
Duu minggu kini telah berlalu setelah resmi kami menikah menjadi seorang Ayah buat Aya dan mereka juga kini telah menjadi istri-istriku.
Setiap malam selalu ada aya yang menemaniku tidur dengan Mamanya juga terkadang dengan Bundanya, Aya gak pernah lepas dariku, kemanapun aku pergi selalu ikut, bahkan kekantor juga sering ikut karena makin kesini makin gak bisa ditinggalkan olehku, jadi terpaksa harus kubawa kekantor begitu juga dengan Fida yang harus ikut untuk menjaga Aya, menemani Aya kalau aku sedang sibuk dengan berkas-berkas.
Sedangkan Ervi setiap hari selalu minta aku yang jemput dan juga diantar olehku nggak mau sama yang lain kecuali aku sibuk berangkat pagi.
Malam ini sangat berbeda, karena tak ada gangguan dari Aya yang biasanya ikut tidur disampingku kini dia malah ikut tidur dengan Mami dikamarnya sendiri.
"Sami kayaknya capek banget ya, mukanya pucet gitu" kata Ervi.
"Apa Sami sakit, kok pucet gitu" kata Fida.
"Kalau sakit kita kedokter yuk."
"Nggak kok, hanya kecapean aja, sehari ini full banyak miting" kata Fariel.
"Apa mau kita pijitin Mi, biar hilang capeknya sedikit" kata Ervi.
"Sini biar kita pijitin" kata Fida.
"Kasian Sami kita ini kecapean kelelahan setiap hari harus kerja gak ada henti."
"Boleh kalau kalian mau mijitinnya" kata Fariel.
"Capek pegal-pegal badanku, apalagi kakiku yang kiri, rasanya mau copot, harus gendong Aya sambil lihat proyek Papi tadi setelah selesai miting."
"Yaudah sini kita pijitin" kata Fda.
"Nngak tega lihat Sami begini."
"Kenapa nggak libur aja Mi, kan Papi sama Mami minta Sami itu jangan banyak bekerja" kata Ervi.
"Iya Sami kan harus jaga kesehatan, jangan suka kerja terus" kata Fida.
"Kesehatan Sami harus dijaga."
"Sami dah jarang olahraga pagi lagi sama sore loh."
"Gimana mau olahraga, kan waktu Sami sekarang buat kalian juga Aya" kata Fariel.
"Jadi nggak ada waktu buat olahraga."
"Dan Sami nggak bisa melepas tanggung jawab Sami ninggalin pekerjaan ini."
"Sekarang kan Sami punya tanggung jawab lebih pada kalian."
"Sami harus bisa menafkahi kalian, harus bisa adil terhadap kalian."
"Jadi nggak ada waktu buat Sami kehal lain."
"Tapi nggak boleh dipaksakan juga dong Mi" kata Ervi.
"Sini biar ku lepasin bajunya biar enak dipijitnya."
"Iya celanya juga sini" kata Fida.
Langsung di lepas baju dan celanaku oleh mereka, tapi masih pake celana pendek ya, jangan ngeres oke.
"Apa harus pakai minyak urut juga Mi" kata Fida.
"Nggak usah, nanti bau dan lengket" kata Fariel.
"Pake handbody kalau gak" kata Ervi.
"Biar enak mijitnya ya, pake handbody ya Mi" kata Fida.
"Iya silahkan aja" kata Fariel.
"Aku sangat beruntung menikahi kalian berdua."
"Kalian mampu membuatku jadi semangat hidup dan bahagia."
"akalian memang wanita yang harus kukorbankan semuanya, demi kebahagiaan kalian akan kulakukan apapun itu."
"Makasih selama ini selalu ada buatku."
"Makasih dah mau menemani hari-hariku selama ini, dari sebelum kita menikah kalian selalu ada buatku, menyemangatiku. "
"Aku sangat beruntung memiliki kalian yang mampu menerimaku apa adanya."
"Makasih juga dah saling mengerti dan mau berbagi kasih."
"Maaf jika aku gak bisa berbuat adil pada kalian."
"Kalian boleh protes jika aku salah, jika aku nggak bisa melakukan hal yang menurut kalian adil."
"Bantu aku melakukan semuanya agar bisa adil pada kalian."
"Bantu aku untuk menjalani hidup peran ini dengan kalian."
"Kalian segalanya buatku."
"I love u bidadari hidupku ini."
"Makasih Sanisku sayang."
"Iya Samiku sayang" kata Fida.
"Sanis juga harus banyak berterimakasih pada Sami yang dah mau menerima Sanis ini yang dah memiliki anak satu dah nggak gadis lagi."
"Makasih dah mau membuatku kembai yakin akan hidup ini buat bahagia."
__ADS_1
"Sami semangatku selama ini."
"Hanya sami yang mampu membimbingku kejalan yang bener."
"Mungkin kalau enggak ada sami mungkin aku dah ada di bumi ini, karena merasa hidup dan bahagiku dah hilang."
"Sami juga dah mau berkorban banyak buatku, selalu mengabulkan apa yang aku mau saat masih mengandung Aya, bahkan sampai sekarang Sami selalu sama bahkan makin sayang sama kita."
"Makasih Mi buat semuanya."
"I Love U Samiku sayang."
"Maaf jika pernah membuat Sami susah dan sakit."
"Sami juga dah banyak membuatku berubah" kata Ervi.
"Hanya karena Sami aku rela meninggalkan hal yang suka nongkrong itu."
"Karena bagiku Sami itu segalanya."
"Makasih dah mau menerima kami."
"Makasih dah mau jadi suami kita."
"Makasih dah mau menjadi suami kita sepenuhnya."
"Makasih dah selalu ada buat kita, memanjakan kita."
"Maaf jika manjaku selama ini berlebihan padamu."
"Maaf jika banyak menyusahkan Sami selama ini."
"Aku hanya sayang sama Sami."
"Aku hanya mau hidup bersama Sami dan anak-anak kita."
"Enggak peduli jika Sami memiliki dua istri atau lebih."
"Sanis rela, asalkan Sanis bisa selalu ada disamping Sami, melihat senyum Sami setiap pagi, dan menikmati makanan yang Sanis buatkan."
"I Love U Samiku sayang."
"Kok jadi pada nangis sih" kata Fariel.
"Sini Sami peluk sini."
"Enggak usah dipijit lagi, capeknya dah hilang karena kalian."
"Capeknya dah pergi kalau lihat kalian tersenyum."
"Ayok senyum, jangan nangis gitu."
"Dah jangan pada sedih gitu" kata Fariel.
"Kan sekarang Sami dah jadi milik kalian."
"Kalian bebas sekarang mau apapun dari Sami."
"Mau minta dimanja juga dah bisa."
"Mau manja-manjaan sambil memeluk dah boleh nggak ada yang larang."
"Malaikat juga takut melarang kita romantisan sambil berpelukan gini."
"Kan sekarang dah sah, dah resmi."
"Kalian kalau mau nyium Sami dah boleh."
"Bahkan Sami juga dah bisa nyium kalian tanpa minta izin dari Papi dan Mami."
"Karena kalian sekarang milikku."
Langsung kucium kening mereka juga pipinya.
"I love u istri ku yang cantik-cantik."
"Sekarang mau tidur apa mau ngapain nih."
"Ihhh Sami mah" kata Ervi.
"Sanis masih kuliah, nanti ya Mi, plisss."
"Tuh sama kakak aja."
"Lah emangnya apaan" kata Fariel.
"Kan slSami hanya bilang sekarang mau ngapain lagi, mau tidur apa mau ngobrol."
"Rupanya istri Sami ini yang satu masih takut ya."
"Mikirnya kemana hayo."
"Ih" kata Ervi, dengan memajukan bibir bawahnya.
"Ih lucu lihat bibirmu kayak gitu" kata Fariel.
"Mau dicium tuh bibir dimajuin gitu."
"Sanis jangan diem juga dong, nanti dikira Sami nyuekin Mama Aya nih."
"Enggak kok" kata Fida.
__ADS_1
"Kan Sanis juga harus bisa berbagi, jadi harus terbiasa menahan cemburu dengan istri Sami yang lain."
"Iya, makasih dah mau belajar juga, karena jangan nanti saling cemburu ya, karena Sami punya dua istri cantik yang harus diperlukan sama, harus adil dan bergantian juga" kata Fariel.
"Kan engggak mungkin kalau langsung keduanya."
"Kalau sami ingin memiliki segera anak, Sanis siap kok Mi, kapanpun Sami mau, berapa pun Sami minta" kata Fida.
"Iya makasih Sanisku yang cantik" kata Fariel.
"Untuk sekarang jangan dulu ya, Sami masih banyak pekerjaan, takut nanti kecapean dan gak bisa kerja."
"Sanis juga siap kok Mi" kata Ervi.
"Tapi jangan sekarang, tunggu sebulan lagi ya."
"Aku lagi banyak tugas sekarang."
"Iya, tenang aja" kata Fariel.
"Kapanpun kalian mau, kapanpun kalian siap, akan kulakukan itu."
"Enggak usah takut, Sami gak akan memaksakan hal itu tanpa persetujuan kalian."
"Sami gak ingin menyakiti hati kalian karena memaksakan kehendak Sami."
"Karena kalian adalah bagian hidupku."
"Sini peluk Sami, dan sekarang kita tidur ya."
"Sami enggak pake baju dulu" kata Ervi.
"Saniskan nggak biasa tidur dengan Sami seperti ini."
"Enggak ah, dah nyaman dan hangat" kata Fariel.
"Sekarang harus dibiasakan dong, kan masih pake celana."
"Kan bisa elus-elus dada dan perut Sami yang berbentuk ini."
"Ya gak Ma."
"Iya, ini bisa dipeluk makin nyaman" kata Fida.
"Bisa meraba perut Sami yang kotak-kotak, bikin geli" dengan tersenyum.
"Sini tangannya taro didada Sami" kata Fariel.
"Kalian kan dah sah, dah boleh menyentuh tubuh Sami semuanya."
"Enggak usah takut, enggak akan berdosa."
"Sekarang dah halal dan boleh."
"Aku ganti baju dulu, masa mau tidur pake pakean ini" kata Fida.
"Aku juga, ini panas" kata Ervi.
"Ya dah ganti disitu didepan, enggak papa, kan hanya Sami yang lihat" kata Fariel.
"Enggak mau ah malu" kata Ervi.
"Masa sama Sami malu" mata Fariel.
"Nanti suatu saat bakal kelihatan semuanya dari atas sampai bawah."
"Tapi itu nanti, sekarang masih malu" kata Ervi.
"Aku ganti dikamar mandi aja."
"Ya dah sana" kata Fariel.
"Mama Aya kalau mau juga sana, kalau mau disitu juga enggak papa."
"Iya Mi, disini aja" kata Fida.
"Lagian buat apa malu, ini dah gak ada dosa diperlihatkan ke Sami."
"Kita dah sah dah halal."
"Sami enggak ganti sekalian, apa mau kugantikan."
"Enggak usah, gini aja, dah biasa kalau tidur begini, hanya pake celana pendek dan singlet" kata Fariel.
"Lebih terasa nyaman."
Dan Ervi juga Fida sudah ganti menjadi pakai pakaian tidur, lalu merebahkan badannya disampingku lagi, karena bisanya kami tidur bergantian kalau Aya bisa ditinggalkan olehku kalau dah malam dah tidur pasti dipindahkan oleh Mamanya atau Bunda.
"Sekarang kita tidur ya" kata Fariel.
"Sebelum tidur cium dulu pipi Sami."
"Oke Mi" kata Fida dan Ervi, yang langsung mencium pipiku.
"Berdoa dalam hati dan kita tidur ya" kata Fariel.
"Peluk Sami yang erat ya."
"Iya Mi" kata Fida dan Ervi.
Dan kami langsung berdoa dalam hati dan langsung tidur dengan saling memelukku.
__ADS_1