Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Menjadi prioritas


__ADS_3

"Aku juga sering berfikir seperti itu" kata Fida.


"Aku sering merasa bersalah padanya, karena terlalu banyak meminta dan banyak bertingkah juga banyak maunya."


"Apa kita salah jika mengambil ATM Sami."


"Itu juga yang sering kupikirkan" kata Ervi.


"Karena itu juga buat kepentingan Sami untuk keperluan yang lain."


"Kita sudah selalu dapat tiap bulannya."


"Dia hanya menyisakan sedikit buat kepentingan yang saat nanti Sami perlu."


"Tadi aja dia beli banyak banget buat Aya" kata Fida.


"Sekitar tiga kantong plastik."


"Pasti habis banyak."


"Aku juga tadi meminta sesuatu padanya saat lagi belanja sama Aya, minta buah" kata Ervi.


"Aku takut Sami jadi tertekan karena kita ini" kata Fida.


"Apalagi tadi bilang sampai harus ngutang dulu buat bayar, karena enggak cukup uangnya di ATM."


"Aku jadi makin bersalah."


"Kan kemarin ATMnya kita pakai buat beli tas sama baju, terus dikirim buat Mama sama Bapak" kata Ervi.


"Kayaknya kita sisain memang hanya beberapa deh, enggak sampe sejuta yang ATM biasa dibawa Sami itu."


"Apa kita balikin aja ya" kata Fida.


"Lagian juga kita enggak terlalu memerlukannya."


"Kita juga dah punya masing-masing."


"Iya nanti kita kembalikan aja" kata Ervi.


"Aku takut malah nanti Sami kita jadi merasa tak dihargai kerja kerasnya selama ini, dia juga butuh buat apa yang dimau."

__ADS_1


"Enggak usah, itu kalian pegang aja, aku enggak perlu" kata Fariel.


"Yang penting kalian selalu sehat, bahagia, itu dah cukup buatku."


"Jadi Sami daritadi enggak tidur" kata Ervi.


"Enggak, hanya merem doang" kata Fariel.


"Berarti dengar dong" kata Fida.


"Enggak juga" kata Fariel.


"Cuman nyimak."


"Sama aja" kata Fida dan Ervi.


"Makasih dah diperhatikan sama kalian" kata Fariel.


"Aku orang yang paling beruntung dibumi ini pastinya, memiliki dua wanita cantik yang selalu menyayangiku dan keluargaku."


"Selalu perhatian, selalu nurut sama Sami saat Sami minta sesuatu, contohnya seperti sekarang ini, minta dipijit."


"Kalian memang Sanis aku yang paling baik dan kusayangi."


"Jangan pernah tinggalin aku sendiri, karena aku enggak akan sanggup jika tanpa kalian disampingku."


"Enggak usah mulai gombalnya Mi" kata Fida.


"Iya, biasa aja" kata Ervi.


"Enggak gombal, ini itu serius, bukan rangkaian kata-kata, atau puisi, tapi inilah perasaan yang ada dalam diriku, ada dalam hati" kata Fariel.


"Gombalan akan kalah dengan yang tulus dengan adanya bukti."


"Kata-kata sebagus apapun dan mutiara secantik apapun akan kalah jika dibandingkan dengan bukti."


"Semua enggak ada apa-apanya jika adanya bukti, enggak akan ada harganya jika bukti itu nyata dan ada."


"Iya" kata FidaFida dan Ervi.


"Aku serius" kata Fariel.

__ADS_1


"Sejak dari saat penghulu menjabat tanganku dan aku mengucapakan terima, lalu saksi mengatakan sah, dari situlah semuanya bermula."


"Sayang yang sebenarnya, cinta yang sebenarnya, dan sekarang ini adalah buktinya kalau aku selalu hanya untuk kalian dan keluarga kita."


"Mau kalian memintaku untuk menukar dengan yang lain, aku enggak bisa, karena kalian tak ada harga dan ukuran buat ditukar dengan apapun."


"Kalian segalanya lebih dari segalanya kecuali orang yang melahirkan kita, itu tak bisa untuk memilih antara kalian atau orang tua, karena sama berharganya buat kita."


"Kalian boleh marah dan cemburu saat Sami kalian dekat dengan cewek lain, tapi jangan terlalu cemburu, nanti yang ada akan membuat jadi sakit hati, karena hanya kalian yang ada disetiap langkahku, doaku dan juga dalam perjuanganku untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan kalian agar selalu bahagia bersamaku."


"Makasih Mi" kata Ervi.


"Makasih dah buat kita jadi prioritasmu dalam hidupmu" kata Fida.


"Maaf telah buat Sami jadi capek karena banyak permintaan dari kita."


"Iya, Aku juga minta maaf Mi" kata Ervi.


"Pasti Sami capek kalau harus nurutin segala hal yang kita mau setiap harinya."


"Capek itu akan hilang saat melihat kalian senyum, walaupun ada sedikit cemberut karena ulahku yang suka usil sama kalian" kata Fariel.


"Makasih buat hari ini dah mau mijitin."


"Iya Mi" kata Fida dan Ervi.


"Aku ingin dipangku oleh kalian sambil dipijit kaki dan tanganku" kata Fariel.


"Apa boleh."


"Tentu boleh kok Mi" kata Ervi.


"Apapun boleh" kata Fida.


"Karena semua yang Sami minta harus kami penuhi."


"Makasih" kata Fariel.


"Ya dah sini kepalanya dipahaku" kata Ervi.


"Biar kakinya dipangkuanku" kata Fida.

__ADS_1


__ADS_2