Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Dunia milik berdua


__ADS_3

Sesudah selesai makan kita kembali berbincang-bincang.


"Gimana masakan adek mas, enak gak" kata Ervi.


"keasinan" kata Fida.


"Enak, hanya keasinan seperti yang dikatakan nyai tuh" kata Fariel.


"Tapi gak papa, namanya juga baru belajar masak."


"Sambalnya juga pas, bikin perut mas makin besar kayaknya nih, dah sebelas duabelas belas sama perut Papi kayaknya."


"Ehh punya Papi kecil ya" kata Papi.


"Kan perut Papi onepack" kata Mami.


"Hahahaha, berarti gendut dong" kata Ervi.


"Mami mah pake buka rahasia segala" kata Papi.


"Kita dah tua Pi, mana mungkin perut Papi sixpack, olahraga aja jarang, duduk terus tiap hari mana mungkin bisa kotak-kotak" kata Mami.


"Gak papa Pi gak sixpack yang penting kan sehat" kata Fariel.


"Iya tuh Pi yang penting sehat, sadar dah tua juga, sadar diri napa Pi" kata Fida.


"Iya Papi dah tua, tapi gak usah ngegas gitu" kata Papi.


"Hahahahaha, Papi marah nih" kata Fida.


"Gak marah paling cuman dongkol aja" kata Mami.


"Hahahahahaha" ketawa Fida dan Ervi.


"Ketawanya jelek" kata Papi.


"Papi yang sabar, perut Papi masih kalah besar sama Pak Udin, jadi woles aja" kata Fariel.


"Nah kalau ini baru bener, emang calon Papi ini mendukung banget, Papi jadi makin gak sabar nih buat acara" kata Papi.


"Acara apaan Pi" kata Fida.


"Calon apa Pi" Kata Ervi.


"Kenapa bisa keceplosan sih" kata Papi, dalam hati.


"Gak ada kok, hanya dah gak sabar aja pengen punya mantu aja lagi Papi, kan dah lama gak ada acara pesta, kak Fida aja kemarin nikah gak pake acara, jadi Papi pengen punya acara yang meriah nanti kalau diantar kalian ada yang nikah."

__ADS_1


"Ohhh, kirain apa" kata Ervi.


"Iya, kirain kakak apaan" kata Fida.


"Taunya dah gak sabar pengen punya mantu biar bisa buat pesta."


"Makanya kalian jangan kelamaan buat nikah ya, Mami juga dah sabar nih pengen duduk disamping kalian nanti di pelaminan" kata Mami.


"Moga aja tahun depan atau dua tahun lagi Ervi sama Fariel dan Fida juga bisa segera nikah, biar Papi bisa buat acara besar-besaran" kata Papi.


"Ccocok Pi, Mami setuju itu" kata Mami.


"Jadi kalian kapan akan bawa calon kerumah ini."


"Kalau Ervi Papi dah tau calonnya siapa, tinggal kak Fida yang belum ada" kata Papi.


"Emang siapa Pi" kata Fida.


"Ada dong" kata Papi.


"Aku juga dah ada kok Pi, tapi masih dalam proses mau apa enggaknya dia sama aku, kan status ku janda, dan akan punya anak satu lagi" kata Fida.


"Emang siapa kak" kata Ervi.


"Ada deh" kata Fida.


"Kira-kira kenal gak adek kak sama calon kakak."


"Kayaknya kenal sih, Papi dan Mami pun mungkin kenal sama orang itu" kata Fida.


"Berarti yang gak kenal cuma mas dong" kata Ervi.


"Mmmm mungkin" kata Fida.


"Bukannya aku gak tau, tapi mungkin akulah orangnya, karena beberapa kali dalam mimpi ku selalu bertemu dengan seseorang yang gak tau itu siapa, hanya ada suara yang memanggilku. Suara anak kecil yang selalu memanggil dengan sebutan itu" kata Fariel, ucap dalam hati.


"Bahkan aku juga bertemu dengan Almarhum dari suamimu dimimpiku itu, yang menitipkan mu padaku, apakah mimpi itu nyata atau tidak tapi seperti dalam alam yang nyata dalam pertemuan itu" lanjut batinku.


"Mas kenapa diem, lagi mikirin apa sih" kata Ervi.


"Hmmm, apa" kata Fariel.


"Mas melamun ya, melamunin apaan sih, pasti masalah cewek, pasti mikirin apa yang dikatakan Papi Mami" kata Ervi.


"Gak ada kok, emang kenapa" kata Fariel.


"Gak papa sih, ingat jangan mikirin cewek" kata Ervi.

__ADS_1


"Ingat dengan janji mas" bisiknya padaku.


"Pake bisik-bisik tetangga, yang lain juga pengen tau, pake main bisik-bisik, kaya gak ada orang lain disini, dah mulai menganggap dunia ini milik berdua kayaknya nih" kata Fida.


"Maaf ya Pi, Mi, Nyai juga" kata Fariel.


"Ini hanya masalah sederhana aja kok."


"Masalah apa emang" kata Fida.


"Masalah ku kok" kata Fariel.


"Besok minggu, dan aku harus datang untuk menghadiri pernikahan seseorang, karena aku dapat undangan kemarin."


"Bukan seseorang mas, tapi mantan" kata Ervi.


"Iya adek, iya mantan ya" kata Fariel.


"Besok aku harus datang jam sembilan pagi atau jam sepuluhan gitulah, tapi masih mikir mau ngasih kado apaan, bingung."


"Kenapa harus bingung, masa sama mantan gak tau kesukaan nya apa, pernah minta apa gitu, baju atau apalah gitu" kata Fida.


"Kan masih ada waktu beberapa hari."


"Kalau saran Mami kasih aja yang biasa-biasa saja tapi bermanfaat lama" kata Mami.


"Apa Mi" kata Fariel.


"Seperti alat dapur, atau untuk isi-isi kamar gitu, kaya selimut mungkin" kata Mami.


"Voleh deh, nanti biar pikirkan lagi" kata Fariel.


"Gak usah, mending amplop aja, gak usah yang lain-lain, kaya nanti bakal dia ngasih kado kekamu kalau kamu nikah" kata Papi.


"Iya mas, ngapain pake kado-kadoan segala, amplop aja dah sukur, kasih aja isinya seratus ribu kan udah, ngapain banyak-banyak" kata Ervi.


"Nyai setuju dengan adek, gak usah repot-repot buat bingkisan kado" kata Fida.


"Amplop diisi seratus aja dah bagus ngasih, daripada cuman datang cuman buat makan."


"Gak gitu juga kali dek, Nyai" kata Fariel.


"Jangan karena dia jadi mantan atau membuat kesalahan sama kita, terus kita seperti itu padanya."


"Cocok tu, Mami setuju sama anak mm" kata Mami.


"Apa sih Mi, suka di potong gitu, bikin penasaran aja" kata Ervi.

__ADS_1


__ADS_2