Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Tangisnya pecah


__ADS_3

Makan pun selesai, tapi ada rasa canggung diantara mereka, hanya beberapa kata yang keluar saja.


"Lagi" kata Ervi.


"Gak usah" kata Fariel.


"Nih minum" kata Ervi, sambil memberikan minumannya.


Akupun langsung meminumnya.


"Nih obatnya" kata Ervi, sambil memberikan beberapa obat padaku.


Dan aku pun langsung menerimanya, lalu ku masukkan obatnya kedalam mulut, lalu Ervi kembali mecoba memberikan minumnya lagi padaku.


"Mami kenapa lama banget sih, ngambil apaan coba dan dimana, aku kan bingung" kata Ervi, ucapnya dalam hati, sambil meletakkan minumnya kembali.


"Makasih" kata Fariel


"Hah, iya" kata Ervi.


Kami pun diem tanpa ada sepatah katapun yang terucap dari mulut kami yang cukup lama.


Setelah cukup lama saling berdiaman, Ervi pun akhirnya mengeluarkan suara.


"Ma maaf atas semua kesalahanku" (Ervi) sambil menundukkan kepalanya.


"Iya" kata Fariel.


"Apa sangat sakit" kata Ervi.

__ADS_1


"Iya" kata Fariel.


"Apa yang itu juga sakit" kata Ervi, tunjuk nya pada bagian bi*** bawah yang luka.


Aku hanya menggeleng.


"Aku beneran minta maaf. Tadi itu aku hanya reflek dan takut aja, karena tiba-tiba ada orang yang gak pakai baju tepat di hadapan ku. Jadi aku mau minta maaf atas semuanya. Dan aku juga bersedia untuk melakukan apa saja asalkan kamu mau memaafkan aku, Mas" kata Ervi.


"Gak perlu" kata Fariel.


"Tapi aku sangat bersalah karena telah membuatmu sampai seperti ini, dan aku juga telah berjanji akan selalu menjagamu Mas, sampai Mas benar-benar sembuh karena Papi dan Mami menyurukhu untuk bertanggung jawab kan semua yang aku perbuat, apapun itu resikonya nanti padaku, aku akan tetap menepati janjiku untuk menjagamu Mas, jadi terimalah ini semua sebagai bagian dari permintaan maafku" kata Ervie, yang masih menunduk dan juga menitihkan airmatanya.


"Terserah mu lah" kata Fariel.


"Mas maaf" kata Ervi, sambil menangis dengan sedikit keras dan memohon padaku sambil memegangi tanganku.


"Aku beneran minta maaf, aku memang salah karena masuk kamar tanpa permisi" kata Ervi, yang masih menangis.


"Gak usah nangis gitu, aku gak mau lihat cewek nangis sampai begitu" kata Fariel.


"Tapi maafkan aku ya Mas" kata Ervi, sambil menangis sesegukkan.


"Hemmm" kata Fariel.


Lalu nangis malah kenceng dan bergetar.


"Kenapa malah makin kenceng nangisnya".


"Aku mau tidur, ngantuk, kalau mau nangis diluar aja sana" kata Fariel.

__ADS_1


"Aku gak akan meninggalkan Mas disini sendirian, aku akan selalu disini jagain Mas" kata Ervi, yang mencoba untuk diam dalam tangisnya.


Lalu aku merebahkan badanku dan menarik selimutnya dengan susah payah dan tanpa sengaja Ervi yang ingin membantuku menyelimutiku malah menyentuh bagian pahaku yang sakit.


"Auuu" kata Fariel.


"Maaf, gak sengaja" kata Ervi.


Aku hanya diam, karena menahan sakit karena tersenggol. Lalu mencoba untuk tidur karena efek obat yang kuminum, dan akhirnya akupun tertidur.


Ervi masih setia menemaniku disampingku sambil duduk dikorsi samping kasur. Sedangkan Mami dan Papi yang lagi nguping malah kembali turun kebawah setelah mengintip sebentar melihat kami sudah diam.


Sore pun datang, aku terbangun dan sedikit ada rasa pusing dikepalaku, lalu kulihat kesamping dan ternyata ada Ervida yang beneran menepati janjinya untuk menjagaku.


"Kenapa dia tidur seperti ini, pasti cape jagain aku, dan apa lagi tadi juga nangis sampai sesegukkan begitu" kata Fariel.


"Maafkan aku, Aku sudah memaafkan mu. Mungkin karena aku juga yang salah ketika keluar tanpa baju, yang hanya mengenakan celana, dan handuk dipinggangku. Apa lagi ini juga rumah orang tuamu, dan ini kamar Almarhum dari Adik kamu, maaf kan aku juga" ucapku pelan.


Lalu aku mencoba berdiri dan jalan menuju kamar mandi walaupun sambil menahan rasa sakit karena dibawa bergerak.


Dan aku keluar dari kamar mandi dengan begitu pelan, lalu duduk disajadah untuk melaksanakan Shalat sambil duduk.


Kemudian aku berdiri dan melihat muka sembab Ervi yang telah menangis mungkin sampai aku tertidur lelap, dia masih menangis walau tanpa suara.


Dengan perlahan aku membaringkan tubuh Ervi untuk tidur di kasur supaya tidak mengalami sakit badan karena tidurnya yang kurang baik, walaupun sambil menahan rasa sakitku.


Jemudian setelah mbaringkan Ervi dan menyelimutinya aku kembali berjalan kekamar mandi untuk kembali Wudhu.


Setelah Wudhu aku kembali duduk untuk membaca Al-Quran untuk menenangkan pikiran.

__ADS_1


__ADS_2