
Di siang hari aku termenung sendirian memikirkan kata-kata yang tepat untuk nanti ketika bertemu, dan memikirkan kata apa yang pernah kuucapkan padanya sehingga dia menuntut janji itu sekarang padaku.
Sambil memegani rambut kepala dan menariknya tapi sakit dikepela ini tak dapat kuhilangkan. hingga terdengar suara motor didepan pun berhenti.
"Assalamu'alaikum" kata Ibnu, sambil membuka pintu.
"Waalaikumsalam" kata Fariel.
"Kok lo mukanya pucet bro" kata Ibnu.
"Gak papa, hanya lagi memikirkan kata yang tepat untuk nanti saat bertemu" kata Fariel, sambil menarik rambut di kepalanya.
"Tapi badanmu panas bro" kata Ibnu, yang memegang kening dan tanganku.
"Gak papa, santai aja" kata Fariel, sambil meletakkan kepalanya di meja.
"Temanku ada yang dokter, aku panggilkan suruh kemari ya buat check kamu ya bro" kata Ibnu.
"Gak usah, aku hanya ingin menyelesaikan permasalahan ini" kata Fariel.
"Oke, tapi kamu harus minum obat dulu, baru kita ketemu dia, biar aku belikan obat ke apotik" kata Ibnu.
"Kubilang gak usah" kata Fariel.
"Tadi ku sudah ketemu dengannya didepan, dan dia juga mau bertemu denganmu siang ini juga, karena dia bilang waktunya hanya siang ini, karena harus kembali lagi keluar negeri untuk kuliah lagi" kata Ibnu.
"Ya udah kalau gitu kita pergi sekarang juga" kata Fariel.
"Dan ada lagi yang ingin kusampaikan padamu" kata Ibnu.
"Bilang aja sekarang, cepetan" kata Fariel.
"Tadii akuuu" kata Ibnu.
"Apaan, yang jelas kalau ngomong" kata Fariel.
"Sebenarnya aku tadi ituuu" kata Ibnu.
"Itu apa" kata Fariel.
Tiba-tiba pintu terbuka dan langsung ada yang masuk dan lari lalu memelukku dari samping.
"Dek" kata Fida, sambil terisak.
__ADS_1
Aku hanya diem mematung
"Dek, jangan tinggalin kakak, kakak kesepian tanpa adek dirumah yang selalu bisa menghiburku" kata Fida.
"Dek."
"Sek, pulang yuk."
"Kak" kata Fariel, dengan nada pelan.
"Adek dah janji sama kakak, bakal selalu ada buat kakak dan juga dedek, tapi kenapa adek pergi begitu saja, disaat kakak sudah mulai nyaman" kata Fida.
"Maaf kak, aku gak bisa nepatin janji itu" kata Fariel.
"Jika adek gak pulang maka kakak juga gak mau pulang, kakak bakal ikut kemana pun adek pergi" kata Fida.
"Maaf kak, tapi itu gak bisa" kata Fariel.
"Lebih baik kakak pulang aja sekarang, jangan buat yang lain khawatir dengan kakak."
"Aku gak akan pulang tanpa kamu" kata Fida.
"Kenapa adek lakuin ini semua sama kita."
"Jangan bilang seperti itu kak" kata Fariel.
"Lebih baik kakak pulang, aku bakal akan tetap ada disini, biarkan aku disini."
"Kakak pulanglah."
"Kakakmu benar nak, kami semua khawatir dengan semua itu" kata Mami, yang langsung masuk dengan Papi.
"Kami sudah tau permasalahan apa yang kamu pendam saat ini" kata Papi.
"Kami semua sudah mendengar cerita tentangmu dari Ibnu barusan."
"Maaf bro, kalau aku memberi tahu semuanya sama mereka, karena aku gak mau melihatmu seperti ini" kata Ibnu.
"Dan mereka juga sudah tau tentang isi pesan itu, karena aku membuka pesan itu dan memotonya saat kamu terlelap dalam tidurmu."
"Maafin aku ya bro."
"Kamu gak salah, kamu sudah bener dengan semua ini" kata Fariel.
__ADS_1
"Tapi izinkan aku untuk tetap berada disini."
"Kalau mas disini, adek juga akan tinggal disini mas" kata Ervi, yang secara tiba-tiba masuk kedalam rumah.
"Kakak gak akan pulang jika adek gak pulang" kata Fida.
"Nak, Mami berharap kami mau ya pulang kerumah, kami semua sangat senang jika kamu ada dirumah" kata Mami.
"Iya nak, Papi juga harap kamu mau balik lagi kerumah, Papi ingin selalu melihat kalian ada dirumah duduk di meja makan untuk makan bersama dan sambil bercerita dan tertawa bersama" kata Papi.
"Kami semua sayang sama kamu nak."
"Tapi aku gak bisa pulang" kata Fariel.
"Aku gak mau kalian terluka hanya karena aku."
"Terimakasih telah menghawatirkan keberadaanku disini, dan maaf aku gak bisa pulang sekarang."
"Mas, jika mas gak pulang ade bakal tinggal disini juga, dan akan berenti kuliah" kata Ervi, sambil menatapku.
"Kakak juga gak akan pulang, dan kakak akan selalu ngikutin adek kemana pun adek melangkah" kata Fida.
"Juka adek masih menolak semua itu lebih baik kakak pergi jauh untuk selamanya dari bumi ini." Yang langsung berdiri dan berjalan kebelakang
"Jawab kakak" kata Fida, yang memegang pisau.
"Kak" kata Ervi.
"Nak, jangan nekat nak" kata Mami.
Aku yang melihatnya langsung menangis dengan keadaan ini yang semakin membuat kepalaku makin terasa pening.
"Nak, tolong letakkan pisaunya" kata Papi.
"Adek pasti mau ngikutin kemauan kakak, jadi letakkan pisaunya ya nak."
"Nak, tolongin Mami" kata Mami, yang memohon sambil memelukku.
"Kak, letakkan pisaunya" kata Fariel, dengan nada lemah.
"Kakak gak bakal letakan pisau ini" kata Fida.
"Baiklah jika itu kemauan kakak" kata Fariel.
__ADS_1
"Aku bakal turutin semua kemauan kalia" yang langsung pingsan.