
Sampai didepan gerbang tempat Ervi kuliah, ternyata Ervi sudah menunggu ku.
"Tadi mami nelpon suruh cepetan jemput adek, emang ada apa ya dek" kata Fariel, yang sudah membuka helmnya.
"Adek juga gak tau mas, tadi hanya disuruh buru-buru untuk pulang sama mami sambil nangis" kata Ervi.
"Mas juga denger Mami sambil nangis tadi, mas kira adek kenapa-kenapa" kata Fariel.
"Ya udah yuk buruan takutnya ada apa-apa di rumah".
"Iya mas" kata Ervi.
"Nih pake dulu helmnya, biar mas yang gak pake gak papa, yang penting adek nyaman dan keselamatan adek yang utama buat mas" kata Fariel, sambil menyerah kan helm yang tadi kukenakan.
Ervi langsung memakainya.
"Yuk naik".
"Pegangan yang kuat ya, biar mas bisa ngebut" kata Fariel.
Ervi langsung berpegangan erat dan menyenderkan badannya pada punggungku. Hanya beberapa menit kini sampai dipintu gerbang rumah yang sudah begitu ramai yang gak tau ada apa yang terjadi. Kitappun langsung turun dari motor dan bertanya pada salah satu dari mereka.
"Maaf, ada apa ya Pak" kata Fariel.
"Menantu atu suami dari Fida meninggal de".
Akupun dan juga Ervi langsung begitu syok mendengar ucapan dari salah satu mereka. kita berdua langsung berlari masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan sekitar.
"Mi" ucap kami berdua.
Mami yang sedang berusaha menenangkan kak Fida.
"Nak" kata Mami, sambil menangis.
"Apa semua ini nyata Mi" kata Ervi.
"Iya nak, tadi Mami dapat kabar kalau suami kakak kamu meninggal saat tugas mengamankan perang antar suku, dan terkena anak panah, dan meninggal dirumah sakit pagi tadi" kata Mami, sambil menangis.
__ADS_1
"Terus jenazahnya Mi" kata Fariel.
"Sedang dalam perjalanan kemari dengan keluarganya juga, karena permintaan kakak kamu untuk dimakamkan disini" kata Mami.
"Kakak yang sabar, ada adek disini yang akan selalu ada buat kakak juga, kakak itu udah seperti kakak aku sendiri" kata Fariel, yang meraih tangannya.
Tapi tiba-tiba Fida pingsan tak sadarkan diri, kami pun langsung panik, Mami langsung memeluk dan menangis yang melihat anaknya tak sadarkan diri.
"Kakak harus kuat, kakak gak boleh kayak gini, ingat kak ada bayi dalam perut kakak yang harus kakak jaga juga kesehatan nya" kata Ervi, sambil memeluk.
"Kakak gak boleh lemah, masih ada Ervi yang akan selalu membantu kakak nantinya merawat anak kakak" sambil menangis.
Aku yang melihat mereka begitu menyangi dan menangis, akupun langsung ikut menangis dengan tanpa suara.
Sedangkan Papi sedang mengurus pemakan atau tempat peristirahatan terakhir buat menantunya.
Setelah beberapa jam kemudian Fida membuka matanya.
"By, hubby, hubbyku, hubby" kata Fida.
"Kak" kata Ervi, sambil menangis.
"Ini semua bohong kan Mi, iyakan dek" kata Fida.
"Kakak, harus ikhlasin" kata Ervi.
"Anak Mami harus kuat, ingat masih ada kami semua yang selalu sayang sama kamu".
"Kamu harus kuat ya nak" kata Mami.
Aku kembali masuk dengan mengatakan.
"Mi, jenazah nya sudah samapai ditempat pemakaman umum, apa mau kesana" kata Fariel.
"Dan sedang di Shalatkan disana, di Masjid terdekat".
"Aku mau lihat hubby ku Mi" kata Fida, yang langsung duduk.
__ADS_1
"Iya nak, ayok, tapi kamu gak boleh nangis seperti ini, ingat pesan suami kamu kemaren, kamu harus tetap kuat gak boleh sedih" kata Mami.
"Kalau masih nangis Mami gak kasih izin kamu kesana, ingat nak masih ada yang harus kamu jagain juga, yaitu bayi dalam kandungan mu".
Fida langsung menghapus air matanya walau masih menangis pelan.
"Ayuk kak biar adek bantu" kata Fariel, yang meraih tangannya.
"Kakak harus ikhlas, kakak gak boleh nangis yang berlebihan, masih ada kita semua yang sayang sama kakak".
"Jalannya pelan-pelan aja kak".
Sampai di tempat pemakaman Fida tak henti-hentinya menangis, bahkan sampai ketika para pelayat sudah mulai sepi Fida tak mau pulang juga, Papi, Mami dan Ervi tak henti-hentinya mengajaknya untuk pulang tapi tetap tak mau hingga kembali pingsan.
"Allahuakbar, Pi Fida Pi" kata Mami, dengan paniknya.
"Nak tolong angkat bawa kemobil" kata Papi.
Akupun langsung mengangkat nya membawa kemobil.
"Bawa kerumah aja Pi" kata Mami.
"Iya Mi, biar ku telponkan dokter" kata Papi.
"Pak bawa pulang aja" yang menyuruh Pak Udin.
Sampai didepan rumah aku langsung kembali mengangkat nya menuju kamar yang ada dibawah sesuai permintaan Mami. Dokter yang ditunggu pun datang.
"Gimana dmDok kondisinya" kata Mami, setelah Dokter mengecek nya.
"Hanya butuh istirahat, dan sedikit trauma, kalau bisa hibur dia jangan sampai merasa sedih hingga membuatnya setres, nanti saya kasih resep buat penguat kandungannya".
"Baik Dok, terimakasih atas waktunya" kata Mami.
"Kalau gitu saya permisi dulu, nanti obatnya diambil aja langsung kerumah aja, biar saya siapkan segala kebutuhannya".
"Baik Dok, mari biar saya antar" kata Papi.
__ADS_1
"Anak Mami harus tabah dan ikhlas" kata Mami, sambil mengelus-elus rambutnya.
Aku langsung keluar menuju kamarku untuk berganti pakaian dengan mandi kilat, yang penting bau keringatku hilang.