
Sampailah sudah didepan rumah yang begitu besar dan mewah.
"Ayok mi turun, kita masuk" kata Tia, yang melihat aku masih diam diatas motor.
"Ayok cami, katanya mau ketemu calon mertua."
"Ah iya" kata Fariel.
"Gak usah takut, gak makan orang, jadi tenang aja" kata Tia.
"Iya, kok grogi ya" kata Fariel, lalu turun dari motor.
"Ayok masuk" kata Tia.
"Iya" kata Fariel, dengan perasaan campur aduk.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam" kata Tia.
"Ayok sini, mereka pasti lagi diruang tengah kalau minggu" kata Tia.
"Iya" kata Fariel, akupun langsung berjalan mengikutinya dari belakang.
"Ma, Pa" kata Tia, teriaknya.
Iyaa, kami di sini, jangan teriak-teriak, ada apa sih" kata Mama.
"Ma, Pa" kata Tia, yang menyalami mereka.
"Ma, Pa, aku mau ngenalin seseorang."
"Siapa" kata Mama.
"Ayok sini" kata Tia.
Akupun langsung kearahnya.
"Ini Ma, Pa, yang mau aku kenalin" kata Tia.
"Assalamu'alaikum Om, Tante" kata Fariel, yang mencoba menyalami tangan Bapaknya Tia lalu ke Mamanya, namun Mamanya gak mau menerima ulran tanganku.
"Waalaikumsalam" kata Papa.
"Sini duduk nak, kalau boleh tau namanya siapa" kata Papa.
"Namanya Sielfa Akhmad Mufariel Pa, Ma" kata Tia.
Akupun langsung duduk.
__ADS_1
"Ada apa kemari" kata Mama.
"Bismillahirrahmanirrahim" kata Fariel, ucapku dalam hati.
"Saya kesini hanya ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga dari Tia."
"Langsung aja tujuannya apa" kata Mama.
"Saya kesini ingin meminta restu dari Om dan Tante untuk hubungan kami berdua" kata Fariel.
"Ohhh, kalau Om sih terserah sama kalian, kan kalian yang akan menjalani nya nanti" kata Papa.
"Emang kamu punya apa" kata Mama.
"Saya gak punya apa-apa untuk saat ini" kata Fariel.
"Pekerjaan kamu apa, sehingga berani datang kemari buat minta restu pada kami" kata Mama.
"Maa" kata Tia.
"Kamu diam, duduk disitu" kata Mama.
"Pekerjaan saya hanya seorang kuli bangunan saja Tante, dan kadang ke kebun juga" kata Fariel.
"Emang Bapak kamu kerjaannya apa" kata Mama.
"Hanya petani biasa tante" kata Fariel.
"Ohhh, bagus, berani ya mau minta restu pada kami untuk membawa anak kami ini, kamu pikir saya akan memberikan padamu, kamu hanya seorang anak petani, dan kerjaan kamu juga hanya kuli, mau ngasih makan anak saya apa nanti" kata Mama.
"Mah" kata Tia.
"Insya-Allah akan saya nafkahi dengan semampu saya dengan uang yang halal untuknya nanti, apapun pekerjaan saya nantinya, yang pasti saya akan siap menafkahi lahir batin" kata Fariel.
"Anak saya gak bakal saya lepasin untuk kamu, karena anak saya sudah saya jodohkan dengan anak teman tante yang sudah punya penghasilan tetap, gak kaya kamu ini" kata Mama.
"Rambut kamu aja seperti itu, bewarna."
"Lebih baik sekarang kamu angkat kaki dari rumah ini, dan satu lagi, jangan pernah datangin Tia anak Tante lagi, dan masih berhubungan lagi, karena Tante gak akan pernah merestui hubungan kalian sampai kapanpun."
"Ma, tapi Astri hanya mau sama dia Ma, Astri hanya ingin hidup bersamanya, Astri gak butuh harta, Astri hanya ingin hidup bahagia dengan cinta Ma" kata Tia.
"Kamu pikir makan pake cinta As, emang dia mampu memberikan seperti yang Mama dan Papamu kasih selama ini, dia hanya seorang kuli dan petani biasa" kata Mama.
"Sekarang kamu masuk kedalam kamarmu." Bentak mama pada Tia.
"Mama bilang masuk" ucapnya keras.
"Astri gak bakal masuk, selama ini Astri selalu nurutin kemauan Mama, tapi kenapa sampai saat ini masih urusan jodoh Mama yang ngatur ma" kata Tia, dengan nada marahnya.
__ADS_1
"Sekarang kamu keluar, karena kamu gak kami terima dikeluarga ini, dan anak Tante akan Tante nikahkan bulan depan dengan anak teman Tante" kata Mama.
"Kamu pikir uang mu cukup buat nguliahkan anak kami sampai lulus nanti."
"Sekarang keluar, pintu terbuka lebar untukmu keluar dari rumah ini, ingat jangan pernah hubungi lagi anak saya."
"Kalau gitu saya pamit Tante" kata Fariel, yang mencoba menyalaminya.
"Gak usah, sana pergi" kata Mama.
"Om, saya permisi" kata Fariel, yang menyalami dan papanya juga menerima uluranku.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam" kata Papa.
"Cami tunggu" kata Tia.
"Astri masuk Mama bilang" kata Mama, sambil memegang tangan nya.
"Kamu pikir kamu mau dikasih makan apa nanti sama dia."
"Mama bilang masuk."
Akupun langsung keluar dengan perasaan luka
"Tunggu sebentar nak" kata Papa.
Akupun berhenti disamping motor lalu berbalik badan.
"Maafkan Tante ta nak, Om gak bisa berbuat apa-apa, kalau memang kalian berjodoh pasti Tuhan akan menyatukan kalian, berdo'alah, Om harap kamu bisa memafkan dan mencoba mengikhlaskan jika nanti kalian gak berjodoh. Hati-hati dijalan, gak usah ngebut-ngebut hanya karena gak dapat restu dari Tante" kata Papa, sambil menepuk-nepuk pundak ku.
"Iya Om, saya akan mencoba menerimanya dengan lapang dada, mungkin Tuhan tidak memberikan kami bersama" kata Fariel.
"Semoga kamu diberikan yang lebih sama Tuhan, dan semoga kamu mendapatkan pengganti yang lebih menyayangi dan menerima kamu apa adanya, Om berharap kamu jangan membenci kami" kata Papa.
"Om sebenarnya senang kalau anak saya bahagia dengan pilihannya, dan Om juga bangga dengan kejujuranmu dan keberanian mu datang kemari dan mengatakan semuanya tanpa menutup-nutupi, Om salut sama kamu."
"Iya Om makasih, maaf kan saya juga Om jika saya datang membuat kalian bertengkar hanya karena hubungan ini" kata Fariel.
"Dah Om maafkan, justru yang banyak salah itu Om, karena telah semena-mena terhadapmu" kata Papa.
"Om harap kamu bisa tabah, dan bisa mengikhlaskan nya buat yang lain, jangan lupa nanti datang ke acara kami, nanti akan Om undang buat kamu datang, Om minta supaya kamu hadir dan mau memberikan anak Om pada yang lain nantinya jika memang benar yang dikatakan barusan, karena Om gak pernah tau tentang ini semua."
"Om berharap kamu juga bisa membuka hati buat yang lain jika nanti ada yang suka denganmu."
"InsyaAllah Om, kalau gitu saya pamit pulang Om, Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan" kata Papa.
__ADS_1
Aku hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu langsung kupasangkan helm di kepalaku dan langsung ku hidupkan motorku dan pergi meninggalkan rumah ini dengan perasaan penuh dengan luka dihati.