Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Bahagia melihat cucu


__ADS_3

Disaat aku tidur dengan Aya ada Papi dan Mami yang melihat kearah kami dengan tersenyum.


"Lihat tuh Pi kelakuan anak-anak kita" kata Mami.


"Kok bisa mereka malah tidur kaya gitu disini, gak dibatasi, kalau tiba-tiba salah meluk kan bahaya" kata Papi.


"Bakal Mami nikahin juga nanti nih kalian" kata Mami.


"Kok bisa-bisanya tidur berempat kaya gitu."


"Kak Fida tidur dikanan nak Fariel, dan Ervi tidur di sebelah Aya."


"Lebih tepatnya malah disebelah nak Fariel."


"Tapi kalau Papi lihat kayaknya mereka cocok ya Mi" kata Papi.


"Tidurnya aja mereka kompakan dan sama."


"Iya sih Pi, tapi kalau Mama dan Bapak nak Fariel tau bakal langsung suruh nikah tuh anak-anak kita" kata Mami.


"Mamanya dan Bapaknya Fariel kan paling gak bisa kalau lihat anaknya tidur bersebelahan atau berjejer sama yang bukan Muhrimnya."


"Iya, kan mereka gak ingin anaknya nanti terbiasa tidur dengan sesuka hati sama lawan jenis, walaupun hanya tidur biasa seperti ini" kata Papi.


"Tapi lihat tuh Pi, cucu kita" kata Mami.


"Lucu banget tidurnya."


"Iya Mi" kata Papi.


"Tidurnya kok malah di dadanya nak fariel kaya gitu, bantalnya malah dipake Ervi buat bantalan."


"Mami lihatnya bahagia banget lihat cucu kita bisa gak rewel kalau tidur siang" kata Mami.

__ADS_1


"Apalagi kalau malam, biasanya suka rewel terus kemarin-kemarin."


"Tapi saat tidur sama nak Fariel malah diem aja gak ada rewel sama sekali, anteng-anteng aja tidurnya kaya itu tidurnya, badannya diatas dada Omnya."


"Mungkin ikatan cucu kita kepada Bak Fariel sangat besar Mi, mungkin juga karena Aya gak punya Ayah yang selalu ada disaat Aya butuh" kata Papi.


"Apalagi yang didengar Aya pertama kali itu suara nak Fariel, kan nak Fariel yang Mengadzani Aya waktu Aya baru lahir."


"Mungkin juga kali ya Pi, makanya langsung dengar suara nak Fariel langsung minta ikut, baru dibilang aja langsung seolah mencari keberadaan nak Fariel si Aya" kata Mami.


"Mami jadi takut kalau nanti nak Fariel harus memilih siapa diantara mereka yang harus dipilih"


"Mami takut kalau milih Ervi Aya bakal sakit-sakitan karena bakal jauh dari nak Fariel yang mungkin dianggap seperti ayahnya"


"Kalau pilih kak Fida karena Aya, kasian Ervi yang hatinya pasti akan sakit dan terpuruk seperti kemarin-kemarin."


"Dan yang paling Mami takutkan Ervi bakal kembali lagi ke jalanan seperti dulu yang suka nongkrong dengan teman-temannya dijalan dan pulang malam."


"Itulah yang Papi takutkan daridulu kepada Ervi" kata Papi.


"Apalagi Ervi suka balapan juga kalau malam, Papi takut kehilangan anak Papi yang Papi besarkan dari kecil walaupun Ervi bukan anak kandung dan darah daging Papi, tapi Papi menyayanginya seperti anak Papi sendiri"


"Mami juga sama seperti Papi yang menyayangi Ervi seperti anak Mami yang terlahir dari rahim Mami sendiri" kata Mami.


"Bahkan kak Fida selalu mengalah padanya hanya karena ingin Ervi tidak melakukan kesalahan dan berada di jalanan."


"Apa yang bakal kita lakukan Mi kalau nanti nak Fariel bakal meninggalkan salah satu dari mereka yang tak dipilihnya" kata Papi.


"Itu yang sulit untuk kita Pi, Mami tak membayangkan apa yang bakal terjadi nanti, tapi Mami selalu berdoa semoga mereka bisa ikhlas dan ditabahkan hatinya" kata Mami.


"Kalau kak Fida mungkin ngerti dan bisa, tapi kalau soal Aya cucu kita gimana" kata Papi.


"Itu yang bakal sulit Pi" kata Mami.

__ADS_1


"Lebih baik bangunkan kak Fida dan Ervi Pi, dah mau dhuhur nih, kalau nak Fariel biarkan saja dulu, kasian masih pulas gitu, mungkin terlalu lelah dalam beberapa hari ini dalam kerjaanya, ditambah lagi Ervi yang minta ini itu sama nak Fariel."


"Dan dihari ini seharusnya bisa tidur santai malah harus seperti ini nemenin Aya tidur."


"Ya udah kalau gitu Mami bamgunkan kak Fida biar Papi bangunkan Ervi" kata Papi.


"Ya udah ayok Pi" kata Mami.


"Kak, kak Fida bangun dah Adzan Dzuhur, bangun."


"Adek bangun dah Adzan Dzuhur" kata Papi.


"Jangan ribut dan diem kasian Aya sama masmu masih tidur lelap, biarkan tidur dulu, nanti sejam lagi baru Papi bangunkan sekarang kamu bangun dan Shalat."


"Hemmm Iya Pi" kata Ervi, sambil merentangkan tangan dan menguap.


"Kakak ayok bangun dah Adzan nih" kata Mami.


"Bentar lagi Mi, masih ngantuk" kata Fida.


"Aya juga masih bobo."


"Tidurnya lanjut nanti sehabis Shalat dikamar" kata Mami.


"Iya Mi" kata Fida.


"Ayok bangun" kata Mami.


"Biarkan Aya sama Uda tidur, mereka masih ngantuk dan lelah."


"Sekarang kalian Shalat, kalau masih ngantuk dan ingin tidur lagi, tidur dikamar masing-masing, jangan tidur seperti ini lagi, kalian gak ada ikatan apapun."


"Yuk sekarang kekamar masing-masing."

__ADS_1


Mereka langsung pergi menuju kamar mereka masing-masing, dan hanya tersisa aku dan Aya yang masih tidur nyenyak didepan TV, dengan posisi Aya diatas dadaku yang gak tau kenapa tiba-tiba tidurnya jadi seperti ini.


__ADS_2