Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Kaya anak kecil


__ADS_3

"Enggak mau" kata Fida.


"Aku lagi enggak hamil Mi."


"Hanya lagi pengen aja meluk Sami seharian ini."


"Dah ah males makan sama minum."


"Enggak boleh gitu dong" kata Fariel.


"Masa hanya karena itu langsung ngambek sih."


"Walaupun enggak lagi hamil tapi harus tetap makan dan isi perutnya, kasian cacingnya kelaparan."


"Kalau lapar juga enggak enak meluk Saminya karena terganggu sama perut yang kosong."


"Nanti habis makan boleh meluk Sami lagi"


"Makan dulu ya."


"Sami suapin nih."


Langsung melepaskan ikatan jaritnya dan Fida langsung merubah posisi duduknya dipangkuanku lalu langsung kusuapin minumnya dan makan rotinya.


"Buka mulutnya, minum dulu sedikit" kata Fariel, langsung meminumkannya.


"Duh bayiku, lagi manja ya, iya lagi manja hati ini, lagi pengen dekat sama Ayah iya."


"Iya" kata Fida.


"Lagi pengen seharian full sama Ayah, karena udah bikin aku capek hari ini."


"Buka mulutnya ak aaaem" kata Fariel, yang menyuapi roti.


"Lagi lagi buka mulutnya."


"Bem bem bem tinnnn."


"Kok kaya anak kecil sih, pake kaya mobil segala" kata Fida.


"Hehehe, kunyah aja, nanti muncrat rotinya kalau makan sambil ngomong" kata Fariel.


"Lagi buka mulutnya."


"Udah" kata Fida.


"Loh kok udah, baru dikit loh" kata Fariel.


"Enggak mau" kata Fida.


"Ya udah minum lagi ini susu jahennya" kata Fariel, langsung meminumkannya lagi.


"Dah, sekarang mau peluk lagi" kata Fida.


"Mau tidur."

__ADS_1


"Ya dah tidur lagi aja, Sami kerjakan ini bentar lagi selesai, tinggal dikit" kata Fariel.


"Pasang lagi jaritnya" kata Fida.


"Iya, nih ku pasang ya" kata Fariel, yang langsung mengikatnya lagi.


"Dah tidur lagi yang nyenyak."


"Nyanyikan dulu, katanya mau nyanyiin lagu yang romantis" kata Fida.


"Mana janjinya "


"Iya, kunyanyikan" kata Fariel.


"Lagu Indonesia aja ya."


"Apa mau Arab, atau Shalawat "


"Indonesia aja, yang romantis" kata Fida.


"Iya, sambil ngecek ini sambil nyanyi" kata Fariel.


"Kamu tidur aja ya sambil dengarin."


Hanya anggukan kepala saja darinya.


Sambil mengecek berkas sambil menyanyikan lagu yang bisa kunyanyikan untuknya, walaupun bukan lagu romantis.


Mungkin aku bukan pujangga.


Ku tak s'lalu.


Kirimkan bunga.


Untuk ungkapkan hatiku.


Mungkin aku.


Takkan pernah.


Memberi intan permata.


Mungkin aku.


Tak selalu.


Ada didekatmu.


Ku ingin kau tahu.


Isi dihatiku.


Ku tak akan lelah jaga hati ini.


Hingga dunia tak bermentari.

__ADS_1


Satu yang kupinta.


Yakini dirimu hati ini milikmu.


Semua yang kulakukan untukmu.


Lebih dari sebuah.


Kata cinta untukmu.


Ini diriku.


Aku mungkin bukan pujangga.


Aku mungkin tak selalu ada.


Ini diriku apa adanya.


Satu yang ku pinta.


Yakini dirimu.


Hati ini milikmu.


Semua yang kulakukan untukmu.


Lebih dari sebuah kata cinta untukmu.


Satu yang kupinta yakini dirimu.


Hati ini milikmu.


Satu yang ku pinta.


Yakini dirimu.


Hati ini milikmu.


Semua yang kulakukan untukmu.


Lebih dari sebuah.


Kata cinta untukm.


Ini diriku.


Dan hingga lagunya selesai dan ternyata juga membuatnya nyaman memelukku dalam gendongan dan tidur dengan pulas.


"Alhamdulillah selesai juga" kata Fariel.


"Maafin Sami kalau buatmu jadi seperti ini."


"Maafin ya, kalau kamu jadi sakit dan kurang dapat perhatian dari Sami selama ini, maafin Sami"


"Sami janji akan berlaku adil pada kalian semuanya."

__ADS_1


"I love you" lalu mencium keningnya yang tak mengenakan jilbabnya kali ini, yang biasanya enggak pernah lepas ketika keluar kamar, tapi kali ini lepas jilbab dan juga mengenakan kaos lengan pendek.


__ADS_2