Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Bisa dibanggakan


__ADS_3

Dia pun berjalan kearahku dan tersenyum sambil menepuk pundakku lalu masuk dengan Istrinya, dan melihat-lihat isi rumah ini yang mungkin sedikit berantakan karena ada beberapa baju kotor yang bergantungan.


"Kamarmu untuk tidur yang mana De" tanya Istrinya.


"Yang belakang Bu bareng sama yang lain yang masih sekampung denganku dan Pak Sal" kata Fariel, ucapku panjang lebar.


"Lumayan rapi, dapurnya juga rapi, kata Bapak kalau pagi kamu yang masak ya De, dan yang belanja sore juga Ade yang belanja kepasar untuk keperluan dapur juga ya" tanya Istrinya lagi.


"Iya Bu, saya hanya membantunya saja" kata Fariel.


"Emang gak malu Ade kan masih muda pergi kepasar untuk belanja keperluan dapur sendirian setiap sore" tanyanya lagi.


"Gak Bu, justru saya akan malu kalau gak bisa membantu orang yang membutuhkan bantuan, karena sudah biasa saya kepasar kalau didesa pun juga sering kepasar seminggu sekali kalau disuruh Orangtua untuk belanja untuk mengisi bahan masakan didapur yang mulai habis" kata Fariel, ucapnya panjang lebar.


Dan Ibu ini mengangguk dan tersenyum kerahku.

__ADS_1


"Ini benar-benar anak muda yang benar-benar bisa dibanggakan, ramah pada semua orang, mau nyapu, bersih-bersih rumah, masak pagi, belanja sore yang seharusnya istirahat sejenak, dan gak pernah lupa sama Sang Pencipta, aku jadi yakin kalau ini anak akan sangat cocok kalau dijadikan mantu kalau dia mau dan dia juga bersedia, apalagi bekerja keras seperti ini" kata Ibu, ucapnya dalam hati.


"Pasti Orangtua mu bangga punya anak seperti kamu" ucapnya.


"Makasih Bu, semua Orangtua pasti bisa bangga dengan anaknya sendiri, asal dididik dengan benar sedari kecil" kata Fariel.


"Kamu benar banget, andai Mami punya anak cowok kaya kamu pasti Mami senang banget" kata Mami.


"Maaf kalau sudah membuat Ibu jadi bersedih, tapi mau cewek atau cowok sama aja Bu yang penting sehat gak bikin orang tua marah-marah karena kesalahannya yang mereka buat. Selalu nurut dengan orang tuanya, juga selalu ada saat orang tua membutuhkan nya, walau hanya sekedar ngobrol" kata Fariel.


"Enggak papa, hanya anak-anak saya cewek semua, jadi gak ada yang bisa bantu Papinya di tempat kerja seperti ini, apalagi sudah semakin tua dan harus kesana-kemari untuk ngecek kerjaan" kata Mami, dengan nada yang sedikit lirih.


Kemudian Pak Sal datang.


"Sudah lama Bu, Bapak mana" kata Sal.

__ADS_1


"Belum, baru sekitar lima belasan menit, Bapak didalem lagi lihat-lihat isi rumahnya" kata Mami.


"Ya udah saya masuk Bu, permisi" kata Sal.


Pak Sal pun masuk kedalam untuk menemuinya, dan setelah beberapa menit mereka keluar dan aku juga sudah selesai dengan menyapunya.


"Ayok berangkat, tasnya taro di mobil aja, biar enak bawa motonya" kata Papi.


"Sini masukan tasnya kedalam" kata Mami, yang menyuruhku untuk memasukkan tasnya kedalam mobil.


aku pun mengikuti sarannya untuk meletakkan tasnya dimobil miliknya.


"Ayok berangkat" kata Mami, setelah melihatku meletakkan tasnya.


Aku hanya menganggukan kepalanya, karena mereka juga sudah masuk kedalam mobil jadi gak mungkin bisa dengar suaraku, sedangkan Pak Sal sudah duluan karena harus mampir ke toko material untuk membeli beberapa kebutuhan untuk bekerja nantinya disana.

__ADS_1


Ku pakai helmku dan mengikuti mobil didepannya yang berjalan pelan yang mungkin biar tidak terjadi apa-apa dengan ku dijalan atau ketinggalan dan malah sarah arah nantinya karena belom tau lokasi kerjanya.


Percakapan didalam mobil Papi dan Mami.


__ADS_2