
Langsung kubuka helmku, membuat orang kaget juga dengan bidadari ku yang tak percaya kalau ruapanya caminya sudah di depannya sedari tadi.
"Mukanya biasa aja dong yank" kata Fariel, karena melihat Tia bengong seperti tak percaya.
"Yank, Cami boleh masuk gak nih. Berat nih motornya kalau harus gini terus" kata Fariel.
"I iya Camiku, silahkan" kata Tia.
Langsung ku parkir kan motorku di paling pinggir biar enak keluarnya nanti.
"Yuk katanya mau ngobrol, tapi sambil makan bakso aja ya" kata Fariel.
Tia hanya ngangguk dan langsung mengikuti sambil bermanja dengan tanganku yang minta digandeng, kaya kereta api aja.
"Itu rambut kenapa, sama mukanya kok gitu amat" kata Fariel.
Tia hanya senyum saja sebagai jawabannya, dan aku pun hanya menggelengkan kepala melihatnya seperti ini.
"Yang motor baru, traktirannya dong" kata ndah.
"Iya tuh. Padahal kita kan sering bantuin kalau ada yang lagi ngambek marah-marah gak jelas" kata Nia.
"Siapa yang gak jelas" kata Tia.
Mereka berdua saling tatap mata dan mengangkat kedua bahunya sambil memajukan bi*** bawahnya yang mungkin bisa jatuh.
"Boleh tapi jangan ganggu ya, kasian nanti marah Bidadari ku, oke" kata Fariel.
"Oke bos" jawab keduanya.
__ADS_1
Lalu kuambil Dompetku dan menyerahkan dua lembar uang pada mereka.
"Nih ambil" kata Fariel.
"Mana cukup itu Bambang. Minimal itu dua puluh ribu, atau seratus. Lah ini cuman lima belas, ya kurang dong" kata Nia.
Akhirnya ku tambahin lagi uang limapuluh dan yang tadi bukannya dibalikin malah dimasukin ke kantongnya. Aku hanya geleng kepala melihat teman Tia seperti itu.
"Banyak banget ngasihnya, padahal tadi sudah cukup, kan disini gak mahal makanannya, namanya makanan anak kos" kata Tia.
"Daripada dia gangguin kita yang mau romantisan. Gak papa lah untuk bayar pengawalan biar gak ada yang gangguin kecuali nyamuk" kata Fariel.
"Ihhh Camiku bisa aja, ya udah ayok" kata Tia.
Kami pun berjalan menuju tukang bakso.
"Pak dua ya. Porsi spesial, laper banget nih" kata Tia.
"Baik Dek, tunggu sebentar ya" ucap penjual bakso.
"Uhhh Abang, sama kak Tia, omantis banget makan di pinggir jalan berdua, kita gak di traktir nih" kata Dini.
"Minta aja sana sama Indah dan Nia. Tadi dah dikasi uang tiga lembar limapuluh, kalian cari aja mereka" kata Tia.
Langsung Susi dan Dini pergi dari hadapannya.
"Wah bidadari ku rupanya pandai juga untuk ngusir nyamuk" kata Fariel.
"Harus dong, biar gak ganggu kita berdua" kata Tia, sambil menyunggingkan bibirnya.
Dan yang ditunggu siap juga.
__ADS_1
"Ini Dek, baksonya" ucap penjual bakso sambil meletakkan dimeja kecil.
"Nakasih Pak" kata Tia.
"Ayok makan, biar nanti bisa cerita, katanya mau cerita. Aku jadi penasaran aja" kata Fariel.
"Cami yang pimpin doa nya ya" kata Tia, pintanya padaku.
"Kirain minta disuapin makannya" kata Fariel.
"Iiiih, nanti itu terakhiran aja, kalau sudah agak sepi Banyak nyamuk sama lalat berkeliaran" kata Tia.
"Ya dah yuk الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
mari makan" kata Fariel.
Dan kami pun makan, bener-bener ukuran jumbo pesanannya, hingga hampir gak habis.
"Yank abisin nih" kata Fariel, sambil menyodorkan sendoknya kemulut Tia.
Dan Tia hanya menerima saja tanpa mengucapkan kata-kata, hingga dimangkokku beneran habis. Bahkan sampai kutarik mangkoknya biar kusuapin juga hingga punya Tia habis juga.
"Alhamdulillah habis juga".
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْنَ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.
"Amin" ucap kami berdua.
"Masih kurang gak" kata Fariel.
"Uni tuh dah kenyang banget. Kan makan punya Cami juga" kata Tia.
Akupun tersenyum melihatnya yang manja seperti ini.
__ADS_1
"Jadi pengen cepet-cepet dihalalin" kata Tia, dalam hati.