Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Mengingat


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu.


Kumelamun dimalam hari yang tak percaya besok adalah hari istimewanya hari bahagianya yang akan merubah status dari remaja menjadi ibu rumah tangga.


Kumengingat ingat momen dimana dulu saat masih bersama bermanja-manja saling tertawa dengan penuh bahagia.


Sambil memandangi gambar kita bersama saat sedang memelukmu dari belakang seperti pada film Titanic mungkin.


"Andaikan besok adalah hariku bersamamu pasti hidupku akan sangat bahagia dan beruntung."


"Dulu kita saling bermanja saling tertawa bahagia."


"Kita pernah membuat orang lain iri dengan kebersamaan kita, yang penuh dengan kasih sayang."


"Aku masih mengingat momen-momen itu."


"Dimana aku menggendong mu disaat kita baru jadian."


"Bahagia ku saat itu sangat tiada bahagia yang sangat lebih membahagiakan saat kumenerimamu."


"Kumerelakan lenganku untuk untuk mengangkat tubuhmu sepanjang jalan itu."


"Dengan tingkah itu banyak yang memanggil kita selayaknya pangeran yang sedang mengendong putri raja ataupun putri cinderela."


"Andaikan waktu bisa diputar kembali, aku ingin membuat momen yang lebih indah saat bersamamu."

__ADS_1


"Jika kedua orang tuamu memberikan restu padaku, dan merelakan kebahagian anak dengan pilihannya."


"Pasti kita akan duduk berdua dipelaminan, tersenyum bahagia, menyambut para tamu dan para sahabat yang datang menghadiri acara kita, tapi."


"Ternyata hanya khayalanku saja."


"Selamat menempuh hidup baru, menjadi status baru, status yang merubah hidup menjadi lebih baik dan berpikir lebih dewasa."


"Bahagiamu, senyummu adalah bagian dari hidupku juga dan bahagiaku, jangan perlihatkan kesedihanmu itu padaku nanti."


"Kupastikan besok akan hadir disana, tapi bukan sebagai calon suamimu nanti, hanya sebagai tamu undangan."


"Mungkin aku akan meneteskan airmata disana nanti saat melihatmu sudah bersama dengannya yang telah menjadi suami mu."


"Bahagialah tetap tersenyum, jangan menangis."


"Jangan harapkan lagi kita akan bersama seperti dulu."


"Buanglah semua kenangan kita, hapuslah semua yang ada dipikiranmu tentang kita saat bersama."


"Kudoakan engkau bahagia dengannya."


"Semoga segera diberikan anak yang lucu-lucu untuk kalian nanti."


"Jangan lagi mencari dan menghubungiku lagi, aku takut akan membuat kehancuran dikeluargamu yang baru."

__ADS_1


"Masaklah makanan kesukaannya, dan buatkan makanan dari tanganmu sendiri seperti yang pernah engkau katakan padaku saat itu, yang ingin memberi makan pada keluarganya dengan hasil dari tangan mu."


"Jangan kau benci Ibu atau Mamahmu karena pejodohan ini, tapi tetaplah bersyukur karena mungkin pilihannya itu memang yang terbaik untuk mu, dan masa depan keluarga kalian nanti yang mampu mengabulkan permintamu dan anak-anak kalian nanti."


"Teruslah tersenyum, dan bahagia."


Lalu aku langsung merebahkan tubuhku dikasur.


Dengan perasaan yang begitu berat untuk menerima kenyataan yang ada dan telah terjadi.


"Mungkin ini memang jalanku, dan jalanya."


"Mungkin Tuhan memang memberikan kebahagiaan pada kita dengan memisahkan kita berdua."


"Tuhan takan pernah salah memberikan kebahagiaan pada hambanya walaupun diawali luka dan sakit, karena ini memang hanya ujian untuk kita."


"Aku takan pernah menyesal menganalmu, menyayangimu, dan merindukanmu, walaupun harus berpisah."


"Jalanku masih panjang, dan sangat panjang. Aku yakin bahagiaku juga akan datang pada waktunya, walau tak bersamamu."


"Aku yakin sakitku itu akan digantikan dengan kebahagiaan."


"Lelahku mencintai tanpa restu pasti akan digantikan dengan yang mencintaiku dan restu yang takan menuntut apapun dariku."


"Selamat berpisah dan selamat bahagia."

__ADS_1


__ADS_2