buat anakku, dan menikah denganku."


"Dan dia juga dah berjanji akan menikah tahun depan dengan Ervi, orang yang mungkin dia sayang."


"Tapi kedua orang tua kami mengatakan kalau dia harus menikahi keduanya, supaya tak ada yang merasakan kehilangan, dan adil mengabulkan permintaan semuanya."


"Apalagi anakku yang sangat menginginkan dia, makanya akhirnya dia mau menerima walaupun itu paksaan, tapi akhirnya dia seminggu yang lalu mengatakan ikhlas dan siap buat semuanya dan akan berlaku adil pada kami."


"Ohh so sweet banget" kata An.


"Terharu mendengar cerita kalian" kata Se.


"Perjuangan kalian benar-benar bikin aku salut" kata Se.


"Cinta kalian benar-benar besar hingga rela jadi seperti ini, yang menikah dan akan memiliki suami yang terbagi."


"Apa kalian menerima keputusan ini" kata Se.


"Aku dari dulu siap jika jadi yang kedua, kalau dia menikah dengan orang yang dia sayang, aku siap menjadi madunya, karena aku sangat cinta padanya, gak peduli apa dikata nantinya, asal aku bisa bersama dan ikut memilikinya" kata Ervi.


"Aku juga sama, makanya mengatakan gak masalah jadi yang kedua dari Ervi asal anakku selalu bersamanya, dan aku juga gak kehilangannya" kata Fida.


"Apalagi aku tau kalau Ervi menginginkannya dari dulu, jadi aku siap asalkan aku bisa memilikinya juga, walaupun hanya sisanya, asal cinta ini bisa tersampaikan dan dibalas walau sedikit saja."


"Kok makin nangis dengar cerita kalian" kata An.


"Aku gak kuat dengarinnya" kata Se.


"Cukup aja ceritanya, daripada aku gak bisa pulang karena menangis mendengar cerita kalian."


"Aku juga sama seperti kalian, gak kuat dengar cerita nya" kata Ney.


"Ini cerita lebih menarik dari acara di TV."


"Cukup jangan dilanjutkan cerita kalian, aku gak kuat."


"Semoga kalian bisa bahagia bersama dan saling berbagi bersama."


"Ini sudah selesai, kalian bisa bergantian buat mandi" kata An.


"Iya makasih" kata Fida dan Ervi.

__ADS_1


"Iya" kata Se.


Dan Ervi juga Fida langsung bergantian buat mandi dan Shalat, juga dengan mereka yang juga ikutan Shalat tapi gak ikutan mandi.


__ADS_2