Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Enggak boleh kemana-mana


__ADS_3

"Aaak" kata Fariel, yang menyuapinya.


"Gimana rasanya, apa enak."


Hanya anggukan saja darinya.


"Apa iya enak, kaya bakal aneh rasanya" kata Fariel, dalam hati.


"Sami coba dikit ya, penasaran sama rasanya."


Hanya anggukan dan langsung kucoba airnya.


"Ih kok gini ya rasanya" kata Fariel.


"Jadi aneh" dalam hati.


Langsung kuminum milikku yang hanya es kelapa campur sama bengkoang tanpa ditambahkan buah yang lain seperti miliknya.


"Ini baru ada rasanya, itu kok rasanya sedikit aneh ya, apa karena enggak biasa" kata ariel, dalam hati


"Aaak lagi" yang menyuapinya lagi dan lagi.


"Dah dulu, nanti lagi sambil makan sate sama baksonya" kata Fida.


"Ya dah kita tunggu ya" kata Fariel.


"Apa mau makan yang lain biar Sami ambilkan" kata Fariel.


"Kan tadi katanya dah lapar lagi."


"Enggak mau" kata Fida.


"Mau tidur aja sambil nunggu."


"Tapi dingin."


"Ya dah tidur dulu kalau gitu" kata Fariel.


"Pejamin matanya biar Sami peluk kalau dingin."


"Tadi enggak mau pake lengan panjang, maunya pendek, kan dingin jadinya."


"Mi" kata Fida, yang memainkan bajuku dan seperti sedang melukis dengan jarinya.


"Iya apa" kata Fariel.


"Anu" kata Fida.


"Anu apaan" kata Fariel.


"Anu" kata Fida.


"Iya, tapi anu apaan" kata Fariel.


"Sami enggak tau loh apa yang kamu minta."


"Yang jelas kalau ngomong."

__ADS_1


"Enggak jadi" kata Fida.


"Loh kok enggak jadi, kenapa" kata Fariel.


"Enggak papa" kata Fida.


"Sami enggak pekaan."


"Emang apa sih, Sami enggak tau loh apa yang kamu minta" kata Fariel.


"Ayok ngomong yang jelas."


"Mau mandi siang ini, tapi Sami temanin mandi atau minta sami mandikan."


"Enggak jadi" kata Fida.


"Mau tidur ajalah."


"Ya dah tidur aja kalau gitu" kata Fariel.


Bukannya tidur malah asik dengan melukis dengan jari didadaku dan memainkan baju yang kukenakan untuk menutupi mukanya.


"Ada aja kelakuanmu" kata Fariel, dalam hati.


"Bajuku bisa makin longgar dan kedodoran kalau begini."


"Sebenarnya ada apa sih kamu hari ini, apa memang akan ada nyawa dalam perutmu."


"Jika memang benar, terimakasih ya Tuhan telah mempercayai kami untuk memiliki anak."


"Makin lapar."


"Bentar lagi ya" kata Fariel.


"Sabar sebentar aja ya."


"Makan es buah aja dulu ini ya, dihabiskan nanti kalau habis kuambilkan lagi."


"Enggak mau Mi" kata Fida.


"Maunya sate sama bakso, titik."


"Ya dah kutelpon dulu ya, dah dapat belum" kata Fariel.


"Bentar ya."


"Buruan" kata Fida.


"Iya" kata Fariel.


Langsung kuambil HP disaku dan kutelpon Pak Udin. Beberapa panggilan tak ada jawaban darinya, tapi akhirnya diangkat juga.


"Hallo Assalamu'alaikum Pak, dah dapat belum" kata Fariel.


"Dah semua ini Den" kata Udin.


"Enggak ada lagi yang kurang kan Den, hanya bakso dan sate."

__ADS_1


"Enggak ada Pak, hanya itu ja" kata Fariel.


"Emang Bapak dah dimana."


"Ini dah di gerbang rumah Den, lagi markir kan motor" kata Udin.


"Alnya pake motor tadi Den biar cepat, hehehehe."


"Ya dah kalau gitu" kata Fariel.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam" kata Udin.


"Gimana Mi, dah dapat belum, sudah sampai dimana mereka" kata Fida.


"Laper."


"Baru sampai gerbang" kata Fariel.


"Ya dah duduk dulu biar Sami siapkan semunya."


"Enggak mau" kata Fida.


"Katanya dah lapar lagi" kata Fariel.


"Kan biar cepat kalau Sami siapkan."


"Tapi Sami tetap enggak boleh kemana-mana, disini aja" kata Fida.


"Iya deh iya" kata Fariel.


"Tapi nanti Bibi enggak tau kalau minta disiapkan buat kamu, gimana dong."


"Telpon" kata Fida.


"Ada nomernyakan."


"Masa kesitu cuman ditelpon sih, enggak sopan loh" kata Fariel.


"Bentar aja ya, Sami kedalam."


"Enggak mau" kata Fida.


"Enggak boleh gitu ihh" kata Fariel.


"Maaa Maaa Mamaaaa" kata Fida, dengan nada lumayan keras.


"Ih, kok gitu" kata Fariel, yang sambil menutupi mulutnya.


"Maaaaaa" kata Fida.


"Iya Sami enggak kemana-mana" kata Fariel.


"Sami telpon nih Bibi nih ya."


Baru mau ditelpon Bi Sumi dan Bi Ani datang sambil membawa nampan.

__ADS_1


__ADS_2