
"Kenapa harus seperti ini" kata Fariel.
"Kenapa harus aku Bang."
"Aku bingung harus gimana."
"Aku juga punya janji dengan si Ervida."
"Apa yang harus kulakukan untuk memenuhi keinginan terakhir mu."
"Aku takut aku gak bisa melakukannya."
"Aku takut tak bisa membuatnya jadi seperti apa yang abang mau, aku takut."
"Jangan buatku memilih hal yang sulit, yang aku gak bisa memilih."
Lalu kubuka lagi pesan surat yang terakhir yang buat Fida.
...Buat engkau istriku tercinta. ...
...Siti Rofida. ...
Maafkan jika Mas tak membahagiakanmu seperti yang kau inginkan.
Maaf jika aku hanya meninggalkan kenangan dan luka untukmu, istriku tercinta.
Kutitipkan anakku padamu sepenuhnya, jagalah dia, dan sayangilah dia seperti kau menyayangi ku.
Mungkin setelah datangnya surat ini, aku tak lagi bisa menatap wajahmu lagi, dan anak kita nanti.
Akhir-akhir ini aku sering bermimpi aneh yang gak tau itu apa.
Yang pasti aku takut hal yang tak pernah kuinginkan ini bakal terjadi padaku nanti.
Tapi kita gak tau kapan waktu itu akan tiba
kapan waktu itu akan datang menghampiriku.
Jangan bersedih dan menangis setelah nanti aku benaran pergi meninggalkanmu dan anak kita.
__ADS_1
Tapi aku akan rela dan ikhlas jika nanti ada seorang lelaki yang datang melamar mu untuk meneruskan perjuanganku selama ini untuk membahagiakanmu.
Aku ikhlas jika kau menikah dengan orang yang paling dekat denganmu di keluarga kita.
Aku ikhlas jika kau menikah dengan dia yang kini menjadi saudara kita menjadi adek kita yang Papi dan Mami menginginkan dia jadi anaknya.
Aku yakin dia anak yang baik, anak yang bisa membahagiakanmu dan anak kita nanti.
Menikahlah dengannya, dengan Fariel.
Aku yakin dia yang mampu membimbingmu dan anak kita.
Lupakanlah aku, bahagialah dengannya dan anak kita.
Ini bukan permintaan tapi keinginanku setelah aku pergi jauh tak akan kembali lagi.
Aku yakin anak kita pasti bisa bahagia bersamanya.
Aku yakin dia sosok yang tepat untuk menjadi penggantiku, menjadi Ayah buat nya.
Jangan menangis, hapuslah air mata mu, tersenyumlah.
Sambutlah bahagiamu yang baru.
Aku tak bisa selalu ada disampingmu dan anak kita.
Jadi sebelum aku benar-benar tertidur, kau bisa melupakan ku walaupun sulit, tapi aku ikhlas.
Jangan memikirkanku yang sudah tidur dan hanya berselimut kain putih.
Tapi pikirkan anak kita, kebahagiaannya, masa depannya.
Aku yakin kamu bisa, dia juga pasti bisa dan mau menjadi penggantiku.
Aelamat menpuh hidup baru dengan keluarga dan kehidupan yang baru dengannya.
Kuharap kau mengabulkan keinginanku ini yang terakhir.
Aku hanya ingin melihatmu dan anakku selalu bahagia dan ceria yang punya keluarga lengkap, karena aku takut jika anak kita lahir tak ada lagi Ayah disisinya akan merasa menderita karena tak seperti teman-temannya yang punya Ayah, pasti akan jadi bahan ejekan.
__ADS_1
Jadi menikahlah dengannya, bahagiakan anak kita ini, dia butuh Ayah yang beneran sayang padanya juga engkau.
Aku akan selalu tersenyum melihatmu dari sini ketika engka bahagia dan anak kita juga.
Selamat tinggal, selamat berpisah, tetap tersenyum dan bahagia.
...Mas Rendi Ardian. ...
Langsung kututup suratnya lagi setelah membaca isinya.
"Kenapa jadi seperti ini" kata Fariel.
"Kenapa semakin membuatku harus memilih."
"Aku gak bisa memilih."
"Aku takut tak bisa menjalankan peran yang kau mau Bang."
"Aku bukan orang yang baik dan tepat untuk jadi penggantimu."
"Masih banyak orang diluaran sana yang mungkin lebih baik dan bisa membahagiakannya dan menerima."
"Aku gak sanggup."
"Aku takut menyakitinya."
"Aku tak akan bisa membuat dia bahagia."
"Aku juga ada janji yang lain."
"Aku takut gak akan mampu memilihnya dan melupakan janjiku."
"Tolong jangan buatku untuk memilih hal yang sulit ini."
"Aku gak sanggup."
"Aku beneran gak sanggup."
"Kepalaku sakit memikirkan ini."
__ADS_1
"Aku gak kuat."
Karena lelah memikirkan hal ini akupun tertidur.