
"Oke Sanisku yang cantik" kata Fariel.
Lalu pergi, tapi sebelum pergi tak lupa mencubit pipi kanan dan kirinya yang mulai berisi dan lalu hidungnya.
"Ihh suka banget sekarang nyubit pipi sama hidung deh" kata Ervi.
"Abis gemes sih, hehehehehe" kata Fariel, lalu masuk kedalam buat cuci muka.
Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh ceria, tapi berbeda dengan Ervi yang cemberut karena habis kucubit pipi gemesnya.
"Kenapa tuh muka ditekuk begitu" kata Fariel, sambil mencoba merih pipi tembemnya.
"Jangan nyubit ih" kata Ervi.
"Bis enak sih kaya bakpao pipimu sekarang" kata Fariel.
"Jadi pengen tak cubit lalu tak elus-elus."
"Kalau dicubit jangan" kata Ervi.
"Tapi kalau mau dielus-elus lalu dicium boleh, bebas kapanpun Sami mau."
"Ini pipi punya rasa sakit kalau dicubit, tapi akan terasa enak kalau dielus dengan lembut dan cium sama Sami" kata Ervi.
"Mana pakaianku" kata Fariel.
"Tuh diatas kasur" kata Ervi.
"Hah" kata Fariel.
"Enggak salah ini, harus pakai ini."
"Enggak salah, kenapa" kata Ervi.
"Masa ada gambar kek gini" kata Fariel.
"Ini cocoknya buat cewek, masa Sami yang pake."
"Tadi Sami dah janji mau dihukum kan, apapun itu" kata Ervi.
"Kalau sayang harus dipakai, enggak boleh nolak."
"Kalau enggak sayang bebas mau pakai yang mana pilih sendiri "
__ADS_1
"Tapi" kata Fariel.
"Aku mau keluar makan" dengan muka cemberut dan lalu keluar dari kamar meninggalkanku sendirian.
"Masa iya harus pakek ini" kata Fariel.
"Bukannya enggak sayang tapi, ah masa bodo ah dengan pakaian ini."
"Daripada nanti malah tidur digarasi dan dicuekin terus, lebih baik kupakai demi menuruti kemauamu."
"Akan kupakai agar kau bahagia dan kembali tersenyum lagi tak cemberut lagi."
Langsung kupakai semuanya apa yang ada didisini baju dan celana.
"Apa ini juga harus kupakai juga" kata Fariel, sambil mengangkat bandu ping dengan ada kuping kelinci yang bisa bergerak dan ada lampunya kerlap-kerlip.
"Pake aja lah, daripada nanti masih cemberut karena ada yang kurang "
"Coba ngaca dulu."
"Ini kalau pake gincu sama merahin pipinya mungkin dah kaya yang dipinggir jalan nih."
"Yuk ses marii" dengan gaya tangan melambai.
"Cucok" lalu cabut dari kamar dan keluar untuk turun sarapan pagi.
Baru kubuka pintu dan kututup, ada yang sedang tertawa dengan terbahak-bahak. Siapa lagi kalau bukan Ervi, si Istriku ini.
"Hahahahahahahahahahahahaha" kata Ervi.
"Sami lucu deh."
"Ihhh sebel, sebel sebel" kata Fariel, dengan gayanya Ervi kalau lagi ngambek.
"Hahahahahaha" kata Ervi.
"Lucu, dan pas Mi."
"Asli mirip kaya yang diterminal, ditempat salon."
"Yuk ah ses, eike laper tau" kata Fariel, sambil menggandeng tangan Ervi.
"Hahahaha, lucu Sami begini" kata Ervi.
__ADS_1
"Itu kenapa dipakai banduku Mi, pake dinyalakan pula lagi lampunya."
"Daripada nanti enggak kupakai ternyata harus dipakai, entar dikira enggak sayang lagi, karena enggak nurutin kemauan Sanisku ini" kata Fariel.
"Yuk Ah."
"Ayok" kata Ervi.
"Capcus ya jeng, mariii" kata Fariel.
"Hahahaha, makin lucu aja Sami ini" kata Ervi.
"Ayok jeng."
"Bertar jeng, ada yang kurang dikit."
"Apaan" kata Fariel.
"Diem aja, enggak usah gerak" kata Ervi, langsung mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya
"Majuin bibirnya."
Langsung kumajuin seperti yang diminta. Dan Ervi langsung memakai kan lipstik merah muda pada bibirku.
"Giniin Mi" kata Ervi, dengan mencontohkan bibirnya.
Kuikuti aja, daripada nanti hilang cerianya karena menolak kemauannya.
"Dah kan jeng" kata Fariel.
"Gimana penampilanku jeng, dah membahana atau membahayakan."
"Cantik banget, persis cewek tulen Mi" kata Ervi.
"Coba muter."
"Ihhh cucok dong ya jeng" kata Fariel, lalu muter.
"Yuk ah, capcus."
"Hayuk" kata Ervi.
Kami langsung turun kebawah untuk sarapan bersama, dan disana juga sudah pasti sudah menunggu kami untuk sarapan bersama seperti biasanya.
__ADS_1
Sampai disana sudah pasti mereka langsung matanya tertuju pada kami, alias aku. Karena pakaian yang kukenakan tak seperti pada umumnya, lebih keliatan seperti cewek mungkin dengan pakaian seperti ini, atau cewek tomboy kali ya dengan rambut pendek dan memakai Bandu kerlap-kerlip.