Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Bercanda


__ADS_3

Dipagi ini ku terbangun karena ingin buang air kecil dikamar mandi. Ku berjalan perlahan dengan menggunakan tongkat sebagai bantuan untuk berjalan.


Dan tak lupa aku mengambil air Wudhu, karena beberapa menit lagi akan datang waktu Shalat Subuh.


Aku kembali dan duduk diatas sajadah sambil bershalawat menunggu Adzan.


Kemudian Adzan terdengar dan selesai, aku langsung bersiap untuk shalat sunnah dahulu, baru Shalat Subuh dengan duduk ber selonjoran.


Setelah selesai dengan Shalat nya aku kembali kekasur untuk merebahkan kembali badanku dengan senderan, dan tak lupa membangunkan Papi yang tidur disampingku berada di kasur bawah.


"Pi, Pi bangun sudah Subuh" kata Fariel.


"Ohhh iya" katabl Papi, sambil menggerakkan badannya.


"Apa kamu sudah bangun dan Shalat" kata Papi.


"Sudah Pi, barusan aja" kata Fariel.


"Ya sudah kalau gitu Papi turun dulu mau Shalat" kata Papi, lalu berdiri dan berjalan keluar


"Assalamu'alaikum".


"Waalaikumsalam" kata Fariel.


Dan setelah Papi pergi aku lalu menelpon Canis supaya bangun.



Beberapa kali aku telpon tanpa ada jawaban.


"Apa mungkin belom bangun ya jam segini" kata Fariel.


Lalu aku membuka album foto, kulihat beberapa foto lamaku yang masih suka mengikuti gaya orang lain dengan mewarnai rambutnya yang membuat orang rumah marah-marah karena rambutnya jadi berganti warna dari hitam ke kuning seperti rambut jagung.



"Gara-gara ini aku harus disuruh tidur diluar dan harus dibotakin rambutku" sambil tersenyum mengingat kenangan tentang foto ini.



Dan aku kembali tersenyum mengingat perkataan Bapak ku dan Mamakku.


"Rambut bagus-bagus di warnain" kata Mama.


"Mau jadi preman apa" kata Bapak.


"Kalau besok belom dipotong rambutnya, tidurnya diluar, Bapak sama Mama gak suka lihat rambutmu macam rambut jagung".


"Mau jadi orang landa" kata Mama.


"Orang landa idungnya mancung, lah ini mancung pung kagak" kata Bapak.


"Pokoknya besok harus dipotong".


Tiba-tiba ada yang masuk.


"Assalamu'alaikum" kata Ervi.


"Waalaikumsalam" kata Fariel.


"Lagi ngapain sih Mas, kayaknya happy bener pagi ini, nih minumnya" kata Ervi, sambil memberikan minuman jahe hangat.


Lalu aku meminumnya sedikit.


"Cuman lagi mengingat-ingat masa-masa saat masih suka nakal aja" kata Fariel, lalu memberikan gelasnya lagi.


"Ohh gitu, tapi kok sambil mainan HP" kata Ervi. sambil meletakan minumnya.


"Iya, karena mengingatnya lewat beberapa foto-foto lamaku" kata Fariel.


"Boleh aku lihat" kata Ervi.


"Boleh, tapi nanti jangan heran ya, apalagi ketawa" kata Fariel.


"Iya tenang aja Mas" kata Ervi.

__ADS_1


.


"Nih" kata Fariel, sambil memberikan HP ku.


Ervi langsung menerimanya dan menelusuri galery foto-fotoku.


Ervi ketawa melihat fotoku.


"ini foto kapan mas, kok kaya rangga" kata Ervi. sambil menunjukkan foto padaku.



"Maksudnya Rangga, Ranggadeg ya" kata Fariel.


"Bukan aku loh yang ngomong Mas" kata Ervi, dengan tersenyum.


Lalu kembali melihat-lihat fotoku.


"Ini pasti ngikutin idolanya ya, si Ariel Noah, iya kan" kata Ervi, sambil menunjukkan foto lagi.



"Gak juga, sebenarnya itu hanya habis olahraga, kalau gaya rambutnya mungkin karena panjang" kata Fariel.


"Tapi aku suka, keren" kata Ervi, lalu lanjut lagi menjelajah galeri fotoku.


"Rambut Mas pernah panjang ya" sambil tertawa.


"Iya, kenapa tertawa kek gitu, lucu ya" kata Fariel.


"Lucu banget, mana kaya vokalis kangen band lagi, hihihi" kata Ervi.


"AdeK Mas kalau ketawa rupanya bikin gemes aja, hemmmm pengen ku cubit aja tuh pipi" kata Fariel.


"Jangan di cubit, masa muka cantik putih mulus gini mau dicubit" kata Ervie.



"Ih, ade mas rupanya pd bener" kata Fariel.


"Ini foto Mas waktu kecil".


"Mana" kata Fariel.


"Nih" kata Ervi.



"Ohh itu iya, foto masa kecil ku, kenapa beda ya" kata Fariel.


"Bulet kaya bola, matanya juga besar, tapi kok sekarang beda ya gak bulet kaya kecilnya dulu" kata Ervi.


"Emang kalau sekarang aku tetap bulet, Adek mau manggil ku Mas, kayaknya bakal manggilnya pasti bulet atau drum" kata Fariel.


"Hehehehehe, tau aja nih Masku ini" (Ervi)


"Nih HPnya, aku mau ambil makan dulu, kayaknya sudah mateng bubur ayamnya, tadi kusuruh Bibi untuk lanjutin masaknya" lanjutnya.


"Ih Adek Mas teganya, masa masak ditinggal, malah nyuruh orang lain tuk lanjutin masak, malah asik ngobrol disini, tau gitu tadi Mas cuekin" kata Fariel.


"Ih jangan dong, masa Mas mau nyuekin ade sih, kan Mas itu harus bisa jagain Adek, nyayangin Adek" kata Ervi.


"Iya Adekku yang bawel, kenapa Adekku ini jadi bawel ya sekarang" kata Fariel.


"Iih, aku gak bawel tau" kata Ervi.


"Iya Adekku gak bawel, tapi banyak ngomel" kata Fariel.


"Ihh , dah ah aku mau mandi juga" kata Ervi.


"Iya sana husss, husss, keluar sana husss" kata Fariel.


"Emang aku ayam apa" kata Ervi.


"Aku gak bilang situ Ayam, tapi Bebek" kata Fariel, lalu tertawa.

__ADS_1


"Iih jahatnya, nyebelin" kata Ervi.


"Dah sana mandi, dah ditungguin tuh sama Mami buat mandi, airnya sudah mendidih" kata Fariel.


"Emang aku anak kecil apa" kata Ervi.


"Gak juga, hanya bayi besar yang harus dimandikan oleh Maminya" Fariel.


"Iihh dasar nyebelin banget" (Ervi, sambil memukul kepalaku dengan bantal.


"Duh duhh" kata Fariel, pura-pura sakit.


"Mana yang sakit Mas" kata Ervi, dengan paniknya.


"Ini, tapi" kata Fariel.


"Tapi apa Mas" kata Ervi.


"Tapi boong" kata Fariel, lalu ketawa.


"Ihh dasar" kata Ervi, lalu melempar bantal.


"Auuu" kata Fariel.


"Gak usah becanda dong Mas" kata Ervi.


"Dah sana kamu mandi aja, tutup pintunya, aku mau ganti" kata Fariel.


"Iya, tapi Mas gak papa kan, itu sakitnya beneran ya, maafin aku ya Mas" kata Ervi, dengan nada sedihnya.


"Udah gak papa, sana, Assalamu'alaikum" kata Fariel.


"Loh kok malah situ yang salam" kata Ervi.


"Kamunya lama sih, udah sana" kata Fariel.


"Iya Mamasku saa, paling baik, Assalamu'alaikum" kata Ervi, yang hampir menyebut sayang.


"Waalaikumsalam" kata Fariel.


Lalu ervi keluar dari kamarku dengan.


"Hampir saja keceplosan, mulut-mulut" kata Ervi.


"Hayo keceplosan apa hayo, kenapa tuh mulut dipukul-pukul, kenapa" kata Fida.


"Ehhh Kakak, gak papa kok Kak" kata Ervi, dengan senyum menunjukan sederetan gigi putihnya.


"Alah gak usah bohong sama Kakak, Kakak udah tau semuanya, tanpa kamu kasih tau" kata Fida.


"Tau apa aja Kak" kata Ervi.


"Banyak pokoknya tentang kamu, kamu kan suka sama dia, iya kan, ngaku aja, semua juga sudah tau kok" kata Fida,


"Kakak tau dari mana" kata Ervi.


"Tadi malam saat kamu nangis dikamar, dan Mami bilang calon mantu tersayang, dan dari cerita Mami juga barusan, hehehehe" kata Fida.


"Ih dasar, Kakak awas aja kalau bocor" kata Fida.


"Enggak asal ada tutup mulutnya" kata Fida.


"Iih, Kakak kan sudah punya suami, minta aja sama suami Kakak sana" kata Ervi.


"Gak ah, Adek Kakak kan habis bahagia karena bisa ngobrol berduaan lama banget, sampai ketawa lagi hahahihi dari tadi" kata Fida.


"Berarti dari tadi Kakak nguping juga" kata Ervi.


"Iya dikit, Mami Papi juga tadi, sebelum mereka ke meja makan" kata Fida.


"Iiihhh" kata Ervi, sambil mentup mukanya.


"Gak usah ditutupin mukanya, tadi keceplosan mau bilang apaa hayoooo jujur ya sayang" kata Fida, lalu pergi dengan melambaikan tangannya menuju kebawah.


"Da sayang, emmmm sayang" godanya lagi dan menghilang dari pandangan Ervi.

__ADS_1


"Iiih nyebelin, dasar Kakak nyebelin, Mami juga kenapa harus cerita sama Kakak segala sih, ihh kan nyebelin" kata Ervi, dengan cemberut dan bi*** bawah yang hampir terjatuh, lalu jalan menuju kamarnya sendiri.


__ADS_2