
Didalam kamar ini hanya berdua.
"Aku mau langsung tidur aja ya, ngantuk banget nih" kata Fariel.
"Enggak papa kan, kalau Sami tidur duluan."
"Enggak papa Mi" kata Fida.
"Tapi kalau nanti Mama sama Mami nanya soal itu gimana."
"Aku harus jawab apa."
"Jawab apa adanya aja" kata Fariel.
"Sini Sami peluk aja sini, biar nyenyak tidurmu, kan jarang bisa tidur berdua sama Sami."
"Kan Sami harus tidur sama Bunda" kata Fida.
"Kan enggak mungkin kalau tidur disini, terus Bunda ditinggal, kan kasian."
"Lagian kalau disini juga selalu ada Aya yang selalu ada."
"Makanya sekarang kita tidur aja yuk, Sami ngantuk nih, beneran" kata Fariel.
"Apa dah enggak sabar nih Mama Aya nih, dah pengen nih."
"Ih, apa-apaan sih" kata Fida.
"Enggak kok, enggak ada."
"Ah masa" kata Fariel.
"Jangan bohong, nanti pas Sami tidur malah situ pikirannya kemana-mana, karena enggak dapat malam ini."
"Bisa-bisa Sami lagi tidur terus di apaya sama kamu nanti."
"Ih apaan sih, enggak ada Mi, beneran" kata Fida.
"Besok aja, sekarang Sami tidur aja."
"Aku mau peluk Sami aja sampai pagi, selagi enggak ada yang gangguin."
"Ya dah sini peluk Sami semaumu, sekuatmu" kata Fariel.
"Aku milikmu malam ini, khususnya untukmu, hanya untukmu."
"Mau diapain pun boleh" kata Fida.
"Boleh" kata Fariel.
"Emang mau apaan."
"Hanya mau lihat aja, sama mau pegang" kata Fida.
"Hah, apaan" kata Fariel.
"Perut Sami, bukan yang lain Mi" kata Fida.
"Kan pengen peluk dada Sami sama mainan perut Sami, masa hanya Aya aja yang boleh."
"Mamanyakan juga pengen."
"Berarti Sami harus buka baju nih" kata Fariel.
"Iya lah, masa enggak dibuka" kata Fida.
"Kalau enggak dibuka, gimana mau peluk dada Sami sama mainan perut sobek Sami."
"Iya deh iya" kata Fariel.
"Bukain dong, biar enak."
"Masa enggak pernah dibukain, dimanjain sama istri, padahal punya dua istri tapi kok jarang dimanjain akunya ya."
"Ya dah sekarang bakal kumanjain Sami" kata Fida.
"Sami hanya tiduran aja."
"Emang mau ngapain" kata Fariel.
"Dipijitin, itu kan yang Sami mau" kata Fida.
"Boleh, tapi pake plus enggak" kata Fariel.
__ADS_1
"Enggak ada" kata Fida.
"Tidur aja, biar kupijitin, Sami sambil merem." Langsung membukakan kaosku, hingga menyisakkan celana pendek.
"Iya kalau bisa merem, tanganmu bikin melayang pikiranku" kata Fariel.
"Sentuhanmu buat Sami jadi panas dingin."
"Maksudnya" kata Fida.
"Pingin makan kamu" kata Fariel.
"Ih, katanya ngantuk, pengen langsung tidur" kata Fida.
"Enggak usah aneh-aneh" sambil memimijit kakiku.
"Pijitanmu memang paling enak pokoknya" kata Fariel.
"Bilang aja kalau dipijit sama yang lain Sami enggak mau, karena katanya badan Sami kaya semen, enggak bisa dipijit" kata Fida.
"Tapi aku jadi inget yang dulu deh Mi."
"Ingat apaan, mijitin Almarhum" kata Fariel.
"Bukan" kata Fida.
"Lah terus apaan" kata Fariel.
"Apa Sami enggak ingat, saat Sami minta dipijitin sam Mbah Mis" kata Fida.
"Kan Sami dikatain sama Mbah, kalau main itu satu-satu, jangan main hantam sekaligus, copot kan pinggangmu."
"Mentang-mentang pengantin baru, istrinya dua, langsung main sikat duanya."
"Sok kuat, taunya bengkok ni pinggang."
"Jangan diinget-inget lagi napa sih, malu tau Sami" kata Fariel.
"Padahal kan itu karena bantuin Papi di proyek, narik besi, malah dikatain yang enggak-enggak."
"Tapi lucu sih lihat ekpresi Mbahnya" kata Fida.
"Apalagi sambil mijit sambil ngomelin Sami mulu."
"Giliran kaya gini langsung kena encok, enggak malu sama badan."
"Udah dong ngatainnya, kumakan nanti kamu Nis" kata Fariel.
"Ayok, kalau berani, asal jangan tumbang nanti minta pijit ke si Mbah lagi" kata Fida.
"Ih nantangin ternyata ya" kata Fariel.
"Kumakan beneran loh" langsung balik badan dan menarik tangan Fida.
"Ampun Mi, ampun" kata Fida.
"Sanis hanya becanda Mi."
"Enggak akan kulepasin pokoknya" kata Fariel.
"Siapa suruh tadi nantangin Sami."
"Geli Mi, jangan digelitikin Mi" kata Fida, sambil tertawa.
"Udah Mi udah, ampun."
"Sanis nyerah Mi, ampun."
"Yakin nyerah" kata Fariel.
"Iya Mi nyerah Mi, ampun" kata Fida.
"Nanti kuteriak nih Mi, kalau Sami enggak berhenti."
"Coba aja kalau berani teriak" kata Fariel.
"Hahahahah, ampun Mi" kata Fida.
"Miiiii" teriak.
"Hap" kata Fariel, yang menutupi mulutnya.
"Ih beneran teriak."
__ADS_1
"Kalau nanti ada yang dengar gimana."
"Siapa suruh gelitikin mulu" kata Fida.
"Aku kan geli loh Mi."
"Kamu dah bikin bangun milik Sami, jadi tanggung jawab" kata Fariel.
"Hah" kata Fida.
"Enggak mau, Sanis mau tidur aja ah."
"Ih teganya, ini gimana ini kalau enggak kamu tanggung jawab ini bakalan sakit loh, bakal begini sampai pagi, Sami enggak bakal bisa tidur" kata Fariel.
"Pakai sabun sana dikamar mandi, mandi rendam" kata Fida.
"Enggak mau, kamu harus tanggung jawab pokoknya" kata Fariel.
"Kalau enggak mau, berarti kamu enggak boleh tidur."
"Bakal Sami gelitikin terus sampai pagi ini" yang menggelitiki Fida.
"Iya Mi ampun Mi" kata Fida.
"Udah Mi geli Mi."
"Kalau gitu tanggung jawab" kata Fariel.
"Iya, tanggung jawab iya" kata Fida.
"Tapi besok aja ya."
"Eh nantangin lagi rupanya" kata Fariel.
"Hahahahaha, iya Mi iya" kata Fida.
"Udah ya, jangan gelitikin lagi, enggak kuat aku Mi."
"Siapa suruh mau ngerjain Sami" kata Fariel.
"Ya udah iya" kata Fida.
Dan terjadilah adegan, Skippppp.
"Dah yuk tidur" kata Fariel.
"Iya Mi, ayok" kata Fida.
"Aku juga dah ngantuk, capek."
"Ini dah malam."
"Sami terlalu lama, enggak tau capek apa akunya."
"Siapa yang tadi nantangin" kata Fariel.
"Siapa yang tumbang."
"Iya aku nyerah Mi, aku engggak kuat" kata Fida.
"Kalau kurang, pakai tangan sendiri aja."
"Aku mau tidur."
"Ya ayok kita tidur, besok pagi lagi lanjutkan lagi" kata Fariel.
"Terserah Sami, aku enggak kuat sekarang, aku mau tidur" kata Fida.
Kucium keningnya.
"Selamat tidur bidadariku, makasih malam ini" kata Fariel.
"Iya Mi, sama-sama" kata Fida.
"Enak enggak tadi" kata Fariel.
"Iya, tapi enggak kuat aku Mi" kata Fida.
"Selamat tidur" kata Fariel.
"Selamat tidur juga suamiku, emmmuach."
Dan kami langsung tidur, dan Fida tidur dengan kepala diatas dadaku sambil memelukku.
__ADS_1