
Tia pun langsung naik dan langsung melingkarkan tangannya dengan erat dan menyandarkan kepalanya dipundakku, membuat para cowo iri melihatnya dengan adegan ini.
Sambil menikmati perjalanan aku coba bertanya tentang apa yang terjadi dengannya hari ini sampai jadi hobi ngambek.
"Yank, kamu kenapa sih hari ini, kok seneng banget ngambek, bahkan kaya dah jadi hobi" kata Fariel, sambil mengendarai motornya.
"Gak kenapa-kenapa kok" kata Tia, jawabnya dengan sedikit menutupi sesuatu.
"Yakin, tapi kok kamu kaya menutupi sesuatu" kr Fariel.
Hanya diem dengan memelukku sedikit mengendurkan tangannya dari pinggangku, tapi masih dengan kepala yang menyender dipundakku.
"Kalau ada masalah cerita jangan dipendam, kan yang bilang kalau aku calon ayah buat anak-ankamu nanti" kata Fariel.
"Tapi ini berbeda, maaf" kata Tia.
"Oke deh, tapi bukan masalah dari teman-teman mu atau sahabatmu kan atau dariku" kata Fariel.
"Gak kok, ini pribadiku masalahku sendiri" kata Tia.
"Oke deh, akan ku tunggu sampai kapanpun kamu mau cerita sama masalahmu dengan ku" kata Fariel.
"Iya, jangan sekarang ya" kata Tia.
"Iya, yaudah pegangannya yang benar yang kuat, biar gak jatuh, karena jalananya menanjak" kata Fariel.
"Iya Pangeran" kata Tia.
Membuat ku tersenyum.
"Nah gitu, senyum dong, kan mau lihat pemandangan indah, kalau gak senyum pemandangan nya juga gak akan menarik karena ada Bidadari yang lagi cemberut, jadi langit pun ikut cemberut" kata Fariel, ucap panjang lebar untuk menggoda nya.
"Iiih apaan sih, dasar gombal" kata Tia, lalu tersenyum.
"Nah gitu dong tersenyum, kan langit jadi ikut tersenyum, karena takut kalah manis senyumnya dari Bidadari yang sedang memelukku mesra ini" kata Fariel.
"Iiiihhh, gombal" kata Tia, sambil mencubit pinggang ku.
"Ihhh sakit loh yank, kalau jatuh gimana" kata Fariel.
"Makanya jangan gombal mulu, mau jadi raja gombal apa" kata Tia.
"Iya gak gombal lagi, tapi emang bener senyummu meluluhkan duniaku" kata Fariel, sambil tersenyum melihatnya dari spion.
"Ih tuh kan gombal lagi" kata Tia)l, lalu mencubit lagi.
"Jangan cubit-cubit mulu dong yang, harusnya tuh dielus-elus di sayang-sayang, kan kamu yang suka meluk-meluk tubuhku" kata Fariel.
"Iya Pangeran ku tersayang" kata Tia.
lalu ngelus-ngelus pinggang dan perut sixpack ku ini di balik kaos.
"Nah gitu dong" kata Fariel.
Tia tersenyum sangat lembut dan manis.
"Adududuh senyumnya bikin terasa indah duniaku lebih indah dari pemandangan manapun dengan melihat senyumnya yang sangat manis" kata Fariel, lalu tersenyum.
"Jangan gombal, entar kucubit lagi" kata Tia.
"Iya Bidadari ku, udah ngusap-ngusapnya, pegangan aja yang bener, apa suka ya dengan ngusap-ngusap perutku biar bisa meraba perut kotak-kotak ku ini" kata Fariel, dengan senyum jahilnya.
"Iya dong, tau aja Pangeran ku, kapan lagi coba bisa merasakan perut kotak-kotak kaya roti sobek kata Tia, yang sedang mengusap perutku lalu nyubit lagi tapi dengan cubitan sedikit pelan, karena gak bisa di cubit mungkin tuh perut.
Akhirnya kita diem untuk beberapa menit, karena sudah sampai di gapura, jadi sekitar 20 meter lagi sampai ditempat tujuan yaitu dibukit.
Banyak banget yang berliburan kemari jika sore hari apalagi hari minggu seperti ini, bahkan orang yang dari luar kotapun sampai kemari hanya ingin melihat pemandangan Kota Dibalik Awan, hingga membuat jalannya sedikit lambat karena macet karena banyak kendaraan yang terpakir dipinggir jalan.
Akhirnya dengan perjalanan yang cukup lama sekitar 2jaman lebih sampai juga di tujuan. Karena memang aku mengendarainya tidak ngebut, dan jalanannya juga banyak menanjak jadi memakan waktu yang cukup lama.
Ku parkiran motorku dipinggir jalan sesuai arahan dari tukang parkir disini, dan tak lupa pula langsung bayar uang parkir, memberikan nomer plat, dan nama kendaraannya untuk dicatat, biar lebih aman, sesuai peraturan parkir yang mereka buat. Karena baginya yang punya kertas parkir jika kendaraan kita hilang mereka tanggung jawab, dan bagi yang tidak memiliki kertas parkir jika terjadi dengan kendaraannya mereka tidak bisa membantu karena diluar tanggung jawabnya.
Setelah selesai kita berjalan menuju cafe untuk memesan minuman karena cukup haus, tapi ternyata tempatnya begitu penuh, jadi terpaksa nyari makanan seperti kue, atau cemelian di aneka kue di sebrang jalan yang saling berhadapan dengan cafe.
Setelah didapat apa yang dimau kita lanjut bejalan kaki mencari tempat yang bisa untuk duduk berdua walau dengan sepatu untuk alas duduknya.
Setelah didapat tempat yang pas untuk duduk kita pun langsung duduk berdua diatas kayu yang cukup besar tapi sudah dibuat macam tempat untuk duduk para wisatawan yang ingin menikmati suasana bukit, apalagi pas dipinggir tebing yang begitu pas banget untuk melihat pemandangan kearah kota dibawah sana dan pepohonan yang hijau membuat pemandangan terasa semakin indah dipandang. Tapi tenang walaupun tebing, tapi sudah di buat dengan pasangan batu dan besi-besi supaya tidak terjadi longsor, karena kalau longsor jalan-jalan yang dibawah sudah pasti tertutup.
"Pas banget dapat tempat yang juga menarik disini" kata Tia, sambil menyenderkan kepalanya dipundakku.
"Kirain mau protes" kata Fariel.
"Gak dong, aku gak akan protes lagi dan ngambek lagi" kata Tia, yang sedang asik memainkan HP ku untuk memoto pemandangan juga berselfi tentunya dengan gaya dua jarinya berbentuk V, karena hampir banyak cewe juga, jika sudah main camera sudah pasti selfi-selfi pasti gak akan ketinggalan. Sedangkan HP nya sendiri didalam tas kecilnya.
Aku hanya mengikuti apa yang dia mau untuk ikut berselfi dengan gaya yang cukup aneh menurutku. Tapi aku hanya diem dan mengikutinya walaupun menurutku sedikit alay. Tak lupa pula meminta tolong kepada orang yang disebelah untuk memotokan kami.
__ADS_1
"Kak, boleh minta tolong gak, fotokan kami" kata Tia, kepada pengunjung juga.
"Boleh, sini kak biar ku bantu" ucapnya.
"Nih, nanti aku bantu untuk gantian kalian juga berfoto berdua" kata Tia, sambil menyarahkan.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya yang selalu meminta tolong kepada yang disekitarnya hanya untuk berfoto berdua, seperti tadi pagi ketika dikebun buah.
Dan akhirnya kita berdua berfoto dengan macam pola gaya yang dia inginkan, dari tatap muka, saling memunggungi, minta dipeluk dari belakang, memelukku juga, digendong dibelakang dan didepan kaya Ratu apalagi dengan bunga-bunga yang melingkar di kepala nya yang menambah semakin seperti putri raja sungguhan, lalu berjongkok dihadapannya dengan satu lutut ditanah, menaruh bunga diatas telinganya dan masih banyak lagi gaya foto-foto yang lain. Aku hanya mengikuti arahannya dia, takut kalau gak turuti akan ngambek lagi.
Dan setelah selesai dia langsung bergantian untuk memoto mereka seperti janjinya tadi.
Setelah selesai kita kembali duduk lagi sambil memakan cemilan dan meminum minuman yang tadi kita beli. Tak lupa pula sambil melihat hasil foto-foto tadi dan tak lupa langsung diposting foto ketika aku berjongkok seolah sedang memberikan bunga plastik, menaruh bunga di atas telinganya dan sedang digendong kaya Putri dan Pangeran tak lupa dengan caption "kan kupeluk selamanya 'bidadariku' i love u". dia pun tak lupa memposting lewat HP nya dengan foto yang sama dengan captian sedikit berbeda "Camiku, Pangeranku, dan Imamku i love u".
Setelah berkutat dengan HP dia dan juga sudah sore ia langsung ngajak makan.
"Yank makan yuk, laper" kata Tia. sambil mengusap perutnya.
"Ayok, mau makan apa" kata Fariel.
"Nasi goreng atau mie goreng kuah juga boleh" kata Tia, menunjuk warung makan disebrang jalan.
Dan kita pun berdiri lalu berjalan ke warung makan yang ditunjuk olehnya dan mencari tempat duduk tapi penuh.
"Gimana yank, penuh tuh" kata Fariel.
"Kan bisa makan diluar gak harus didalam" kata Tia.
"Pak mie goreng kuah dua minumnya air putih hangat aja, boleh diantar kesana gak, saya duduk disana karena tempatnya dah penuh" kata Tia, ucapnya panjang lebar dan menjelaskan ke pemilik warung.
"Boleh, iya nanti saya antar, ditunggu aja ya pesanannya" ucap pemilik warung.
"Oke makasih ya Pak, permisi saya tunggu disana" kata Tia.
"Gimana beres kan, Astria gitu" kata Tia, ucapnya dengan menyombongkan diri.
"Iya Astria ku ter sayaanggggg" kata Fariel, bisiknya.
Kita pun kembali ke tempat yang tadi untuk kita duduk. Sambil menunggu pesanan datang kita menikmati cemilan keripik ubi yang masih ada karena belom sempat dibuka, yang niatnya mau dimakan bareng dengan mie goreng kuah. Dan tak lupa pula manjanya kumat lagi, yaitu meminta disuapin makan keripik nya.
Akhirnya pesanan pun datang.
"Bang dak Kakaknya ini pesanannya" ucapnya yang mengantarkan makanan, sambil memberikan mangkok berisi mie goreng kuah kepada kita dan minuman air putih hangat yang di letakkan diatas tanah, karena gak ada meja disini, hanya ada kayu untuk duduk, jadi gak masalah dan disebelah kita juga sama sedang menikmati makanannya.
"Iya sama-sama, silahkan dinikmati, saya permisi dulu, kalau ada yang kurang tinggal kesana saja ya, dan nanti kalau sudah selesai saya ambil sendiri gak perlu diantarkan" (Pegawai)
"Iya, makasih" kata Tia.
Dia menganggukkan kepalanya dan langsung pergi.
Kita langsung menikmati makanannya.
"Mau disuapin gak" kata Fariel yang mencoba menggoda dan tersenyum kearahnya.
"Gak usah" kata Tia. yang sedang menyendok mie.
"Yakin, ntar nyesel karena gak disuapin" kata Fariel, dengan menaikkan satu alisnya.
"Iya Bambang" kata Tia, lalu menatap ku.
"Namaku bukan Bambang, jangan main ganti nama" kata Fariel.
"Iya Camiku tersayang, dah ya ngobrolnya, kita makan dulu sebelum dingin, ntar gak enak mienya" kata Tia.
Sedangkan aku hanya ngangguk karena sudah memasukkan mienya kedalam mulut.
"Pasti gak berdoa, tau-tau mulut dah penuh kayak gitu" kata Tia, yang melihatku sedang mengunyah.
Aku hanya mengacungkan jempol bertanda sudah berdoa sebelum makan, jauh sebelum menawari untuk menyuapinya.
Dan kami pun makan bareng tanpa ada suara kecuali suara sendok. Dan kita pun selesai dengan makannya.
"Sini mangkoknya biar kutumpuk" kata Fariel, sambil meminta mangkok kosongnya.
Setelah Tia memberikan mangkok kosongnya aku letakan mangkoknya ditanah, dan kuambil air minum lalu kuserahkan.
"Nih minum dulu, jangan kaya ular habis makan gak minum, ntar seret 'haus'" kata Fariel, sambil menyerahkan gelas berisi air minum.
Tia pun langsung menerima dan meminumnya hingga tersisa setengahnya dan meletakkannya sendiri ketanah.
Dan kita lanjut ngobrol lagi membicarakan berbagai macam, seperti aktifitasnya di tempat dia kuliah.
"Kak permisi, saya mau ambil mangkok dan gelas" kata Pegawai.
"Oh ya silahkan, totalnya berapa, maaf kalau ga sopan" kata Fariel.
__ADS_1
"Gak masalah Bang, santai aja, totalnya hanya 40ribu saja" ucapnya.
Akupun langsung menyerahkan 1 lembar uang 50 an.
"Ini ka" kata Fariel.
"Iya, nanti kembaliannya saya antar Bang" ucapnya.
"Gak usah, simpen aja buat Kaka" kata Tia, ucapnya tiba-tiba yang dalam mode sedang cemburu melihat Pangerannya berbicara sama lawan jenis apalagi pakai ngeluarin jurus senyumnya.
"Iya makasih ya Kak, nanti saya kasih buat Anakku" ucapnya, yang tau kalau ada yang sedang lagi dalam mode cemburu kalau cowok yang disebelahnya takut diambil.
"Permisi" ucapnya lagi.
Aku justru ketawa karena melihat Bdadari disebelahku sedang dalam mode cemburu, dan yang dicemburui sudah menikah dan punya anak pula.
"Ih jangan ketawa, kalau masih ketawa aku beneran ngambek nih" kata Tia, karena tau aku sedang menertawakan nya.
"Habis lucu sih, kecemburuanmu sama orang yang sudah menikah dan punya anak sih, takut aku disikat ya" kata Fariel, lalu tertawa lagi.
"Iiiihh nyebelin" kata Tia, dengan bibir kerucutnya.
"Ih jangan ngambek dong sayang, tu bibir biasa aja, apa minta dici** nih" kata Fariel, mencoba merayu biar ilang mode ngambek nya.
Tia senyum terpaksa, dan langsung menarik tubuhnya untuk merapat dan menyenderkan kepala dipundakku, sambil melihat pemandangan yang sangat indah, sedang terjadinya awan mulai menutupi kota.
"Pulang yuk dah sore nih" kata Fariel, sambil memperelihatkan jam yang melingkar di tangannya sudah jam 17:40.
"Nanti terlambat pulangnya jadi agak malam, kan belom izin kalau keluarnya sampai malam" kata Fariel.
"Udah kok, sama pemilik kos dan Pak Satpam, kalau aku pulangnya kemungkinan sedikit malam karena mau lihat awan yang menutupi kota" kata Tia.
Memang peraturan kos nya seperti itu, jika keluar harus izin dulu ke Satpam dan kalau keluar malam juga harus izin dulu dan bilang keluarnya dengan siapa.
"Oke deh Tuan Putri" ke Fariel.
"Yuk pulang, tapi nanti pelan-pelan mengendarainya ya, biar aku bisa menikmati pemandangan disore hari" kata Tia.
"Baik, titahmu akan saya lakukan ratu" kata Fariel, sambil membungkukkan badannya.
"Ih apaan sih, gombal" kata Tia, lalu menarik tanganku dan menggandeng ku terus nyender tuh kepalanya.
Sambil berjalan Tia tetap asik nyender sambil berjalan kearah tempat tadi memarkirkan motor membuat yang lain cemburu saja.
"Gak usah nyender mulu, aku gak bakal ngambil cowokmu, aku dah punya nihh" ucap pegawai yang tadi dicemburuinya, dengan menunjukkan suaminya yang rupanya pedagang dan juga anaknya yang masih berumur sekitar 2tahunan di gendongan nya.
Sedangkan aku tertawa karena inget yang tadi ketika sehabis makan, yang cemburu berlebihan, eh gak taunya ketemu lagi, dengan membawa anak dan suaminya.
"Gak usah ketawa" kata Tia, lalu nyubit pinggang ku.
Aku berusaha menahan ketawaku.
"Maaf ya kak, mungkin bawaan ini" kata Fariel, mengelus perutku sendiri dengan tersenyum yang hampir tertawa lepas karena sebelahnya malah cemberut. Padahal yang dimaksud olekhu adalah kekenyangen karena ngabisin cemilan begitu banyak dan ditambah mie goreng kuahnya.
"Ohhh, aku juga pernah ngalamin" ucap suaminya
"Duluan ya, aku dah sampai ni di depan motorku nih" lanjutnya.
"Semoga bisa ketemu lagi biar bisa godain bumil, buat bumil ngambek lagi, asik kalau lihat bumil cemburu, lucu dan gemes liat muka dan bibirnya yang seperti mau jatuh" ucapnya lalu menoel tangannya Tia
Membuat Tia kaget karena dibilang bumil dan akan digodain lagi sampai ngambek kalau ketemu lagi.
Aku yang melihat Tia seperti itu mau ketawa tapi kutahan dan hanya tersenyum lalu menganggukan kepalaku kearah mereka.
"Dah bumil dah Abang tampan" godanya lagi sambil melambaikan tangan dan tangan anaknya.
"Iya Kak, dada Adek" ucapku sambil melambaikan tangan dan langsung meninggalkan mereka menuju motor ku.
Tia berjalan dengan diam membisu.
Aku melepaskan pegangan tangannya dengan perlahan yang masih melingkar ditangannya dan langsung naik motor juga menyerahkan kertas kepada mereka yang meminta kertas parkirnya.
"Ayok naik, jangan mikir yang aneh-aneh" kata Fariel.
Tia pun langsung naik, tapi gak pegangan juga, akhirnya kutarik tangannya supaya melingkar di perutku untuk berpegangan.
"Dah siap, biar jalan nih, katanya mau menikmati pemandangan sore hari" kata Fariel.
Tia langsung meletakkan dagunya dipundakku, dan aku tersenyum melihatnya dari sepion dan jalan untuk pulang.
Ditengah jalan ketemu lagi.
"Romantis bingit nih pasangan mudanya" ucap nya sambil mengacungkan jempol dan tersenyum kearah kita yang menyalip kita dengan motor maticnya.
Membuat Tia mukanya memerah dan menutupinya dibalik punggungku, dan senyum-senyum sendiri dibalik punggungku.
__ADS_1