Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Saingannya ponakan sendiri


__ADS_3

Sampai di tempat meja makan.


"Duh cucu Mami kok ceria bener pagi ini" kata Fariel.


"Iya nih cucu Papi ketawa mulu dari tadi" kata Papi.


"Senangnya digandeng sama Mama dan Ayah."


"Duh yang dah bisa ketawa lagi sekarang" kata Ervi.


"Iya dong kan ada Ayah dan Mama sekarang yang gandeng Aya" kata Fida.


"Dah sekarang duduk, Ayah mau makan" kata Mami.


"Yuk aya sama Mami sini, dipangku Mami sini."


"Ga au" kata Aya.


"Au ma Ayah."


"Iya deh yang sekarang ada Ayah disini, gak mau lepas sekarang, gak mau jauh dari Ayah" kata Ervi.


"Ayahmu kan punya Tante."


"Aya gak boleh merebut milik Tante ya."


"Gak gitu, Ayah hanya punya Aya" kata Papi.


"Ayah hanya milik Aya sekarang."


"Tante gak boleh ambil Ayah dari Aya."


"Duh ponakan Tante manja bener" kata Ervi.


"Sini pangku Tante sini, masa sama Ayah terus, nanti Aya gak tante kasih mainan lagi, gak bakal Tante ajak main lagi."


"Mau sama Tante itu" kata Fariel.


Aya hanya menggelengkan kepala nya sebagai jawaban kalau gak mau.


"Duh yang dah sama Ayahnya gak mau sama yang lain" kata Papi.


"Ya dah sekarang makan yuk, dah siang ini, keburu nanti dingin" kata Mami.


"Ayok Mi" kata Fariel.


"Uda mau makan apa biar nyai ambilkan" kata Fida.


"Apa aja, yang mana aja boleh" kata Fariel.

__ADS_1


"Ini gak keasinan kan Dek."


"Jangan kaya kemarin ya keasinan."


"katanya kalau keasinan itu dah kebelet nikah"


"Gak dong, dah dicicipi kok" kata Ervi.


"Ya dah ayok nikah, biar masakan adek gak sering keasinan lagi kalau dah nikah."


"Eh enak aja" kata Fariel.


"Pikirin kuliahnya baru mikirin nikah."


"Ingat masih ada dua tahun lagi kuliahmu baru selesai."


"Mana ada, tahun depan dah lulus ya" kata Ervi.


"Berarti dua tahun dong, tahun ini dan tahun depan" kata Fariel.


"Terserah mas aja" kata Ervi.


"Duh yang dah kebelet nikah" kata Fida.


"Iyalah, biar gak keburu diambil Aya" kata Ervi.


"Kalau keburu duluan sama Aya kan jadi susah, saingannya keponakan sendiri."


"Kakak bulan depan" kata Fida.


"Emang udah ada calonnya" kata Ervi.


"Ada dong" kata Fida.


"Mana, kok gak pernah dibawa dan dikenalin kekita" kata Ervi.


"Lah ini yang lagi mangku anak kakak" kata Fida.


"Itu calonnya kakak, calon Ayah buat Aya."


"Iih jangan sampai ya kakak ngambil mas dariku" kata Ervi.


"Cari yang lain jangan punyaku dong."


"Kan sekarang belum ada yang memiliki, jadi masih bisa dong buat kakak" kata Fida.


"Ya kan anak Mama."


Aya hanya tepuk tangan.

__ADS_1


"Gak ada yang boleh ngambil mas dari ku" kata Ervi.


"Mas hanya untuk adek selamanya."


"Aku kan hanya punya aya, bukan punya nyai dan adek" kata Fariel.


"Yakan anak Ayah yang cantik."


"hahahahahaha" kata Papi dan Mami


"Kalah sama Aya, bakal jadi saingan terberat kalian berdua tuh" kata Mami.


"Gak lah, Aya kan masih kecil" kata Ervi.


"Mana mungkin mas bakal nunggu Aya sampai dewasa."


"Ya mana tau kan, kalau Aya gak mau ditinggal sama Ayahnya, dan gak boleh Ayahnya dimiliki sama yang lain" kata Papi.


"Dah dong jangan debat lagi" kata Mami.


"Sekarang lebih baik makan dulu."


"Masalah sama yang mana itu urusan dan pilihannya."


"Karena jodoh dah ditentukan dengan siapa itu jodohnya."


"Kalau jodohnya dua juga sudah ditentukan kalau jodohnya dua."


"Sekarang lebih baik makan."


"Iya ayok Mi, kita makan" kata Fariel.


"Daripada pusing dengarin mereka, lebih baik makan."


"Ayok pi kita makan."


"Aya juga mau makan."


"Biar Ayah yang suapin ya."


"Apa dah boleh makan ini."


"Boleh, tapi kalau yang lain jangan, nanti gak bisa ngunyah, nasinya aja" kata Mami.


"Oh iya" kata Fariel.


"Bismillah nih aa'em" yang menyuapi Aya nasi.


"Yuk mari makan" kata Papi.

__ADS_1


"Ayok" kata Fida, Ervi dan Mami.


Langsung kupimpin do'a, dan kami pun makan, sesekali menyuapi Aya nasi juga.


__ADS_2