Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Kesiapan Ervi


__ADS_3

Saat hanya berdua dikamar dengan Ervi.


"Mi aku dah siap jika Sami akan melakukannya malam ini, dan akun dah siap jika aku akan hamil memiliki anak buatmu Mi" kata Ervi.


"Pikirkan secara matang dulu" kata Fariel.


"Kamu masih kuliah, masih harus kesana-kemari buat ngejar tugasmu."


"Nanti kamu lelah dan capek kalau kamu hamil."


"Aku enggak mau kamu itu kelelahan dan malah sakit karena sedang mengandung."


"Tapi aku dah beneran siap, dan ikhlas untuk menjalani peran sebagai ibu buat anak-anak Sami" kata Ervi.


"Aku dah memikirkan dengan mateng."


"Yang lain juga ada kok Mi yang kuliah sedang dengan posisi mengandung."


"Jadi karena melihat saja tapi belum tau seperti apa kan" kata Fariel.


"Lebih baik sekarang kita tidur aja ya."


"Gak mau" kata Ervi.


"Aku dah yakin dan matang memikirkan ini."


"Aku enggak mau menunda-nunda kehamilan ini"


"Jika memang Tuhan mengizinkan aku memiliki anak darimu pasti akan ada bayi dalam rahimku."


"Aku dah ssangat yakin dan siap Mi."


"Tapi kalau Sami masih belum yakin gimana" kata Fariel.


"Sami harus yakin sama aku" kata Ervi.


"Kan Sami bilang harus saling yakin dan percaya dengan pasangannya."


"Jadi sekarang Sami harus yakin sama aku."

__ADS_1


"Kalau menunda terus nanti malah aku enggak bisa ngasih anak buat Sami gimana, kan aku yang merasa sedih karena engggak mampu memberikan keturunan buat Sami."


"Mau Sami memliki keturunan darimu apa bukan itu sama aja" kata Fariel.


"Sami enggak akan meninggalkan kalian"


"Kan sekarang dah memiliki Aya yang juga anakku juga anakmu."


"Selama kita berusaha dan mau berdoa memintanya pada Tuhan pasti akan diberikan, selama kita mampu menjaga titipan dariNya."


"Dipikirkan lagi aja ya dulu."


"Sami takut karena kamu capek, nanti Sami malah merasa bersalah karena harus buat kamu mengandung."


"Ini kemauanku Mi, bukan kemauan Sami sendiri" kata Ervi.


"Dan ini kewajiban ku buat Sami yang harus melayani dengan benar."


"Karena aku itu pakaian Sami, jadi apapun yang Sami lakukan itu hak Sami selama itu benar."


"Jangan larang aku jika ingin melakukan kewajiban sebagai Istrimu Mi."


"Gimana ya" kata Fariel.


"Jangan dipikirkan apa yang belum tentu terjadi" kata Ervi.


"Lagian aku dah mau selesai kuliahnya kok."


"Siapa bilang" kata Fariel.


"Kamu itu harus lanjut lagi sama Mama Aya keperguruan tinggi, agar lebih banyak ilmu tentang Kedokteran."


"Jangan setengah-setengah kuliah."


"Kamu harus nambah dua atau tiga tahun untuk mendapatkan gelar Dokter kandungan."


"Kalau sekarang kamu baru ke tahap bisa dikatakan Bidan."


"Iya tau aku Mi" kata Ervi.

__ADS_1


"Aku janji akan lanjutkan lagi nanti sama Kakak juga, tapi setelah melahirkan."


"Kalau Sami enggak mau ya, enggak bakal lanjut kuliah lagi."


"Untuk apa hidup kalau engggak bisa memberikan Sami anak hanya untuk mengejar cita-cita tanpa bisa membahagiakan Sami."


"Cita-cita enggak bisa bikin hidup kita bahagia"


"Tapi yang bikin bahagian itu adanya anak dikehidupan rumah tangga kita."


"Hemmmm" kata Fariel.


"Yakin dah siap, dah yakin seratus persen nih."


"Enggak nyesal nanti kan kalau Sami melakukannya."


"Enggak akan Mi" kata Ervi.


"Yakin enggak akan menyesal."


"Bakal sakit loh" kata Fariel.


"Sakitnya akan hilang sendiri" kata Ervi.


"Apalagi kalau adanya anak, sakit itu akan hilang dengan kebahagiaan."


"Oke deh kalau gitu" kata Fariel.


"Sekarang kita bangun, ambil Air Wudhu terus Shalat malam dulu biar nanti saat kita melakukan segera dikasih anak yang Shaleh SShalehah."


"Oke Mi" kata Ervi.


"Tapi gendong dulu ya."


"Iya deh iya ayok" kata Fariel.


Langsung ku gendong Ervi kekamar mandi buat Wudhu dan melaksanakan Shalat malam dan setelah itu baru melakukan hal itu.


Untuk cerita barunya lanjutan dari cerita ini sudah dapat dinikmati.

__ADS_1


Kalian sudah bisa membacanya sekarang, dan akan up setiap hari.


Jangan lupa bantu like dan Vote, dan dukung terus ceritanya "Keluargaku Tercinta."


__ADS_2