
"Anak Ayah yang baik, lepasin ya kaki Ayah ya" kata Fariel.
"Ia Ayah" kata Aya.
"Capek nih, duduk boleh ya" kata Fariel.
"Enggak boleh" kata Fida.
"Berdiri dengan satu kaki dan tangan ditelinga."
"Kok gitu" kata Fariel.
"Itu hukuman buatmu" kata Fida.
"Kaya anak kecil aja dihukumnya" kata Fariel.
"Ini kan hukuman buat anak sekolah biasanya."
"Oh mau yang lain dihukumnya" kata Fida.
"Mau suruh nguras kolam renang pake gayung."
"Sekalian aja pakai sendok makan" kata Fariel.
"Itu lebih bagus" kata Fida.
"Wah seru tuh, kalau lihat orang nguras kolam pakai sendok" kata Ervi.
"Ogah" kata Fariel.
"Lebih baik tiduran, ngantuk, capek."
"Eits" kata Fida.
"Berdiri, jangan turun."
"Plis deh" kata Fariel.
"Enggak ada" kata Fida.
"Tadi bilangnya mau nambah istri lima lagi."
"Yakin mau nambah biar hukuman nambah."
"Hemmm jadi mau nambah lagi" kata Ervi.
"Mau kuterjang lagi."
"Enggak ada" kata Fariel.
"Bohong tuh Mama tuh."
"Perasaan tadi bilang mau nambah anak sampai lima lagi bukan istri deh."
"Salah dengar kayaknya "
"Aku enggak budeg ya" kata Fida.
__ADS_1
"Capek, plis yaaaa" kata Fariel, langsung rebahan dipangkuan Ervi sebagai bantal.
"Pijitin Bun, pusing nih."
"Hemmmm" kata Ervi.
"Bilang aja mau ngilangin jejak" kata Fida.
"Enggak ada, beneran" kata Fariel
"Plis, pijitin dong."
"Kalian kalau mijit enak deh."
"Bilang aja minta dipijet, enggak usah pakai muji gitu" kata Ervi.
"Hehehe" kata Fariel.
"Mama bagian kaki, dan Aya bagian tangan."
"Dah lama nih kalian enggak mau mijitin, maunya minta mulu sama Ayah."
"Iya" kata Ervi.
"Sebagai Istri yang nurut sama Suami, kuikuti untuk kali ini" kata Fida.
"Tapi awas aja kalau berani macam-macam."
"Iya" kata Fariel.
"Buruan, capek nih, sama pegal-pegal semua badanku."
"Iya, kalau kekgini susah mijitnya" kata Fida.
"Ambilkan bantal" kata Fariel.
"Hemmm" kata Ervi.
"Nih" kata Fida.
Langsung kubaringkan badanku dengan tengkurap dan mereka langsung memijitku, kecuali Aya yang malah asik main dipunggungku.
"Ayah minta dipijit bukan untuk main kuda-kuda" kata Fariel.
"Pijak aja pakai kaki" kata Ervi.
"Pegangan tangan Bunda sini."
"Ayok berdiri anak Mama yang cantik" kata Fida.
"Kasian nanti Ayah malah makin sakit dan enggak bisa ajak Aya beli es krim lagi kalau Aya begitu."
"Sini pegangan" kata Ervi.
Aya langsung memegang tangan kiri Ervi dan Aya malah asik mijiit dengan kaki sambil tertawa.
"Anak Mama jangan gitu dong" kata Fida.
__ADS_1
"Sini tangan Ayah aja yang dipijit sini" kata Ervi.
"Jajan Aya mana tadi" kata Fida.
"Aya makan jajan aja ya, daripada main begitu, nanti Ayah malah sakit."
"Di na" kata Aya, disana maksudnya, sambil menunjuk kearah sana didepan.
"Kok ditinggal jajannya" kata Fida.
"Au akan angka" kata Aya, mau makan semangka.
"Ya dah sana minta sama Bibi dibelakang, minta semangka, Mama Aya" kata Fida.
"Sana bilang sana."
"Duh pinternya" kata Ervi.
"Anak siapa sih ini."
"Ayah" kata Aya.
"Oh iya, anak Ayah ya" kata Ervi.
"Ya dah sana ambilin buat Bunda satu ya semangkanya."
"Ia" kata AyaAya.
Aya langsung kebelakang dengan berlari setelah turun dari punggungku.
"Jangan lari-lari, nanti jatuh" kata Fida.
"Ih kayaknya tidur beneran deh" kata Ervi.
"Hah" kata Fida.
"Iya, tidur" kata Ervi.
"Kayaknya kecapean beneran deh ini Sami."
"Apa kita terlalu berlebihan ya melakukannya padanya" kata Fida.
"Tapi aku lakukan karena aku enggak ingin kehilangan seseorang lagi dalam hidupku ini."
"Sama" kata Ervi.
"Aku juga terkadang merasa kasian karena terlalu berlebihan meminta sesuatu padanya."
"Apalagi kerjaan dia banyak sekarang."
"Belum ngurus kantor dan kadang harus shoting buat iklan produk dan film atau olahraga."
"Sampai rumah harus ngurusin Aya yang minta ini itu, dan ditambah lagi dengan permintaan kita ini."
"Aku jadi sering merasa kasian kalau lihat dia pas lagi tidur nyenyak, sampai enggak tega buat bangunin karena baru tidur habis pulang bekerja."
"Aku juga sering berfikir seperti itu" kata Fida.
__ADS_1
"Aku sering merasa bersalah padanya, karena terlalu banyak meminta dan banyak bertingkah juga banyak maunya."
"Apa kita salah jika mengambil ATM Sami."