Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Ditembak duluan


__ADS_3

Kami pun menikmati makanan bakso super jumbo.


"Ini bang, kak, pesanannya, silahkan dinikmati, kalau ada yang kurang tinggal panggil saya aja" ucap pegawai warung bakso.


"Iya, makasih" ucap kami bersama.


"Yuk kita makan, keburu nanti dingin kalau kelamaan, ngobrolnya di lanjut nanti lagi" kata Fariel.


"Yuk bang" kata Tia.


"Jangan lupa berdoa" kata Fariel.


"Ok" kata Tia.


Dan kami pun maka menikmati makanan yang telah tersaji dimeja kita, satu porsi berdua.


Setelah beberapa menit menikmati kami lanjut ngobrol sebentar sambil menunggu makanannya turun.


"Itu mulutnya belepotan, di lap dulu, apa mau aku yang ngelapin" kata Fariel, sambil menyodorkan tisu yang sudah disediakan.


Dan Tia pun langsung ambil tisu ngelapin mulutnya sambil menundukan kepalanya, karena mukanya merah karena tawaranku untuk ngelapin mulutnya yang belepotan karena ada sedikit saos yang menempel di sudut bibirnya.


"Sudah bersih, jangan nunduk mulu, ini minumnya, apa perlu kubantu untuk minum" kata Fariel, sambil memberikan minum, dan yang ada hanya gelengan kepala sebagai jawabannya karena malu dengan tawarannya yang buat makin merah tu muka.


"Udah jangan nunduk mulu, pa gak malu diliatin bangku sebelah tuh, dikira aku buat masalah sama kamu" kata Fariel.


Dengan rasa malu dia mengangkat kepalanya padahal mukanya masih merah sambil melirik ke meja depan dan sebelah kanan kiri, karena seperti yang diucapkan orang disebelahnya itu benar.


Akupun pergi sebentar untuk membayar makanannya, kemudian setelah membayar aku balik lagi kemeja.


Kini muka Tia sudah gak merah lagi, bahkan sudah mau membuka suaranya yang mungkin hilang sesaat karena nahan malu.

__ADS_1


"Setelah ini kita kemana lagi bang" kata Tia. sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Terserah, maunya kemana. Aku gak tau mau kemana, karena aku jarang jalan-jalan ke kota ini, jadi gak tau tempat yang menarik" kata Fariel.


"Kalau gitu ke Alun-alun aja, biasanya kalau hari minggu sore banyak yang nongkrong disana" kata Tia.


"Banyak nongkrong orang lagi pacaran, ya kannnn" kata Fariel.


"Mungkin juga iya mungkin juga enggak" kata Tia, dengan senyumannya.


Akupun ikut tersenyum.


"Jadi kekmana" kata Tia.


"Boleh juga kita kesana, yaudah yok berangkat" kata Fariel.


"Ayo" kata Tia, sambil mengambil dompet dimeja makan, terus seperti mengeluarkan uang.


"Kan aku yang ngajakin abang jalan, sekalian mau bilang terimakasih karena pernah bantuin, kenapa malah abang yang bayar" kata Tia.


"Lain kali aja kan bisa traktirnya" kata Fariel.


Tia hanya ngannguk dan kita pun langsung keluar menuju parkiran.


"Yuk naik, sebelum kesorean" kata Fariel.


Tia langsung naik ke motor dan akupun langsung menjalankan motorku ketempat yang dituju. Tia juga langsung melingkarkan tangannya untuk pegangan. Yang mungkin kalau orang lain liat itu seperti sepasang kekasih yang romantis, karena pegangan tangannya yang melingkar di perutnya, dan juga menyenderkan kepalanya kepundak, jadi tambah wow kalau orang lain lihat pasti bikin iri bagi yang melihat, apa lagi yang jomblo yang jiwanya pasti meronta-ronta dan mungkin menghayal kapan bisa begitu.


Dan setelah beberapa menit mengendarai motor, kini sudah sampai ditempat tujuan.


"Duduk dimana nih, kayaknya penuh dengan orang lagi berduaan" kata Fariel.

__ADS_1


"Emmm disana aja, kayaknya ada yang bisa untuk kita duduk" kata Tia.


"Ya udah ayok, tapi kita beli minuman sama cemilan dulu ya" kata Fariel.


"Ya dah ayok" kata Tia.


Dan kita pun langsung berjalan tuk beli minuman dan cemilan. Setelah didapatkan apa yang akan dimakan dan minum kita jalan menuju tempat yang sedikit agak sepi untuk bisa duduk.


Setelah sampai kita langsung mendudukan bo**** kita masing-masing dengan beralasan sandal sambil menatap indahnya danau didepan mata


kita pun kembali ngobrol, dan terkejutnya ketika Tia mengucapkan sesuatu.


"Bang Sielfa, ada yang mau aku omongin ke abang" kata Tia.


"Mau ngomong apaan, tinggal ngomong aja gak usah malu, kaya sama siapa aja" kata Fariel.


Tia menundukkan kepalanya dan berucap.


"Sebenar nya aku tuh suka sama abang dari pertama abang bantuin aku dipasar waktu itu. Apalagi hampir setiap malam kita ngobrol lewat telephon. Aku jadi tambah suka dengan abang. Abang mau gak jadi" kata Tia, dengan menggantungkan ucapannya.


"Jadi apaan, kalau ngomong yang lengkap dong, jangan bikin aku bingung, dan nunduk mulu tuh muka" kata Fariel.


Sebenarnya dia nunduk karena mukanya merah nahan malu karena akan mengucapkan sesuatu.


"Mau gak jadi pacarku, dan jadi calon ayah buat anak-anak kita nanti" kata Tia, sambil mengangkat kepalanya dan memandangi muka ku dengan ucapan sedikit agak keras, sehingga membuat orang yang tidak terlalu jauh dari tempat kita duduk juga mendengarnya, dan membuat mereka kaget karena ada yang sedang menembak, dan yang nembak itu cewek duluan.


"Ahh so sweet banget" ucapan dari mereka yang disebelah kita.


"Terima, terima, terima, terima" itu ucapan dari mereka yang ada disekitar sehingga membuat aku jadi bingung, dan yang nembak juga takut karena cuman dianggap temen nantinya, apalagi dengan adanya mereka yang meneriaki untuk menerimanya, kalau gak diterima kan jadi tambah malu didepan mereka semuanya yang meneriaki. tapi ada juga yang salut sambil mengacungkan jempolnya karena cewek berani nembak duluan ditempat yang ramai ini, dan gak sedikit pula yang membuat cowok iri karena ada cewek cantik yang nembak cowok duluan, apalagi dengan kata-kata yang diucapkan tadi.


"Aku mau jadi pacarmu dan juga calon ayah dari anak-anak kita, tapi" kata Fariel, dengan menggantungkan ucapannya.

__ADS_1


Tunggu di episode selajutnya yaaa.


__ADS_2