
"Maaf, itu sudah berakhir panggilan kita itu" kata Fariel.
"Kita memang harus iklas untuk berpisah."
"Aku selalu berdoa semoga kamu diberikan kebahagiaan."
"Tapi canis gak mau ini berakhir" kata Tia.
"Canis gak mau hubungan kita berakhir."
"Canis gak mau."
"Canis gak mau mi."
"Canis gak rela bila kita berpisah."
"Canis gak rela."
"Canis gak iklhas bila berpisah."
"Sampai kapanpun canis gak mau hubungan kita berpisah."
"Panggil aku canis lagi mi."
"Panggil aku canis."
"Iya canis, ehh" kata Fariel, yang keceplosan.
"Canis kangen dengan suara panggilan itu, panggil canis lagi mi" kata Tia.
"Panggil dengan panggilan canis mi."
"Canis mau denger lagu mi."
"Gak bisa, maafkan aku" kat Fariel, dengan meneteskan airmata.
"Aku beneran gak bisa."
"Aku gak mau lagi."
"Aku gak ingin mengingat panggilan itu lagi."
"Aku gak mau" dengan meneteskan air mata.
"Kenapa cami menangis kalau cami gak bisa" kata Tia.
"Canis yakin cami masih sayang sama canis."
"Masih menginginkan canis."
"Masih berharap kita kan bersama lagi."
"Canis yakin itu."
"Yang sabar nak, harus kuat" kata Mami, yang menepuk-nepuk punggungku karena aku menangis.
"Ikhlas kan lah."
"Jangan buat dosa dengan mudah."
__ADS_1
"Mi, dengarin canis mi" kata Tia.
"Canis ingin bicara sama cami."
"Canis ingin melepas rindu ini mi."
"Canis ingin melepaskan rindu dengan melihat senyum cami."
"Ingin memeluk cami."
"Ingin dimanja cami."
"Ingin makan sepiring berdua dengan cami."
"Ingin disuapi cami lagi."
"Ingin membuat momen itu lagi."
"Ingin selalu bersama cami kemanapun cami pergi."
"Mi, canis kangen pelukanmu mmi."
"Kangen dengan candaan dan kata-kata cinta cami."
"Kangen gombalan-gombalan cami lagi."
"Kangen dipanggil sayang."
"Dipanggil ratu."
"Dipanggil bidadari."
"Aku kangen itu semua mi."
"Kangen saat di gendong cami."
"Naik berboncengan dengan cami."
"Kangen jalan-jalan berdua."
"Makan berdua, menikmati masakan canis lagi."
"Kangen dijemput di kos lagi."
"Kangen mi."
"Canis sangat kangen."
"Aku gak bisa, maaf" kata Fariel.
"Aku gak bisa, takan bisa."
"Ma af."
"Mana gombalan cami yang dulu yang suka bilang gak lucu" kata Tia.
"Yang lucu hanya anak-anak kita nanti."
"Mana ucapan kangen cami pada canis."
__ADS_1
"Mana ucapan yang melarang canis buat rindu, karena rindu itu berat, kamu gak akan kuat."
"Mana mi mana, kata-kata itu, kemana."
"Cami pernah berjanji akan selalu berjuang buat canis."
"Akan selalu ada buat canis."
"Cami pernah bilang akan menikahi canis, dan hidup bersama anak-anak kita nanti, mana mi bukti dari janji itu mi mana."
"Semuanya telah berlalu" kata Fariel.
"Semuanya sudah hilang."
"Jangan diingatkan lagi."
"Biarlah yang lalu biar berlalu."
"Biarkan semuanya hilang terbawa angin, hingga lupa kalau kita pernah bersama dan musnah."
"Gak mi, gak" kata Tia.
"Itu akan tetap ada."
"Itu takan hilang."
"Takan pernah musnah."
"Canis gak ingin itu dihilangkan dan musnah."
"Canis masih menginginkan cami."
"Canis akan menunggu cami datang lagi."
"Canis akan selalu menungu cami."
"Canis gak akan pernah menikah dengan siapapun kecuali dengan cami."
"Canis akan menunggu cami datang."
"Canis akan menunggu."
"Jangan seperti itu" kata Fariel.
"Menikahlah besok, itu hari bahagiamu dengan nya."
"Gak mi, canis gak maju menikah dengan yang lain" kata Tia.
"Itu takan pernah terjadi."
"Jika itu terjadi lebih baik aku pergi dan mati."
"Jangan katakan seperti itu" kata Fariel.
"Jangan mendahului ajal, itu gak baik, itu berdosa."
"Lebih baik aku berdosa daripada hidup menderita" kata Tia.
"Tidurlah, besok hari bahagia kalian" kata Fariel.
__ADS_1
"Gak mau mi, canis gak mau." kata Tia.