
Kini sampai lah ditempat acara pesta pernikahan, tak lupa bayak para wartawan yang mencoba bertanya padaku ataupun Mami tentang ini tentang hubungan pernikahan. Aku dan Mami hanya menjawab dengan senyuman lalu masuk kedalam dengan tangan Mami yang berada di lenganku yang ku gandeng.
Acara ijab sudah dilaksanakan sejam yang tadi, kini mereka yang sudah menjadi sepasang suami-istri berada diplaminan untuk menyambut para tamu yang datang dan yang meminta foto bersama.
"Kita duduk aja dulu yuk nak" kata Mami.
"Iya boleh Mi, ayok, mau dimana kita duduknya" kata Fariel.
"Disana aja, sambil menunggu yang lain datang, kayaknya masih dijalan" kata Mami.
"Kayaknya sih Mi, yaudah ayok kita kesana Mi" kata Fariel.
Kita pun berjalan menuju tempat duduk, baru saja duduk sudah ada yang menawarkan minum.
"Mau minum apa, kopi atau teh, atau minuman dingin yang lain."
"Anak saya gak bisa minum teh, dan kopi yang tanpa gula, kalau ada boleh kopi tanpa gula, atau putih biasa aja" kata Mami.
"Yang ada aja mas, putih gak papa, gak usah minuman yang dingin, biasa aja" kata Fariel.
"Baik nanti kami buatkan kopi tanpa gulanya."
"Ibu mau minum apa."
"Apa aja boleh, asal jangan manis gula" kata Mami.
"Dah tua gak bisa minum kebanyakan gula."
"Baik kalau gitu teh tawar aja ya Bu."
"Iya silahkan" kata Mami.
"Kalau gitu saya permisi."
"Iya mas" kata Fariel.
"Mami jangan gitu dong, mereka kan bekerja, jangan gitu, hargailah mereka, kalau Mami ada masalah jangan dibawa ke mereka."
"Mami hanya sebel aja sama keluarga ini" kata Mami.
"Mami minta maaf ya nak."
"Iya Mi, tapi jangan diulangi lagi ya, kita datang buat ngasih selamat sama memberi doa supaya hubungan mereka Sakinah Mawaddah Warahmah, bukan buat masalah" kata Fariel.
"Aku aja dah gak papa kok Mi, dah ikhlas, Mami jagan marah-marah ataupun membenci mereka ya, merak gak tau permasalahan dengan orang tua mereka."
"Iya Mami ngerti, memang anak Mami dah jago nyeramahin Mami kayaknya nih sekarang" kata Mami.
"Hehehehe, maaf Mi, gak ada maksud, hanya biar Mami gak buat masalah makin besar aja" kata Fariel.
"Kita saling memaafkan aja, biar gak punya musuh."
"Kalau gak ada musuh kan hidup kita damai tentram loh Mi."
"Iya Pak Ustad" kata Mami.
Saat sedang mengobrol dengan Mami tiba-tiba ada panggilan yang menyebutkan namaku untuk maju.
"Oke, ini ada sedikit permintaan dari mempelai wanitanya, atau pun keluarga dari memepelai wanita" dengan suara khas mc.
"Oke langsung saja kita sambut orang yang akan saya panggil untuk maju membawakan satu buah lagu ataupun dua lagu."
"Mari langsung saja tanpa berlama-lama kita panggilkan Selfa Akhmad Mufariel untuk segera maju ke panggung untuk melantunkan satu buah lagu."
"Sekali lagi buat yang bernama Sielfa Akhmad Mufariel untuk segera naik ke panggung."
"Kasih tepuk tangan dan dan beri semangat."
Semua orang yang ada didalam langsung melihat kearahku sambil bertepuk tangan dan bilang ayok ayok ayok.
"Sana maju, Mami disini aman gak kemana-mana" kata Mami.
"Tapi Mi" kata Fariel.
"Dah sana, cepetan" kata Mami.
Dengan berat hati aku bangun dari duduk ku dan berjalan kearah panggung yang mengisi acara.
"Oke kasih tepuk tangannya dulu, biar gak grogi disini" MC.
"Bingung mau ngapain disini, saya gak bisa nyanyi" kata Fariel.
"Sapa bilang gak bisa nyanyi, katanya jago, kok" MC.
"Ini permintaan dari memepelai wanita atau bisa dibilang apa yaaa, ya gitu deh."
"Baiklah, tapi nanti dibantu ya" kata Fariel.
Sedangkan MC memberikan jempol padaku.
"Mau lagu apa" MC.
Langsung ku bisikan lagu yang akan kunyanyikan.
"Nari kita sambut lagu yang akan dibawakannya oleh Sielfa Akhmad Mufariel."
Lantunan musik langsung masuk dan aku pun langsung menyanyikan lagu.
Seucap janji yang ku percaya.
Setitik luka dan ku tak kecewa.
Kuharap engkau hidup bahagia.
__ADS_1
Tenang dengannya.
Ku terima saja undanganmu.
Agar engkau tak meragukan diriku.
Maafkan bila ku tak bisa datang.
Menghampirimu.
Tak kan ku jadikan harapan.
Pastikan hilang.
Bertahun lamanya bunga ku puja.
Mekar layu bukan ku tak tau.
Sayang selamat bahagia.
Sayang semoga bahagia.
Teman bahagia mu ku kenang.
Dari lubuk hati yang terdalam.
Dengan penuh bergelimangan.
Rasa kebahagian ku berdoa untukmu.
Bahagialah tetaplah tersenyum.
Arungilah mahligai yang didambakan setiap insannya.
Hingga terpaan badai takkan mampu.
Merobohkan pondasi dari senyum mu.
Jangan pernah menangis.
Ingatlah dimana kebahagian itu.
Di situlah ada senyumnya untukmu.
Ketahuilah cinta tak harus memiliki.
Percayalah.
Ku terima saja undanganmu.
Agar engkau tak meragukan diriku.
Maafkan bila ku tak bisa datang.
Menghampirimu.
Tak kan ku jadikan harapan.
Pastikan hilang.
Bertahun lamanya bunga ku puja.
Mekar layu bukan ku tak tau.
Engkau upakanlah aku.
Canis lupakanlah diriku.
Maaf jika liriknya ada yang kuganti.
Langsung dilanjutkan lagi dengan lagu yang ini sambil berjalan kearah mereka dengan air mata yang mulai membasahi pipi ini.
Ini salahku.
Terlalu memikirkan egoku.
Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku.
Hingga kau pergi tinggalkan aku.
Terlambat sudah.
Kini kau t'lah menemukan dia.
Seseorang yang mampu membuatmu bahagia.
Ku ikhlas kau bersanding dengannya.
Aku titipkan dia.
Lanjutkan perjuanganku 'tuknya.
Bahagiakan dia, kau sayangi dia.
Seperti ku menyayanginya.
Kan kuikhlaskan dia.
Tak pantas ku bersanding dengannya.
Kan kuterima dengan lapang dada.
Aku bukan jodohnya.
__ADS_1
Aku titipkan dia.
Lanjutkan perjuanganku 'tuknya.
Bahagiakan dia, kau sayangi dia.
Seperti ku menyayanginya.
Dan 'kan kuikhlaskan dia.
Tak pantas ku bersanding dengannya.
Kan kuterima dengan lapang dada.
Aku bukan jodohnya, oh-wo-wo.
Oh, aku titipkan dia.
Lanjutkan perjuanganku 'tuknya.
Bahagiakan dia, kau sayangi dia.
Seperti ku menyayanginya.
Kan kuikhlaskan dia.
Tak pantas ku bersanding dengannya.
Dan 'kan kuterima dengan lapang dada.
Aku bukan jodohnya.
Lansung kupeluk tubuh si pria dengan mengucapkan.
"Bahagiakan dia, lindungi, dan sayangilah" kqta Fariel.
"Aku percayakan semuanya sama kamu."
"Jangan pernah membentak ataupun memarahinya."
"Jangan membuatnya meneteskan air mata."
"Buatlah selalu tersenyum bahagia bersamamu."
"Aku yakin kamu bisa dan mampu membimbingnya."
"Selamat menempuh hidup baru."
Dan lanjut memberikan selamat sama Tia, dia juga menagis seperti ku.
"Hapuslah air mata mu" kata Fariel.
"Sayangilah suamimu seperti waktu kau menyayangiku."
"Jangan pernah menolak atau bertengkar dengannya."
"Sekarang dia adalah suamimu yang harus kamu hormati dan kamu turuti."
"Surgamu ada padanya sekarang."
"Selamat dengan hidup barumu."
"Selamat bahagia dengan status yang baru."
Sedangkan Tia hanya menggelengkan kepalanya dengan airmata yang menetes.
"Aku ingin memelukmu mi" kata Tia.
"Ijinkan canis memelukmu, jika ini memang yang terakhir."
"Canis ingin memelukmu untuk terakhir kalinya, jika memang kita tak bisa bersama."
"Maaf gak bisa, hubungan kita tidak boleh ada sebuah sentuhan, kita bukan muhrim" kata Fariel.
"Plis mi, sekali aja, ini yang terakhir" kata Tia.
yang langsung menghamburkan tubuhnya untuk memelukku.
"Gak boleh gini, ada suamimu, kita bedosa" kata Fariel.
"Biarkan ini sebentar saja mi, canis ingin menyimpan pelukan ini sampai nanti" kata Tia.
"Astri lepaskan pelukanmu, jangan bikin malu" kat Tante.
"Astri."
"Canis lepaskan pelukannya" kata Fariel.
Sedangkan Tia malah menggelengkan kepalanya dan terus menangis hingga suara tangisnya hilang dan pelukannya padaku lemah.
Mama Astri langsung menarik badan Tia hingga jatuh dan pingsan.
"Innalillahi" kata Fariel.
"Pergi kamu dari sini, kedatangan mu buat masalah disini" kata Tante.
"Dasar pembawa bencana dan sial."
"Rempatmu bukan disini."
"Pergi kamu dari sini sampah" teriaknya.
Aku yang mendapat usiran langsung turun dari pelaminan dan meletakkan mikropon di lantai panggung dan meninggalkan mereka menuju Mami.
__ADS_1