
Kuberselanjar dengan santai dibangku gantung yang seperti ayunan ini sambil mendengarkan musik-musik masa kini yang lagi Hits dikalangan anak muda, dan aku juga beberapa kali mengikuti aluanan lagu ini sambil bernyanyi berharap masalah hati cepet selesai dan bisa segera lupa.
Kumengikuti lagu ini dengan penuh semangat berharap hati ini lupa dengan janji yang pernah diucapkan saat bersama dulu.
Mas aku pingin cerito.
Tentang kita berdua.
Wong tuoku ora setuju.
Yen kowe lan aku bersatu.
Kondomu marang aku.
Kuwe bakal berjuang.
Pengengatku marang sliramu.
Ojo sampek salah dalan.
Aku ra mundur dik.
Teguh atimu.
Masio sandaya.
Ra ngerestuiku.
Koyo tepung kanji.
Nong nduwur mejo.
Yen Gusti ngrestui.
Wong tuo biso opo.
Genggemen tanganku.
Kalau kamu ragu.
Optimis wae.
Gusti mboten sare.
"Maaf jika janji kita bersama putus ditengah jalan."
"Jangan tanyakan apa masih ada cinta untuk mu dihati ini."
"Karena sampai saat ini masih sama seperti kemarin yang selalu ada nama mu dihati ini."
"Maaf kalau aku gak bisa menepati janjinya."
__ADS_1
"Dan maaf jika aku harus berusaha melupakanmu dengan cinta yang masih ada."
"Bahagialah dengan pilihan orang tuamu itu."
"Jangan pernah lupakan aku, walaupun kita tak bisa bersatu menjadi sepasang suami istri, tapi kita masih bisa menjadi sahabat."
"Jangan tanya apakah sakit ditinggalkan."
"Karena ini sangat menyakitkan bagiku."
"Hidupku berasa hancur hanya karena cinta kita yang tak direstui ini."
Lalu lanjut lagi dengan mendengar kan lagu ini yang sangat menyakitkan hati bagiku.
Cinta memang tak selama nya bisa indah.
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit.
Begitu yang kurasakan kini.
Perih hatiku tinggal kehancuran.
Tak pernah terbayangkan.
Dan tak pernah terpikirkan.
Cintamu dan cintaku akan berpisah.
Untuk hidupmu agar lebih baik.
Maafkan aku.
Setulus hatimu.
Kepergian diriku itu bukan keinginanku.
Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu.
Jangan bersedih dengan keadaan ini.
Jika kamu menangis.
Aku juga ikut menangis.
Terima saja semua ini kulakukan.
Untukmu.
Maafkan aku.
Setulus hatimu.
__ADS_1
Kepergian diriku itu bukan keinginanku.
Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu.
Oh jangan bersedih dengan keadaan ini.
Jika kamu menangis.
Aku juga ikut menangis.
Terima saja semua ini kulakukan.
Demi kebaikanmu.
Oh jangan bersedih dengan keadaan ini.
Jika kamu menangis.
Aku juga ikut menangis.
Terima saja semua ini kulakukan.
Terima saja semua ini kulakukan.
Untukmu.
Dengan rasa sakit yang ada dihati ini mengingat ucapan yang terlontar dari mulutnya ke padaku saat tak merestui hubunganku ini dengannya hanya karena harta dan pekerjaan ku yang mungkin akan membuat nya menderita tak bahagia.
Kuusap air mata ini yang menetes dipipiku ini, berharap cepat berlalu rasa sakit ini.
Sengan salah satu lengan tangan yang sebagai bantal dan menatap foto yang ada di akun sosial mediaku yang pernah diupload nya, dengan sedikit tersenyum mengingatnya pada saat momen itu, dan air mata yang masih tetap meneteskan dipipi ini tanpa tau kapan akan berhenti.
"Mungkin aku memang harus melupakan mu dengan mencari yang baru sebagai penggantimu yang masih ada dihati."
"Senyum semangatmu dulu kini berubah menjadi luka hatiku."
"Tawamu yang dulu buatku bahagia kini hanya menyisakan lara."
"Sentuhan hangat dan manjamu kini hanya tinggal angan-angan."
"Maaf jika aku berusaha melupakanmu, aku butuh bahagia dan menutup lobang dihati yang lara."
"Tapi aku gak mau kisah ini terulang kembali hanya karena aku anak petani biasa."
"Apakah masih ada kebahagiaan untukku."
"Apa masih ada yang menerima ku dengan tangan terbuka tanpa memandang harta dan tahta."
"Tuhan bantulah hambamu ini yang rapuh hanya karena cinta."
"Aku juga ingin merasakan cinta dan hidup bahagia."
__ADS_1
"Sisakan satu saja untukku yang tak pernah memandang harta dan tahta, aku juga ingin bahagia."