Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Minta izin


__ADS_3

Setelah makan malam bersama selesai.


"Pi, dan Nak fariel, Mami keatas dulu ya, kalian ngobrol aja dulu, Mami mau nelpon dulu sebentar" kata Mami.


"Iya Mi" Jawab kami berdua bersamaan.


dan Mami pun langsung meninggalkan kami di meja makan.


"Pi apa ada tugas yang perlu aku kerjakan" kata Fariel.


"Gak ada, kerjaan mu akan ada besok di kantor, jadi kalau malam istirahat" kata Papi.


"Iya Pi, tapi apa malam ini aku boleh keluar untuk lebih mengenal tentang usaha minimarket" kata Fariel.


"Coba kamu tanyakan sama Mami aja, kalau Mami ngizinin Papi juga kasih izin" kata Papi.


"Baik Pi. Akan aku coba tanyakan pada Mami" kata Fariel.


"Ya udah tanyakan terus ke Mami di kamar. Soalnya Mamimu kalau dah ngobrol ditelpon sampai lupa waktu, Papi juga mau nonton dulu sebentar" kata Papi.


"Iya Pi" kata Fariel.


Aku pun langsung meninggalkan Papi menuju kamar Mami diatas.


Sampai didepan kamar Mami.


"Tok tok tok tok, Assalamu'alaikum Mi" kata Fariel.


Dan pintu pun terbuka.


"Waalaikumsalam, ada apa Nak" kata Mami, sambil memegang HP yang masih nyala.


"Aku mau minta izin keluar, mau keminimarket, mau tau tentang semuanya apa-apa saja secara rinci" kata Fariel.

__ADS_1


"Uya boleh, tapi jangan malam-malam pulangnya, Mami gak izinin untuk keluar nantinya lagi" kata Mami.


"Iya baik Mi, kalau gitu permisi Assalamu'alaikum" kata Fariel.


"Waalaikumsalam, dah sana Mami mau lanjut ngobrol lagi" kata Mami.


Akupun langsung keluar jalan menuju kamarku untuk mengenakan jaket biar gak masuk angin dan gak kedinginan. Baru beberapa langkah Mami menyampaikan sesuatu padaku.


"Jangan godain pegawai disana disaat kerja, fokus" kata Mami, ucapnya langsung menutup pintu kamarnya.


Dan aku berhenti sejenak karena mendengar ucapan Mami seperti tau tentang hari ini.


"Apa Mami tau tantang tadi siang ya, kok kayak sedang dapat pringatan karena tadi sore godain pegawai mulu, yang sebenarnya cuman iseng ngerjain doang" ucapku dalam hati dan lanjut berjanji menuju kamar.


Setelah didalam kamar langsung kubuka lemari untuk mengambil jaket.


"Loh kok isinya jadi banyak gini di gantungan baju. Perasaan kemaren cuman bajuku doang dan celana itupun hanya beberapa. Lah ini kok hampir penuh ya" ucapku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.


"Jaket ku kemana ya, perasaan tadi pagi kuletakkan disini, apa ada yang ngambil ya" lanjut ku yang melihat disebelah lemari ternyata gak ada jaket yang tergantung, yang memang khusus untuk menggantungkan pakaian yang belum kotor.


"Tapi kok gak ada juga ya, mana cuman satu lagi jaketku. Masa iya keluar mala-malam begini doang, bisa-bisa beku dijalan".


"Apa aku tanya ke Papi dibawah ya".


Langsung keluar kamar menuju ke Papi yang lagi asik nonton.


"Naaf Pi, ganggu sebentar, mau tanya" kata Fariel.


"Iya tanya apaan, apa gak boleh keluar sama Mami" kata Papi, yang masih menatap kearah TV.


"Boleh Pi, tapi bukan itu. Aku mau tanya, kunci motorku kemana ya, sama jaket juga gak ada. Pas buka lemari yang ada hanya baju entah punya siapa yang tergantung" kata Fariel.


"Oh itu. Itu Mami yang ngisi lemarimu, itu untuk kamu pakai. Nanti kalau ada yang gak muat atau ga sesuai bilang sama Papi dan Mami, biar di tuker. Kalau kunci Mami kayaknya yang ambil. Kamu pakai motor yang tadi aja, kuncinya tanyak pada Pak udin, atau keluar sama Pak Udin" kata Papi, ucapnya menjelaskan padaku.

__ADS_1


"Iya Pi, makasih semuanya, permisi" kata Fariel.


Papi hanya ngangguk, dan aku pun langsung balik lagi keatas.


"Baiklah kalau gitu pakai yang ini aja, kayaknya cocok dan hangat" ucapku yang mencoba memakai jaket biasa.


"Wah pas banget, cocok dan hangat" yang sambil mengaca.



"Kalau gitu kek gini aja deh".


Setelah itu langsung keluar kamar dan pamit pada Papi.


"Pi, aku keluar dulu ya" kata Fariel, sambil mencium tangan Papi.


"Iya, hati-hati" kata Papi.


Dan aku langsung keluar rumah dan meminta kunci sama pak Udin.


"Pak, kunci motornya mana, saya mau keluar" kata Fariel.


"Bentar Den, saya ambilin" kata Udin, yang sedang asik ngelapin motor, dan langsung masuk kedalam ngambil kunci.


Dan keluar.


"Ini Den" kata Udin, sambil menyerahkan kunci padaku.


"Kenapa yang ini lagi, yang lain aja. Kunci motorku sama Bapak kan" kata Fariel.


"Gak Den beneran. Kayaknya motor Aden dibawa sama tukang servis langganan untuk diservis. Bapak cuman dipasrahin kunci ini kalau Aden mau pakai, apa mau Bapak antar" kata Udin.


"Ya udah deh ga papa" kata Fariel, pasrah ku karena memang gak ada motorku juga disini, jadi terpaksa pakai ini lagi.

__ADS_1


Langsung ku keluarkan dari garasi dan cabut.


__ADS_2