Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Luka


__ADS_3

Setelah dari rumah Tia aku langsung pulang menuju rumah dengan perasaan yang sangat luka dihati karena tak dapat restu dari Ibunya dan lebih sakit ketika mendengar kalau Tia sudah dijodohkan dengan yang lain, bahkan akan dilangsungkan bulan depan acaranya.


Diperjalanan aku beberapa kali hampir terjatuh atau menabrak orang menyebrang.


"Woy kalau naik motor yang benar dong, lo pikir jalan nenek lo apa" ucap pengguna lain sambil berteriak.


Sedangkan aku hanya melihat ke belakang sebentar lalu tancap gas lagi dengan kecepatan penuh.


"Gila tuh orang, mau bunuh orang."


"Kalau mau mati jangan bawa-bawa orang lain woy" teriaknya.


Ditengah perjalanan ku hentikan motor ku dipinggir jalan ditempat yang lumayan sepi, kusetandarkan motorku lalu kuletakkan kepalaku diatas tangki motor dengan kening yang menempel pada tangki, tapi mesin motor masih menyala.


"Tuhan aku gak sanggup, kenapa baru pertama kau buatku luka" yang mendongak keatas lalu melepaskan helm di kepalaku.


"Aaaaaaaaaaaaa" dengan membanting helm yang masih duduk diatas motor.


"Apa seperti ini rasanya luka hati, ketika ditinggal pergi" dengan kedua tangan dimuka lalu kembali meletakkan kepala diatas tangki motor.


"Aku gak sanggup."


"Aku gak kuat."


"Ini terlalu sakit."


"Sangat menyakitkan" dengan air mata yang yang menetes deras jatuh ke tangki.

__ADS_1


"Aku gak sanggup."


"Kenapa kau buatku sayang sampai melayang-layang tapi kau membuatku jadi hilang." Dengan menarik rambut di kepalaku.


"Apa yang harus akun lakukan."


"Aku gak mau kehilangannya."


"Ini menyakitkan, sangat menyakitkan" sambil memukul dadaku.


"Kenapa, kenapa kau buatku bahagia lalu kau buatku langsung terluka dengan kecewa."


Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku.


"Kenapa Bang" ucap S.


"Itu mesinnya dimatikan dulu Bang" ucap Q.


"Habis putus ya Bang" kata S.


"Sampai segitunya nangis di pinggir jalan kaya gini."


"Bukan" kata Fariel, sambil mematikan mesin motor.


"Apa abang sakit" kata Q.


"Iya, sakit lebih sakit" sambil meletakkan kepalanya lagi diatas tangki dan menarik rambutnya.

__ADS_1


"Ohhh" kata S.


"Pinggirin dulu motornya Bang, duduk dulu disana, jangan dipinggir kaya gini, bahaya."


"Kalian kalau mau lewat, lewat aja, gak usah peduli sama aku" kata Fariel.


"Maaf ya Bang, bukan maksudku apa-apa" kata Q.


"Inikan jalan umum, kalau nanti nanti ada yang pengguna jalan lain yang tiba-tiba menabrak Abang, kan Abang juga yang kena, karena berhenti sembarangan begini."


"Benar tuh, ini bukan jalan milik lo Bang, ingat ada orang lain juga yang menggunakan jalan ini juga" kata S.


"Kalau sakit pinggirin dulu yang bener, ini masih dijalan, walaupun dah dipinggir tapi masih di garis jalan."


"Iya, makasih" kata Fariel, lalu mengangkat kepalaku dan menghidupkan motorku dan langsung cabut meninggalkan mereka dengan kecepatan penuh.


"Wah gila tu orang, kita omongin baik-baik supaya gak membahayakan nyawanya dan orang lain malah nyelonong pergi kaya gitu, mana kencang bener bawa motornya, bisa-bisa nabrak orang nanti tuh kalau bawanya ugal-ugalan begitu" kata S.


"Hus, kamu kalau ngomong yang bener, Do'akan supaya baik-baik sampai tujuannya, mungkin dia lagi ada banyak masalah atau sakit beneran, gak liat apa mukanya aja sedikit pucat tadi" kata Q.


"Iya sih, tapi bawa motornya itu loh, ngeri tau liatnya" kata S.


Sampai dirumah langsung ku parkir kan motorku dan masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan yang lainnya termasuk Fida.


"Uda dah pulang" kata Fida.


Aku hanya diam sambil berjalan keatas menuju kamarku.

__ADS_1


Sampai dikamar langsung membuka jaket dan baju yang kukenakan dengan melemparkan sembarang arah, hanya menyisakan celana panjang lalu melompat keatas kasur dengan posisi tengkurap berharap semua ini hanya mimpi.


__ADS_2