
"Aku gak bisa" kata Fariel.
"Aku tak sanggup."
"Itu tak mudah bagiku."
"Ini sangat sulit bagiku melakukan semuanya keduanya."
"Kenapa harus kulakukan semuanya."
"Kenapa harus mengabulkan permintaan itu, harus memilih keduanya."
"Lihat Ervi yang meminta mengabulkan permintaan itu, jangan buat dia kembali kedunianya yang dulu yang gak benar" kata Mami.
"Lihat Aya yang ada dalam pelukanmu yang menginginkan kamu juga."
"Mereka butuh kamu, butuh kamu selalu disampingnya."
"Apa yang akan kamu katakan nanti jika Aya kamu tinggalkan dan Aya taunya kamu itu Ayah sesungguhnya yang meninggalkan demi tantenya sendiri" kata Papi.
"Pasti akan sangat marah dan merasa kecewa."
"Lkukan permintaan Mami dan Papi ini."
"Bahagia kan mereka."
"Itu berat" kata Fariel.
"Aku yakin tak akan bisa."
"Keadilan itu harus ada jika aku memilih keduanya."
"Aku akan berdosa jika tak bisa melakukan keadilan itu."
"Aku yakin mereka bisa menerimanya" kata Papi.
"Mereka pasti mau berbagi" kata Mami.
"Mereka pasti siap untuk berbagi kamu nanti."
"Meraka pasti ikhlas dan yakin akan ikhlas jika itu terjadi."
__ADS_1
"Lakukanlah."
"Acaranya akan kami segerakan bulan depan" kata Papi.
"Kami dah sepakat dan kedua orang tuamu dah sepakat juga untuk bulan depan."
"Jadi mulai besok kamu akan pulang ke desa, dan gak ada lagi kontekan dan beratap muka sampai tiba waktunya."
"Gimana Ervi dan Fida" kata Mami.
"Kalian setuju kan dengan Mami dan Papi."
"Aku gak mau kehilangan Mas sampai kapanpun" kata Ervi.
"Hanya Mas yang aku mau dan yang selalu aku harapkan dalam hidupku."
"Mas lah yang selalu jadi penyemangat hari-hariku selama ini."
"Aku gak mau Mas meninggalkan adek lagi, cukup yang dulu saja saat mas masih bersamanya."
"Sekarang adek gak akan sanggup jika melupakan Mas dengan kenangan yang adek punya."
"Hanya Mas yang ada dalam hatiku."
"Aku sayang sama Mas."
"Kamu dengar kan nak, apa yang dikatakan Ervi barusan" kata Mami.
"Gimana denganmu Fida, apa siap" kata Papi.
"Katakan yang sejujurnya apa yang ada dalam hatimu."
"Mami yakin kamu juga memiliki hal yang sama dengan adek" kata Mami.
"Perasaan seorang Ibu gak bakal berbeda dengan yang anaknya rasakan."
"Katakanlah apa yang ingin kamu katakan."
"Katakan sejujurnya, kamu yakin bisa mengatakan kejujuran itu."
"Maaf Da jika Nyai salah mengatakan hal yang jujur" kata Fida.
__ADS_1
"Mami benar dengan semuanya, dengan isi hatiku."
"Nyai selalu memikirkan hal itu."
"Nyai bahkan gak sanggup mengatakan ini, Nyai takut akan melukai hati adek."
"Nyai takut jika nyai dikatakan merebut Masnya dari tangannya."
"Tapi hatiku selalu tersenyum bahagia bersamamu."
"Bahkan Nyai berharap kamu akan menjadi milikku."
"Kamulah yang buat hidupku kembali lagi menjadi semangat lagi setelah ditinggalkan oleh Almarhum."
"Kamulah yang buat hari-hariku menjadi lupa dengan kesedihan."
"Selalu memberikan kebahagiaan dan membuatku selalu tertawa."
"Jujur dari hati kalau nyai sayang sama kamu Da"
"Nyai ikhlas jika kamu memilih adek, jika itu memang berat melakukannya."
"Bahagia kan adek, biar Nyai saja yang melihat kalian tersenyum dalam hati yang iri."
"Gak boleh seperti itu" kata Papi.
"Papi minta harus keduanya, bukan satu diantara kalian."
"Iya harus pilih keduanya bukan satu" kat Mami.
"Kami butuh jawaban iya darimu sekarang."
"Mami ingin anak-anak Mami bahagia."
"Aku yakin pasti akan bahagia bersamamu nak."
"Kalian siap kam jika kalian akan dipilih keduanya dan artinya kalian harus berbagai suami kalian nanti" kata Papi.
"Dan kalian juga bakal siap menerima perlakuan dari suami kalian jika itu tak merasa adil pada kalian, dan kalian akan ikhlas menerima itu."
"Adek iklhas dan siap, asal jangan tinggalkan adek" kata Ervi.
__ADS_1
"Adek gak akan sanggup jika ditinggalkan."
"Adek siap."