
Setelah selesai makan malam berdua akupun langsung bergerak untuk masuk kekamar melanjutkan tidurku lagi.
"Uda mau kemana" kata Fida.
"Mau tidur" kata Fariel, yang sudah berdiri.
"Mau tidur apa mau merindukan bulan" kata Fida.
"Tidur lah, kayaknya" kata Fariel.
"Temenin ngobrol napa, nyai suntuk sendirian" kata Fida.
"Sama Bibi aja ya ngobrol nya ya" kata Fariel.
"Gak mau, Uda temenin nyai maunya ngobrol sambil nonton" kata Fida.
"Ya udah iya" kata Fariel.
"Jangan mikirin itu lagi napa sih da, kaya dunia selebar daun kelor aja" kata Fida.
"Ntahlah" kata Fariel.
"Ayok kita nonton, aku ambil selimut dulu ya, nyai tunggu aja dibawah."
"Awas aja kalau berani ingkar janji, nyai hukum nanti uda buat tanggung jawab" kata Fida.
"Iya, aku dulan" kata Fariel, yang langsung berjalan kekamar.
Didalam aku langsung duduk diatas kasur.
"Kenapa terasa berat begini sih" kata Fariel, sambil memegangi kepala.
"Apa aku salah jika ingin bahagia bersamanya."
"Apa aku mampu melupakan semua kenangan yang terindah dalam hidup ini bersamanya."
"Tolong aku Tuhan."
"Jika memang dia bukan jodohku, bantulah aku melupakannya, tapi jika memang dia jodohku satukanlah kami."
"Aku gak sanggup bila menjalani hidup dalam bayang-bayangnya terus."
Dengan berat hati akupun langsung menarik selimut dan turun kebawah.
"Uda mau tiduran, nyai mau ngobrolin apa" kata Fariel, yang meletakkan selimut diatas tikar.
"Gak ada, cuman pengen ditemani nonton aja, biar gak sendiri mulu dari tadi siang" kata Fida.
"Ya udah, sekarang dah uda temanin kan, uda boleh dong sambil tidur" kata Fariel, yang sudah merebahkan badannya dan menyelimuti tubuhku.
"Ihhh jangan dong, masa tidur, itu namanya nyai jagain orang lagi tidur" kata Fida, dengan cemberut.
"Iya deh iya" kata Fariel, langsung duduk.
"Selimut untuk nyai mana" kata Fida.
"Emang nyai dingin, kan nyai udah pake selimut kecil" kata Fariel.
"Kan nyai mau ikutan tiduran juga disini" kata Fida.
"Nyai kalau dah ngantuk langsung tidur dikamar aja, jangan disini, kita juga gak boleh tidur bersebelahan" kata Fariel.
__ADS_1
"Nyai gak mau tidur sendiri, biasanya ada Mami yang nemenin" kata Fida, dengan cemberut.
"Iya deh iya, ntar Uda ambilin, tunggu disini" kata Fariel.
Fida hanya menganggukan kepala saja.
Akupun langsung kembali naik keatas buat ngambil selimut dikamar Fida, setelah mengambil akupun langsung turun lagi kebawah.
"Nih selimutnya" kata Fariel.
"Gak ikhlas nih" kata Fida.
"Ikhlas nyai, dah sekarang nyai tiduran dibawah, uda tidur diatas disofa" kata Fariel.
"Temenin dibawah aja napa, pijitin kaki nyai" kata Fida.
"Pegel-pegel nih, apalagi pinggangnya, kan Mami gak ada" keluh nya.
"Iya deh iya" kata Fariel.
"Dah sini biar Uda pijitin kakinya."
Fida langsung menselonjorkan kakinya, akupun langsung memijit kakinya yang masih terbungkus dengan celana.
"Yang kuat Da" kata Fida.
"Iya" kata Fariel, langsung memijit dengan sedikit kuat.
Setelah lumayan lama mijit kakinya.
"Sekarang tinggal bagian belakang yang sakit" kata Fida.
Akupun langsung pindah posisi kebelakang Fida.
"Nah kaya gitu."
"Emang sakit banget ya" kat Fariel.
"Iyalah, kan tiap hari kemanapun pergi selalu bawa bayi dalam perut" kata Fida.
"Nanti juga bakal uda rasain kalau dah nikah dan punya istri sedang mengandung, pasti bakal tiap malam minta di pijitin kaki sama punggung dan juga pinggannya, apalagi kalau dah masuk ketujuh bulan sampai mau lahiran, bakalan sering minta dipijitin."
"Ooh gitu" kata Fariel, sambil memijit.
"Tadi Mami ngasih HP buat Uda, dan kartunya juga dah dipasang kan, takut banyak orang yang bakal hubungin ke nomer Uda, jadi masih pake nomer Uda yang kemarin, tapi Mami minta jangan dihidupkan hpnya kalau pagi sampe sore, kecuali ada perlu biar gak ada nomer baru masuk" kata Fida.
"SIM nya juga dua, jadi bisa dimatikan yang satu."
"Gak usah, nanti Uda beli sendiri aja, kenapa Mami sampai repot-repot segala sih, pasti mahal beli HP nya" kata Fariel.
"Ya gak tau, hpnya ada dikamar nyai, tadi nyai cobain dulu" kata Fida.
"Ya udah buat nyai aja kalau mau, biar nanti Uda cari sendiri aja" kata Fariel.
"Gak mau, itu buat Uda dari Mami" kata Fida.
"Harus diterima kata Mami tadi, gak boleh nolak katanya, kalau Uda masih menganggap Mami keluarga."
"Iya deh Uda terima, HP nyai ada dikamar, apa mau Uda ambilkan" kata Fariel.
"Gak usah, besok aja, nyai mau rebahan, udah pijitin nya, nanti aja kalau dah berasa lagi" kata Fida.
__ADS_1
"Ya udah tiduran terus, auda juga mau tiduran, nanti bangunin Uda kalau perlu sesuatu" kata Fariel.
"Apa mau minum dulu biar Uda ambilkan dibelakang."
"gak usah, nyai dah bawa, tuh" kata Fida, tunjuknya pada meja dengan kepala dan mata yang sedikit melirik.
"Ooh okelah, kalu gitu Uda mau tidur" kata Fariel, yang merebahkan badanku dan menarik selimut.
"Jangan tidur dulu, masa ditinggal tidur nyai" kata Fida.
"Emang mau apa lagi sih" kata Fariel.
"Ya kan bisa ngobrol dulu gitu, biar nyai bisa ngantuk" kata Fida.
"Mau ngobrolin apaan" kata Fariel.
"Apa aja, cerita tentang Uda dan dia juga gak papa, asal jangan diinget semua, dikit aja gitu" jata Fida.
"Kalau itu bakal ingat terus, gak mungkin bisa kulupakan sampai kapanpun" kata Fariel.
"Emang cinta banget ya" kata Fida.
"Gak banget, tapi cinta sampai disurga nanti ingin tetap bersama" kata Fariel.
"Ohhh kok nyai jadi pengen dicintai sampai disurga nanti" kata Fida.
"Ya kan sudah ada buat nyai" kata Fariel.
"Iya, tapi kan nyai ditinggal sekarang, nyai kan maunya bersama terus sampai tua nanti sampai ajal yang memisahkan kita" kata Fida.
"Ya udah kalau gitu cari aja lagi yang baru, gampang kan" kata Fariel.
"Kalau gitu Uda aja buat penggantinya" kata Fida.
"Kenapa harus Uda, kan masih banyak yang lain, Uda juga gak bisa" kata Fariel.
"Kenapa gak bisa Da" kata Fida.
"Nyai itu dah Uda anggap sodara sendiri sama seperti Ervi, jadi sampai kapanpun akan ku anggap selalu sama seperti saudara, gak ada yang berubah" kata Fariel.
"Kalau misalnya memaksa harus mau gimana" kata Fida.
"Tetap gak mau" kata Fariel.
"Dah ah ngantuk."
"Kenapa bahasnya malah kesana sih, kalian tetap aku anggap sama sampai nanti, kalian saudara walaupun tak sedarah" ucapku dalam hati.
"Aku juga gak mungkin bisa menyayangi kalian seperti aku menyayanginya."
"Kalian tetap saudara, tapi bukan untuk aku jadikan Ibu untuk anak-anak ku nanti."
"Biarkan aku hidup seperti ini, walaupun mungkin nanti aku gak bisa dapatkan pengganti yang seperti nya, aku akan hidup sendiri sampai waktuku tiba."
Fida terdiam dengan muka cemberut nya.
"Aku gak mau kehilangan lagi" ucap dalam hati.
"Aku gak tau kenapa kau buat aku nyaman saat bersama akhir-akhir ini."
"Jangan buat aku merasakan kehilangan untuk kedua kalinya."
__ADS_1
"Maaf jika perasaan ini salah."